Oleh: Pudji Pratitis Wismantara, S.T., M.T.
Arsitektur selalu menyimpan makna di balik simbol yang ditampilkannya. Simbol merupakan pemadatan pemikiran manusia dan masyarakat tentang semesta, Tuhan, dan cara hidupnya. Melalui simbol, manusia mengenal, memahami, dan menempatkan diri dalam ruang hunian yang ia tinggali.
Dalam konteks arsitektur masjid, sistem simbol memiliki peran sentral sebagai media dakwah dan syi’ar Islam. Bentuk, ruang, dan ornamen bukan sekadar elemen fisik, tetapi juga pembawa pesan nilai keislaman yang kontekstual dengan budaya setempat. Masjid Jami di Jawa yang berdiri sekarang merupakan pelanjut dari konsep arsitektur yang lebih tua. Menelusuri simbolismenya berarti menelusuri perkembangan pemahaman masyarakat muslim pesantren tentang relasi manusia dengan Tuhan dan sesama beserta lingkungan alamnya.
Pertanyaan yang mendasar adalah bagaimana makna simbol arsitektur tersebut dipahami dan dirawat dalam ruang dan waktu yang berubah. Pelestarian tidak cukup berhenti pada bentuk fisik bangunan. Yang lebih penting adalah menyambungkan kembali makna budaya di balik simbol itu agar dapat menjadi pelajaran dan rujukan bagi pengelolaan ruang hidup yang adil dan seimbang di masa kini dan masa depan.
Artikel ini membaca Masjid Jami di Jawa melalui konsep “integrasi habluminallah dan habluminannas” dan “Tingkatan Jiwa Manusia”. Pembacaan ini bertujuan merekonstruksi simbolisme arsitekturnya berdasarkan nilai-nilai sosial-budaya muslim setempat. Dengan memahami alur perkembangan simbol tersebut, pengembangan masjid di masa mendatang dapat diarahkan secara tepat, sehingga pelestarian arsitektur muslim menjadi bagian dari pelestarian identitas budaya Indonesia secara utuh.
Konsep Takamul Habluminallah wal Habluminannas
Pada awal pembangunannya, Masjid Jami di Jawa membagi ruang utama menjadi dua bagian: bilik dan serambi. Bilik berfungsi sebagai ruang shalat utama yang merepresentasikan habluminallah, yaitu hubungan vertikal manusia dengan Allah. Sementara serambi berfungsi sebagai ruang kegiatan sosial yang merepresentasikan habluminannas, yaitu hubungan horizontal manusia dengan sesama dan alam.
Pembagian ruang ini mencerminkan misi manusia sebagai khalifatullah di bumi. Manusia diberi akal dan tugas untuk memakmurkan bumi serta menjadi rahmatan lil ‘alamin. Untuk menjalankan misi tersebut, manusia perlu menjaga keseimbangan dua tanggung jawab utama: keterikatan dengan Sang Pencipta melalui shalat, dan kelekatan dengan lingkungan melalui amal kebajikan.
Semakin kuat koneksi seseorang dengan Rabb-nya, semakin ia mampu menghayati nilai-nilai Ketuhanan. Penghayatan itu kemudian diwujudkan dalam tindakan nyata di lingkungan sosial, sehingga menghasilkan kebaikan dan kemanfaatan bagi seluruh makhluk.

Gambar 1: Ilustrasi Konsep Habluminallah-Habluminannas pada arsitektur masjid jami di Jawa.
Sumber: hasil analisis (2026)
Dengan demikian, bilik dan serambi membentuk satu kesatuan ruang yang utuh. Kesatuan ini menyimbolkan bahwa penghayatan nilai-nilai Keilahian harus ditindaklanjuti dengan amal kebajikan. Tujuannya adalah mencapai kemaslahatan (baik dan manfaat) dan keselamatan bersama bagi manusia dan alam.
Konsep Tingkatan Jiwa Manusia
Empat sakaguru (tiang utama) yang menopang atap tajug merupakan wujud simbolik dari perpaduan konsep setempat dan Islam. Struktur ini merepresentasikan konsep Jawa sedulur papat kalima pancer dan konsep tasawuf tentang tujuh tingkatan nafsu. Empat sakaguru melambangkan empat nafsu dasar, sedangkan atap tajug susun tiga melambangkan tiga nafsu kemuliaan dengan perjenjangan level.

Gambar 2: Ilustrasi Konsep Tingkatan Jiwa Manusia pada arsitektur masjid awal di Jawa.
Sumber: hasil analisis (2026)
Konsep sedulur papat kalima pancer berarti “empat saudara dan kelima adalah pusatnya”. Manusia sejak lahir didampingi empat unsur kekuatan spiritual yang disebut sedulur papat, dan dipusatkan pada kesadaran diri atau pancer. Keempat unsur itu adalah Amarah yang bersumber dari unsur api, Lawwamah dari unsur tanah, Supiyah dari unsur angin, dan Mutmainnah dari unsur air. Falsafah ini mengajarkan bahwa manusia harus mengendalikan dan menyelaraskan keempat nafsu dasar tersebut agar berada di bawah kendali akal dan kesadaran diri.
Dalam tasawuf, tujuh tingkatan nafsu merupakan tangga spiritual menuju kesucian hati dan kedekatan dengan Allah SWT. Tingkatan itu dimulai dari Nafsu Amarah yang cenderung pada keburukan, Nafsu Lawwamah yang mulai sadar tetapi masih sering jatuh dalam dosa, hingga Nafsu Mulhamah dan Muthmainnah yang mulai tenang dan menerima ilham kebaikan. Puncaknya adalah Nafsu Radhiah, Mardhiah, dan Kamilah, yaitu jiwa yang ridha, diridhai Allah, dan telah sempurna dengan sifat-sifat ketuhanan.
Makna yang dihadirkan adalah bahwa manusia harus menggunakan kemampuan intelektual dan spiritualnya untuk memperbaiki diri. Proses itu dilakukan dengan mengatasi nafsu, ego, dan kemelekatan duniawi, serta terus meruhanikan diri. Tujuan akhirnya adalah mencapai Kesadaran Sejati dan menjadi Insan Kamil.
Kesimpulan
Arsitektur Masjid Jami di Jawa menunjukkan bahwa simbol bukan sekadar bentuk fisik, melainkan pembawa makna yang ada di balik tampilan fisiknya. Dengan demikian, pelestarian dan pembaharuan Masjid Jami tidak cukup dilakukan pada aspek fisiknya saja. Pemahaman terhadap makna simbolik di balik bentuk dan ruangnya penting agar pengembangan masjid di masa depan tetap selaras dengan nilai keislaman dan budaya setempat. Melalui pembacaan ini, arsitektur masjid dapat berfungsi sebagai rujukan pengelolaan ruang hidup yang seimbang dan adil, sekaligus memperkuat identitas budaya muslim Indonesia yang Islami.





