MIU Login

Dari Puing Menuju Harapan: Merancang Hunian Sementara Pasca-Erupsi Semeru

Oleh: Ana Ziyadatul Husna

Dosen Prodi Teknik Arsitektur, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Indonesia.

Tulisan berikut adalah versi populer dari artikel jurnal: Husna, A.Z., Mappaturi, A.B., Bahar, M.A., Wismantara, P.P., & Rahman, H. (2025). Designing with local materials: toward sustainable temporary housing after the 2021 Mount Semeru eruption in Indonesia. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 1574, 012026. https://doi.org/10.1088/1755-1315/1574/1/012026

 

Desember 2021. Hari itu masih berjalan seperti biasa di lereng Semeru, sampai tiba-tiba semuanya berubah. Awan panas turun, abu vulkanik menyapu apa saja yang dilewatinya, dan dalam hitungan jam, hampir 3.000 rumah rata dengan tanah. Bukan cuma bangunan yang hilang, melainkan juga ruang berkehidupan manusia. Ada dapur tempat untuk masak sambil mengobrol, kamar tempat anak-anak tumbuh, halaman tempat tetangga saling menyapa. Semua itu lenyap begitu saja, menyisakan masyarakat yang harus tinggal di pengungsian seadanya sambil menunggu kejelasan: mau tinggal di mana, dan rumah seperti apa yang bisa mereka bangun lagi.

Di titik inilah arsitektur dihadapkan pada perannya yang paling mendasar. Bukan soal gambar yang indah atau bangunan yang megah, melainkan pertanyaan yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih berat: bagaimana caranya membangun rumah secepat mungkin, dari bahan yang tersedia, tanpa menambah beban baru bagi lingkungan yang sudah terluka?

Semua mudah diucapkan, namun tidak mudah dilakukan. Pasca bencana hampir semua akses terputus, rusak parah. Truk pengangkut material dari luar daerah kesulitan untuk mengakses, sementara masyarakat membutuhkan tempat berlindung secepatnya, bukan minggu depan, apalagi bulan depan. Dalam kondisi seperti itu, memanfaatkan material yang tersedia di sekitar lokasi menjadi pilihan yang paling realistis, salah satu material yang paling menjanjikan adalah bambu.

Kenapa bambu? Coba bandingkan dengan kayu jenis lain yang butuh puluhan tahun untuk siap tebang. Bambu hanya butuh waktu tiga hingga lima tahun untuk siap digunakan, sehingga bisa terus diperbarui tanpa merusak lahan secara berlebihan. Bambu juga ringan namun kuat, lentur terhadap guncangan, dan proses pengolahannya sederhana serta hemat energi. Sejumlah riset bahkan menyebut bambu bisa menghemat energi hingga 60 persen dibandingkan material konvensional seperti beton atau baja.

Namun yang paling menarik bukan sekadar soal teknis. Hampir semua masyarakat di sana, dari generasi tua hingga muda, sudah mengenal cara mengolah bambu sejak kecil. Mereka bisa ikut serta secara langsung dalam membangun rumahnya sendiri, bukan sekadar menjadi penonton saat pihak luar datang membawa proyek lalu pergi begitu saja. Ada rasa memiliki yang tumbuh dari situ, sesuatu yang sulit didapatkan jika rumah hanya dibangun oleh tangan-tangan yang bukan penghuninya.

Meski begitu, bambu bukan tanpa kelemahan. Ia rentan terhadap kelembapan dan serangan hama jika tidak diolah dan dirawat dengan tepat, terlebih di iklim tropis seperti Indonesia yang curah hujannya datang tanpa banyak aba-aba. Karena itu, penelitian ini tidak mengandalkan bambu sendirian. Bambu dipadukan dengan galvalum, semacam lembaran seng dengan lapisan antikarat, dan rangka baja ringan yang biasa disebut light steel framing (LSF).

Galvalum unggul dalam ketahanannya terhadap karat, jauh lebih awet dibanding seng biasa. Permukaannya yang reflektif juga membantu memantulkan panas matahari, sehingga rumah tidak berubah menjadi oven di siang hari. Sementara itu, LSF menawarkan struktur yang presisi, ringan, namun tetap kokoh, dan yang tak kalah penting, bisa dirakit dengan cepat karena komponennya sudah dipotong dan dibentuk lebih dulu di pabrik. Sesampainya di lokasi, tinggal dipasang layaknya menyusun kepingan puzzle.

Rumah hasil rancangan ini berukuran 4,5 x 4,5 meter, cukup untuk memenuhi kebutuhan satu keluarga kecil. Terdiri dari satu kamar tidur, ruang keluarga, kamar mandi, dapur, teras, serta sepetak kecil ruang hijau di depan agar rumah tidak terasa gersang. Yang membuat desain ini istimewa terletak pada dindingnya, yang dirancang dalam lima jenis panel modular yang bisa dibongkar pasang sesuai fungsi ruangnya. Panel di kamar mandi dan dapur menggunakan galvalum penuh untuk menahan kelembapan. Panel di ruang tamu dan kamar tidur memadukan galvalum, bambu, dan kaca, agar cahaya matahari bisa masuk maksimal tanpa harus menyalakan lampu di siang hari. Sekat dalam rumah menggunakan anyaman bambu, yang selain menghadirkan kehangatan dan tekstur lokal, juga membuat udara lebih mudah mengalir sehingga ruangan tidak terasa pengap.

Bagian yang paling menarik dari sistem ini adalah sifatnya yang tidak sekali pakai lalu dibuang. Karena panelnya modular, rumah ini bisa diubah, diperluas, atau dipindah komponennya kelak ketika keluarga tersebut sudah siap membangun rumah permanen. Dengan begitu, huntara ini bukan solusi darurat yang berujung menjadi sampah, melainkan langkah awal menuju hunian yang lebih layak dan lebih tahan lama, selaras dengan prinsip ekonomi sirkular dan cita-cita permukiman yang aman serta berkelanjutan bagi semua orang.

Penelitian ini memang masih berada pada tahap rancangan konsep dan belum diuji langsung di lapangan. Namun gagasan di baliknya menyimpan pelajaran penting untuk kita renungkan bersama. Membangun kembali setelah bencana bukan sekadar soal siapa yang paling cepat mendirikan atap. Ini adalah soal bagaimana merancang dengan apa yang tersisa, melibatkan tangan-tangan yang justru paling merasakan kehilangan, dan menumbuhkan harapan baru dari material yang tumbuh di tanah yang sama, tempat mereka dulu pernah kehilangan segalanya.

Barangkali, di situlah arsitektur menemukan makna paling dalamnya. Bukan sekadar membangun ruang untuk berteduh dari hujan dan panas, melainkan turut membangun kembali keyakinan bahwa hidup masih bisa dimulai lagi, bahkan dari sisa-sisa yang tampak tak berdaya.

Berita Terkait

Artikel Terkait