Oleh: Yulia Eka Putrie
Dosen Prodi Teknik Arsitektur, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Indonesia.
Pernahkah kita merasa begitu akrab dengan sebuah masjid, sehingga ketika memasuki masjid lain muncul perasaan “ada yang beda”, meskipun kita tidak segera tahu apa yang berbeda? Mungkin mimbarnya tampak tidak seperti yang biasa kita lihat. Mungkin tidak ada bedug yang selama ini menjadi penanda waktu shalat. Mungkin posisi ruang shalat perempuan berbeda dari yang kita kenal. Atau justru tidak ada satu pun elemen yang benar-benar mencolok. Namun, hanya dalam beberapa menit, kita sering kali sudah dapat merasakan apakah masjid itu terasa akrab, asing, atau sekadar berbeda. Perasaan itu muncul begitu saja, seolah-olah ruang tersebut sedang “berbicara” kepada kita, meskipun kita tidak pernah benar-benar menyadari bahasa yang digunakannya.
Sebagian orang mungkin menganggap perasaan tersebut semata-mata persoalan selera atau kebiasaan. Padahal, di balik pengalaman yang tampak sederhana itu tersimpan proses sosial yang jauh lebih kompleks. Pengalaman itu bukanlah sesuatu yang kebetulan. Ia lahir dari interaksi yang terus-menerus antara ruang, kebiasaan, dan orang-orang yang menghidupinya. Sebuah masjid tidak hanya menyediakan ruang untuk shalat, tetapi juga menjadi tempat sebuah komunitas membangun kebiasaan, menegaskan nilai-nilai yang diyakininya, serta merawat cara mereka hidup bersama. Tanpa disadari, berbagai keputusan yang tampak sederhana, mulai dari penataan ruang, keberadaan elemen-elemen tertentu, hingga tradisi yang dijalankan, ikut membentuk rasa diterima, rasa memiliki, bahkan cara kita memaknai perbedaan dengan sesama jamaah.
Ketika seseorang melangkah memasuki sebuah masjid, sesungguhnya ia tidak hanya memasuki sebuah bangunan. Ia juga memasuki ruang yang telah lama dibentuk oleh kebiasaan, nilai, kenangan, dan hubungan antarmanusia. Ruang-ruang tersebut perlahan membentuk cara sebuah komunitas memahami dirinya, membangun kebiasaan bersama, sekaligus menyambut orang-orang yang datang. Dalam pengertian inilah, arsitektur masjid tidak lagi hanya berbicara tentang bentuk fisiknya. Ia juga berbicara tentang bagaimana sebuah komunitas memahami dirinya, menerima orang lain, dan membangun rasa kebersamaan di tengah berbagai perbedaan.
Menariknya, rasa akrab maupun rasa asing yang kita alami di sebuah masjid tidak selalu muncul karena bangunannya unik atau megah. Sering kali, pengalaman tersebut justru dibentuk oleh hal-hal yang tampak sederhana: tata letak ruang shalat, posisi jamaah laki-laki dan perempuan, keberadaan bedug, bentuk mimbar, tradisi setelah shalat berjamaah, atau berbagai simbol yang menghiasi ruang ibadah. Bagi sebagian orang, elemen-elemen tersebut mungkin tampak sebagai pelengkap. Namun bagi komunitas yang telah lama hidup bersamanya, elemen-elemen itu mencerminkan nilai-nilai yang diyakini dan dihargai bersama, sekaligus menjadi bagian dari cara mereka membangun keterikatan terhadap masjidnya.
Karena itu, perbedaan antarmasjid tidak selalu dapat dipahami sebagai tanda perpecahan. Dalam banyak kasus, perbedaan justru mencerminkan perjalanan sebuah komunitas dalam membangun kesepahaman mengenai bagaimana ruang bersama digunakan, dijaga, dan dimaknai. Ada kalanya sebuah tradisi dipertahankan karena dianggap penting bagi jati diri atau identitas komunitas. Pada kesempatan lain, sebagian unsur justru disesuaikan agar lebih banyak orang merasa diterima. Di balik bentuk fisik sebuah masjid berlangsung proses yang tak pernah benar-benar selesai: menjaga identitas sekaligus membuka ruang bagi kebersamaan.
Dalam konteks ini, identitas tidak selalu hadir untuk membedakan “siapa yang termasuk” dan “siapa yang tidak”. Sebaliknya, identitas membantu sebuah komunitas mengenali dirinya sekaligus memberi kesempatan kepada orang lain untuk memahami nilai-nilai yang hidup di dalamnya. Ketika identitas dipahami sebagai bentuk pengenalan, bukan penolakan, perbedaan tidak lagi harus dibaca sebagai ancaman.
Dalam pengertian inilah rasa memiliki tidak perlu dimaknai sebagai hak untuk menguasai, melainkan sebagai kesediaan untuk ikut merawat. Kita dapat ikut memiliki tanpa harus memonopoli, menjaga tanpa harus menyingkirkan mereka yang telah lama memakmurkannya, serta mencintai tanpa harus menolak kehadiran yang berbeda. Sebab sebuah rumah bersama hanya dapat tetap menjadi rumah ketika setiap orang masih merasa memiliki tempat di dalamnya. Di situlah arsitektur mulai melampaui bangunan. Ia menjadi wadah sebuah komunitas belajar hidup bersama.
Di tengah masyarakat Indonesia yang beragam, perbedaan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan bersama. Persoalannya bukan terletak pada keberadaan perbedaan itu sendiri, melainkan pada bagaimana kita mengelolanya. Mengelola perbedaan selalu memerlukan ruang untuk saling berbincang, saling mendengar, dan saling memahami. Di sinilah masjid memiliki potensi menjadi tempat yang memungkinkan setiap orang merasa dihargai tanpa harus menghapus identitas yang mereka anggap bermakna. Ia mengingatkan kita bahwa kebersamaan tidak selalu lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan untuk saling mengenali, saling menghargai, saling menyesuaikan, dan saling memberi tempat.
Mungkin karena itulah suasana sebuah masjid seringkali dapat kita rasakan bahkan sebelum kita mengenal orang-orang di dalamnya. Ada ruang yang segera terasa akrab, ada pula yang membuat kita merasa perlu menyesuaikan diri. Pengalaman semacam ini menunjukkan bahwa arsitektur tidak hanya bekerja melalui dinding, atap, atau ornamen, tetapi juga melalui pengalaman sosial yang diciptakannya. Sebuah ruang dapat membuat seseorang merasa diterima, dihargai, atau justru merasa sebagai orang luar. Perasaan-perasaan tersebut memang tidak selalu mudah dijelaskan, tetapi nyata dirasakan oleh siapa pun yang pernah menjadi bagian dari sebuah komunitas.
Barangkali itu juga sebabnya masjid tidak pernah sekadar menjadi bangunan tempat orang berkumpul untuk beribadah. Di dalamnya tersimpan kisah tentang bagaimana sebuah komunitas membangun rasa memiliki, menjaga identitas, dan terus belajar hidup bersama di tengah berbagai perbedaan. Arsitektur, dalam pengertian ini, bukan hanya persoalan bentuk dan fungsi, melainkan juga cara sebuah masyarakat merawat hubungan antarmanusia. Sering kali kita tidak menyadarinya ketika melangkah melewati serambi menuju ruang shalat. Namun setiap kali memasuki sebuah masjid, sesungguhnya kita juga sedang memasuki sebuah ruang sosial yang mengajarkan bahwa kebersamaan tidak lahir karena semua orang menjadi sama, melainkan karena setiap orang tetap memiliki tempat di dalamnya. Sebuah ruang sosial yang terus mengajarkan bagaimana manusia dapat hidup bersama tanpa harus kehilangan jati dirinya.
Pada akhirnya, barangkali yang kita cari bukanlah bangunan yang paling megah atau paling indah, melainkan ruang yang membuat manusia merasa dekat kepada Tuhannya sekaligus merasa diterima oleh sesamanya. Mungkin, itulah yang diisyaratkan Taufiq Ismail dalam puisinya Mencari Sebuah Masjid. Sebab setiap kali sebuah masjid berhasil menumbuhkan rasa memiliki, merawat kebersamaan, dan memberi tempat bagi keragaman, pada saat itulah Rumah Tuhan benar-benar telah menjadi Rumah Kita.
Catatan Penulis
Disertasi mungkin menandai berakhirnya sebuah penelitian. Namun, tidak semua pertanyaan ikut selesai bersamanya. Ada kalanya justru setelah penelitian usai, kita mulai memandang kembali hal-hal yang selama ini terasa biasa dengan cara yang berbeda. Pertanyaan-pertanyaan baru muncul bukan karena jawabannya belum ditemukan, melainkan karena penelitian mengubah cara kita melihat dunia. Tulisan ini merupakan ikhtiar kecil untuk membawa sebagian dari perenungan tersebut keluar dari ruang sidang, perpustakaan, dan jurnal ilmiah, lalu mengembalikannya ke ruang-ruang yang setiap hari kita datangi.





