MIU Login

Renungan Jum’at

Oleh: Agus Mulyono

Agustusan Bukan untuk Pejabat Pemerintah

Setiap bulan Agustus, ada pemandangan yang selalu membuat hati terasa hangat.
Masuk ke kampung, ada umbul-umbul merah putih berkibar. Masuk ke gang-gang perumahan, pagar rumah dihiasi pita merah putih. Ada bendera kecil dipasang berjajar. Ada gapura sederhana yang dicat ulang. Ada lampion merah putih. Ada anak-anak berlarian mempersiapkan lomba. Ada ibu-ibu sibuk menyiapkan konsumsi. Ada bapak-bapak yang sejak sore memasang lampu dan menghias jalan.

Kadang dekorasinya tidak rapi. Kadang catnya terlalu tebal. Kadang benderanya tidak sama ukuran. Tetapi justru di situlah keindahannya.
Sebab kemerdekaan memang tidak selalu harus dirayakan dengan sesuatu yang megah.
Kadang cukup dengan selembar bendera merah putih yang dipasang di depan rumah.
Cukup dengan umbul-umbul yang dibuat dari kain seadanya.
Cukup dengan anak-anak yang berlari membawa bendera kecil.
Dan cukup dengan hati yang masih mau mengingat bahwa kemerdekaan ini pernah diperjuangkan dengan darah dan air mata.

Masyarakat tetap begitu bersemangat merayakan Agustusan?
Padahal mereka tahu, pemerintah berganti. Pejabat berganti. Menteri berganti. Bupati berganti. Wali kota berganti. Presiden berganti.
Tetapi merah putih tetap dipasang.

Lomba makan kerupuk tetap ada. Balap karung tetap digelar. Panjat pinang tetap dilakukan.
Anak-anak tetap tertawa.
Bapak-bapak tetap berkumpul.
Ibu-ibu tetap sibuk menyiapkan makanan.
Seolah-olah masyarakat sedang mengatakan sesuatu yang sederhana, tetapi sebenarnya sangat dalam.
“Agustusan ini bukan untuk pejabat pemerintah.”
Agustusan ini untuk mengenang para pejuang. Para pejuang yang dahulu berjuang tanpa bertanya, nanti saya dapat apa?
Mereka berjuang tanpa menghitung berapa keuntungan yang akan diperoleh.
Mereka tidak bertanya, setelah Indonesia merdeka, saya akan menjadi apa?

Mereka hanya tahu satu hal: Indonesia harus merdeka.
Ada sesuatu yang menarik dari cara masyarakat mengenang kemerdekaan.
Mereka tidak selalu mengenang kemerdekaan dengan pidato panjang. Mereka mengenangnya dengan cara sederhana.

Memasang bendera. Membersihkan kampung. Menghias gang. Mengadakan lomba. Mengumpulkan anak-anak. Makan bersama. Tertawa bersama.

Disana Ada orang tua yang bercerita tentang zaman dahulu.
Tentang sulitnya hidup. Tentang perjuangan.
Tentang orang-orang yang pergi berperang dan tidak pernah kembali.
Tentang kemerdekaan yang ternyata tidak jatuh dari langit.
Kemerdekaan itu dibayar mahal. Dengan keringat. Dengan darah. Dengan kehilangan.
Dengan air mata.

Karena itu, ketika melihat bendera merah putih berkibar di gang sempit, sebenarnya kita sedang melihat sesuatu yang jauh lebih besar daripada selembar kain.
Kita sedang melihat ingatan. Ingatan kolektif sebuah bangsa.
Dan mungkin itulah sebabnya masyarakat tetap merayakan Agustusan meskipun kadang kecewa dengan perilaku sebagian pejabat.

Mereka kecewa dengan MBG, Kecewa dengan Koperasi Merah putih, Kecewa dengan kebijakan Vaksin, kecewa dg pejabat yg korupsi dll.
Mereka bisa kecewa kepada pemerintah, tetapi tidak kecewa kepada Indonesia.
Ini dua hal yang berbeda. Pemerintah adalah institusi. Pejabat adalah manusia.
Indonesia adalah rumah bersama.

Kalau ada pejabat yang mengecewakan, jangan sampai rasa kecewa kepada pejabat membuat kita kehilangan cinta kepada negeri.
Kalau ada pejabat yang hanya memikirkan dirinya sendiri, jangan sampai kita ikut menjadi orang yang hanya memikirkan diri sendiri.
Kalau ada yang lupa kepada rakyat, jangan sampai rakyat lupa kepada sejarah.

Sebab bangsa yang lupa sejarah biasanya mudah kehilangan arah.
Menurut Pak Kyai, mencintai negeri itu tidak harus selalu dengan kata-kata besar.
Kadang mencintai negeri adalah menjaga apa yang sudah diwariskan oleh para pendahulu.
Menjaga kerukunan. Menjaga kejujuran. Menjaga lingkungan. Menjaga tetangga.
Menolong orang yang kesusahan.
Dan tentu saja, menjaga agar kemerdekaan tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar terasa dalam kehidupan masyarakat.

Pak Kyai pernah mengatakan, jangan sampai kita menikmati hasil perjuangan orang lain, tetapi tidak pernah merasa punya kewajiban meneruskan perjuangannya.
Kalimat itu sederhana.
Tetapi kalau direnungkan, dalam sekali. Sebab perjuangan memang belum selesai.
Dulu para pejuang melawan penjajahan. Sekarang kita menghadapi bentuk penjajahan yang berbeda.
Kebodohan. Kemiskinan. Korupsi.
Keserakahan. Ketidakadilan. Kebencian. Dan egoisme.

Dulu musuhnya mungkin terlihat jelas. Sekarang musuh itu kadang justru bersembunyi di dalam diri kita sendiri.
Keinginan untuk mendapatkan lebih banyak.
Keinginan untuk berkuasa.
Keinginan untuk dihormati.
Keinginan untuk menang sendiri.

Karena itu, ketika masyarakat memasang merah putih di depan rumahnya, jangan anggap itu sekadar tradisi tahunan.
Di balik bendera itu ada pesan moral.
Bahwa negeri ini dibangun oleh orang-orang yang mau berkorban.
Maka jangan bangun negeri ini hanya untuk kepentingan diri sendiri.

Ironis memang.
Para pejuang dahulu rela kehilangan nyawa demi masa depan anak cucunya.
Sementara hari ini, ada orang yang justru menggunakan jabatan untuk memperkaya diri sendiri.

Dulu orang berjuang agar Indonesia menjadi milik bersama.
Sekarang masih ada yang berpikir Indonesia adalah milik kelompoknya.

Dulu perjuangan melawan penjajah. Sekarang kita kadang harus melawan keserakahan yang ada dalam diri sendiri.

Maka dg melihat semangat Agustusan di kampung-kampung.
di sana nasionalisme terasa lebih jujur. Tidak banyak baliho.
Tidak banyak slogan.
Tidak banyak kata-kata.
Hanya bendera. Umbul-umbul.
Anak-anak. Orang tua. Dan kebersamaan.

Mungkin itulah nasionalisme yang paling sederhana.
Semangat seperti itu yang dahulu dimiliki para pejuang?
Mereka memberi lebih dahulu.
Mereka berkorban lebih dahulu.
Mereka tidak menunggu menjadi pejabat untuk berbuat sesuatu bagi bangsa.

Karena itu, kalau bulan Agustus ini kita melihat gang-gang kecil penuh warna merah putih, maka ini bukan hal remeh.
Di balik gang sempit itu ada hati yang masih mencintai negeri.
Di balik lomba sederhana itu ada ingatan tentang perjuangan.
Di balik anak-anak yang tertawa ada harapan tentang masa depan.
Dan di balik bendera yang berkibar, ada pesan dari para pejuang yang seolah-olah sedang berkata:
“Jangan sia-siakan kemerdekaan yang kami perjuangkan.”

Mungkin masyarakat tidak bisa mengubah perilaku semua pejabat.
Tetapi masyarakat masih bisa menjaga semangat Indonesia.
Masyarakat masih bisa mengajarkan anak-anaknya untuk mencintai negeri.
Masih bisa menjaga kampung tetap rukun.
Masih bisa saling membantu.
Masih bisa memasang merah putih.
Dan masih bisa berkata kepada anak-anaknya:
“Ini bukan sekadar bendera.”
“Ini adalah sejarah.”
“Ini adalah pengorbanan.”
“Ini adalah darah dan air mata orang-orang sebelum kita.”

Maka biarlah Agustusan tetap meriah. Biar gang-gang kecil tetap penuh umbul-umbul.
Biar anak-anak tetap bermain.
Biar bapak-bapak tetap berkumpul.
Biar ibu-ibu tetap sibuk dengan konsumsi.
Sebab mungkin, di tengah berbagai kekecewaan kita kepada keadaan, Agustusan mengingatkan kita bahwa masih ada sesuatu yang lebih besar daripada para pejabat.
Yaitu Indonesia.

Dan ada sesuatu yang lebih penting daripada kepentingan kita hari ini.
Yaitu menghormati mereka yang telah berjuang agar kita bisa hidup bebas hari ini.
Agustusan bukan untuk pejabat.
Agustusan adalah milik rakyat.
Dan lebih dari itu, Agustusan adalah cara sederhana kita berkata kepada para pejuang:
“Kami belum lupa.”
Merah putih bukan sekadar warna.
Ia adalah ingatan.
Ia adalah penghormatan.
Dan mudah-mudahan, ia juga menjadi pengingat bagi kita semua:
kemerdekaan tidak diwariskan untuk dinikmati sendiri, tetapi untuk dijaga dan diteruskan bersama.

Wallahu a’lam
🙏🙏🙏

Berita Terkait

Artikel Terkait