MIU Login

Renungan Jum’at

Oleh: Agus Mulyono

Jejaring: Ketika Silaturahmi Berubah Menjadi Kolusi

Tidak ada manusia yang benar-benar tumbuh sendirian.
Setiap orang adalah hasil dari begitu banyak tangan yang pernah mengangkatnya. Ada orang tua yang mengajarkan langkah pertama, guru yang mengenalkan huruf demi huruf, sahabat yang menemani jatuh bangun, tetangga yang pernah menolong saat kesulitan, hingga rekan kerja yang membuka jalan menuju kesempatan berikutnya.

Kalau dipikir-pikir, hidup ini memang seperti jaring ikan. Benang-benangnya saling bertaut. Putus satu saja, kekuatannya berkurang. Putus banyak, jaring itu kehilangan fungsinya.
Karena itulah manusia membangun jejaring.

Dalam bahasa agama, kita mengenalnya sebagai silaturahmi. Menurut Pak Kyai, silaturahmi bukan sekadar rajin datang ke undangan atau saling bertukar kartu nama. Silaturahmi adalah ikhtiar menyambung kebaikan.

Sebab hubungan antar manusia bukan hanya urusan dunia, tetapi juga bagian dari ibadah. Rezeki memang datang dari Allah, tetapi sering kali Allah mengantarkannya melalui manusia lain.
Maka membangun relasi sesungguhnya adalah pekerjaan yang mulia.

Sayangnya, akhir-akhir ini ada sesuatu yang perlahan bergeser.
Kata jejaring semakin sering dipahami sebagai “punya orang dalam”. Kalimat, “Saya punya kenalan,” kadang terdengar lebih menentukan daripada, “Saya punya kemampuan.”

Padahal keduanya berbeda jauh.
Jejaring adalah jembatan.
Kolusi adalah jalan tikus.
Dari kejauhan keduanya sama-sama menghubungkan dua tempat. Tetapi yang satu dibangun agar semua orang bisa lewat secara adil, sedangkan yang lain dibuat diam-diam agar hanya kelompok tertentu yang memperoleh keuntungan.

Perbedaan itu tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Kalau kita membayangkan sebuah kebun mangga.
Kalau seorang petani menyiram semua pohonnya dengan air yang sama, memberi pupuk sesuai kebutuhan, lalu membiarkan setiap pohon berbuah menurut kualitasnya, itulah keadilan.

Tetapi bayangkan jika air hanya dialirkan ke pohon milik kerabatnya, sementara pohon lain dibiarkan mengering. Bukan karena pohon itu jelek, tetapi karena bukan “orang sendiri”.
Di situlah masalahnya.
Bukan lagi soal pohon.
Melainkan soal cara memperlakukan pohon.

Begitu pula dalam kehidupan.
Seorang dosen merekomendasikan mahasiswanya memperoleh beasiswa karena prestasinya. Ia mengenal kemampuan mahasiswanya, tahu rekam jejaknya, dan bersedia mempertaruhkan nama baiknya untuk memberi rekomendasi.
Itu bukan kolusi.
Itu justru fungsi jejaring yang sehat.
Relasi dipakai untuk menemukan orang yang memang pantas memperoleh kesempatan.
Namun ceritanya berubah ketika seseorang berkata, “Tolong diterima saja. Dia saudara saya.”
Tidak peduli nilai akademiknya biasa saja.
Tidak peduli ada pelamar lain yang jauh lebih baik.
Yang penting dekat.
Yang penting kenal.
Yang penting satu lingkaran.
Saat itulah jejaring berubah menjadi kolusi.

Kolusi tidak selalu berbentuk transaksi uang.
Kadang kolusi lahir dari rasa sungkan yang berlebihan.
Kadang muncul karena balas budi yang salah tempat.
Kadang hanya berupa kalimat sederhana, “Nanti gantian ya.”
Tidak ada amplop.
Tidak ada kuitansi.
Tetapi keadilan perlahan hilang.

Di dunia usaha pun demikian.
Tidak ada yang salah ketika seorang pengusaha sering memperoleh proyek karena reputasinya memang baik. Orang mempercayainya karena kualitas pekerjaannya sudah terbukti bertahun-tahun.
Itulah buah dari jejaring profesional. Kepercayaan lahir dari kompetensi.

Tetapi berbeda cerita jika proyek diberikan bahkan sebelum proses seleksi dimulai.
Dokumen hanya formalitas.
Penilaian hanya sandiwara.
Pemenangnya sudah ditentukan jauh sebelum rapat dibuka.
Maka yang bekerja bukan lagi profesionalisme.
Melainkan kedekatan.
Dan kedekatan yang mengalahkan keadilan itulah yang disebut kolusi.
Seringkali yg dapat proyek adalah pihak yang saling mengamankan.. mengamankan dari perbuatan yg tidak baik.

Masalah terbesar kolusi sebenarnya bukan kerugian materi.
Kerugian terbesar adalah matinya kepercayaan.
Sekali orang percaya bahwa semua ditentukan oleh kedekatan, maka semangat untuk berprestasi mulai menghilang.

Mengapa harus belajar keras kalau yang menentukan adalah hubungan?
Mengapa harus meningkatkan kompetensi kalau yang dicari hanyalah kedekatan?
Mengapa harus bekerja jujur kalau yang naik justru yang pandai mencari orang dalam?

Perlahan-lahan organisasi menjadi lelah. Bukan karena kekurangan orang pintar.
Melainkan karena terlalu banyak orang kehilangan harapan.

Menurut Pak Kyai, amanah itu seperti air yang dititipkan di dalam kendi. Selama kendi itu utuh, air akan tetap jernih. Tetapi ketika retak sedikit saja, air akan terus menetes, meskipun retaknya hampir tidak terlihat.
Kolusi sering kali dimulai dari retakan kecil.
“Hanya sekali.”
“Hanya membantu teman.”
“Hanya karena kasihan.”
“Hanya kali ini.”
Kalimat “hanya” itulah yang sering menjadi pintu masuk rusaknya amanah.
Ironisnya, kolusi hampir selalu tampak menguntungkan pada awalnya.
Semua tersenyum.
Semua merasa diuntungkan.
Semua saling berterima kasih.
Tetapi seperti rayap di dalam kayu, kerusakannya bekerja diam-diam.
Dari luar bangunan masih tampak kokoh.
Catnya masih bagus.
Pintunya masih berdiri.
Namun bagian dalamnya perlahan kosong.

Begitu pula organisasi.
Yang hancur bukan gedungnya.
Yang rapuh adalah kepercayaan orang-orang di dalamnya.
Karena itu, membangun jejaring seharusnya bukan mencari siapa yang dapat mengangkat kita lebih cepat.
Melainkan mencari dengan siapa kita bisa menjaga nilai-nilai tetap hidup.

Relasi yang baik tidak menghapus aturan. Justru membantu aturan berjalan lebih baik.
Relasi yang sehat tidak menyingkirkan orang lain.
Justru menghadirkan lebih banyak kesempatan bagi mereka yang memang layak.

Mungkin sesekali kita perlu mengubah pertanyaan dalam hidup.
Bukan lagi, “Siapa yang saya kenal?”
Tetapi, “Kalau saya mengenal seseorang yang berpengaruh, apakah saya tetap mampu berlaku adil?”
Sebab ujian integritas bukan ketika kita tidak punya akses.
Ujian sesungguhnya justru ketika kita punya akses, punya kedekatan, punya kesempatan untuk menyimpang, tetapi memilih tetap berada di jalur yang benar.
Di situlah nilai seseorang benar-benar terlihat.

Jadi jejaring bukan tentang banyaknya nomor telepon yang tersimpan di ponsel.
Bukan pula tentang seberapa sering berfoto dengan orang-orang penting.
Jejaring adalah tentang seberapa banyak pintu kebaikan yang berhasil dibuka tanpa harus menutup pintu keadilan bagi orang lain.

Sebab silaturahmi seharusnya memperluas manfaat, bukan mempersempit kesempatan.

Dan relasi yang paling bernilai bukanlah relasi yang membuat kita selalu menang, melainkan relasi yang membuat kita tetap jujur ketika kita sebenarnya bisa berbuat curang.
Karena sesungguhnya, manusia dikenang bukan karena siapa yang dikenalnya, tetapi karena nilai yang tetap dijaganya ketika ia mengenal banyak orang.

Wallahu a’lam
🙏🙏🙏

Berita Terkait

Artikel Terkait