Oleh: Fajar Rohman Hariri
Pernahkah kita bertemu seseorang yang semakin tinggi pendidikannya, semakin banyak gelar di belakang namanya, semakin luas pengetahuannya, tetapi justru semakin sulit diajak berdiskusi? Pendapatnya sulit dibantah. Kritik dianggap sebagai serangan. Ketika orang lain memiliki pandangan berbeda, respons pertamanya bukan mencoba memahami, tetapi mencari kelemahan dari pendapat tersebut. Seolah-olah semakin banyak yang diketahui, semakin kuat pula keyakinan bahwa dirinya tidak mungkin salah.
Lalu muncul pertanyaan yang cukup menggelitik: apakah semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin tinggi pula egonya?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Penelitian belum memberikan dasar yang cukup untuk mengatakan bahwa pendidikan tinggi secara langsung menyebabkan seseorang menjadi lebih egois atau arogan. Namun, ada temuan yang justru lebih menarik: pendidikan dan kecerdasan tidak otomatis membuat seseorang memiliki kerendahan hati intelektual. Dengan kata lain, seseorang bisa sangat berpendidikan, tetapi tetap sulit mengakui bahwa dirinya salah.
Pintar Tidak Berarti Bebas dari Bias
Pendidikan membuat seseorang memiliki lebih banyak pengetahuan. Semakin lama belajar, semakin banyak teori yang dipahami, buku yang dibaca, dan semakin terlatih pula kemampuan membangun argumentasi. Namun, kemampuan berargumentasi tidak selalu sama dengan kemampuan menerima bahwa argumentasi kita mungkin salah.
Stanovich dan West (2007) meneliti fenomena yang disebut myside bias, yaitu kecenderungan manusia untuk mengevaluasi informasi berdasarkan keyakinan yang sudah dimilikinya. Menariknya, penelitian mereka menunjukkan bahwa kemampuan kognitif yang lebih tinggi tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari bias tersebut. Artinya, menjadi pintar tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih objektif. Bahkan, orang dengan pengetahuan luas memiliki lebih banyak “senjata” untuk mempertahankan pendapatnya. Ia bisa mengutip teori, mencari kelemahan argumentasi lawan, menggunakan istilah yang kompleks, atau menemukan penelitian yang mendukung posisinya.
Masalah muncul ketika kemampuan tersebut tidak lagi digunakan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk mempertahankan harga diri. Pertanyaannya berubah dari:
“Apakah pendapat saya benar?”
menjadi:
“Bagaimana caranya membuktikan bahwa saya benar?”
Ketika Gelar Menjadi Identitas
Persoalannya mungkin bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga identitas. Setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan, memperoleh gelar, memiliki jabatan akademik, atau dikenal sebagai ahli dalam suatu bidang, keahlian tersebut dapat menjadi bagian dari identitas seseorang. Tidak ada yang salah dengan itu. Masalah muncul ketika identitas sebagai “orang yang tahu” berubah menjadi kebutuhan untuk “selalu terlihat tahu.” Pada titik tersebut, mengatakan “saya tidak tahu” menjadi lebih sulit. Mengakui pendapat orang lain lebih tepat terasa tidak nyaman. Bahkan kritik terhadap sebuah gagasan bisa terasa seperti kritik terhadap harga diri.
Padahal dalam dunia ilmu pengetahuan, kalimat seperti “saya tidak tahu”, “pendapat Anda mungkin benar”, atau “ternyata saya salah” seharusnya merupakan sesuatu yang biasa.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan di Frontiers in Education pada 2023 mewawancarai 20 dosen dan 20 mahasiswa pascasarjana di Inggris. Penelitian tersebut mengeksplorasi intellectual humility atau kerendahan hati intelektual dalam pendidikan tinggi. Temuannya menjadi pengingat bahwa berada di lingkungan pendidikan tinggi tidak otomatis membuat seseorang memiliki kerendahan hati intelektual.
Ilmu Bertambah, Ego Jangan Ikut Membesar
Intellectual humility pada dasarnya adalah kesadaran bahwa pengetahuan dan keyakinan kita memiliki keterbatasan. Orang yang memiliki kerendahan hati intelektual bukan berarti tidak percaya diri. Ia boleh memiliki gelar tinggi, menjadi pakar, dan memiliki argumentasi yang kuat. Namun, di balik semua itu masih tersedia satu kemungkinan: “Saya bisa saja salah.” Justru semakin dalam seseorang mempelajari suatu bidang, seharusnya semakin terlihat betapa luasnya hal yang belum ia ketahui.
Maka idealnya, pendidikan menghasilkan sebuah paradoks yang indah: Semakin banyak seseorang tahu, semakin sadar ia bahwa masih banyak yang tidak ia tahu. Jadi, apakah semakin tinggi pendidikan berarti semakin tinggi ego? Belum tentu. Namun pendidikan tinggi juga tidak memberikan kekebalan terhadap ego, bias, atau perasaan selalu benar.
Karena itu, mungkin keberhasilan pendidikan tidak hanya terlihat dari berapa banyak gelar yang berhasil ditambahkan di depan atau belakang nama, tetapi juga dari keberanian seseorang untuk mengatakan:
“Saya tidak tahu.”
“Saya perlu mempelajarinya lagi.”
atau bahkan,
“Ternyata selama ini saya salah.”
Sebab pendidikan seharusnya bukan hanya membuat ilmu bertambah, tetapi juga memastikan ego tidak ikut membesar.
Referensi
Godfrey, H. (2023). Intellectual Humility and Self-Censorship in Higher Education: A Thematic Analysis. Frontiers in Education, 8, 1066519.
Stanovich, K. E., & West, R. F. (2007). Natural myside bias is independent of cognitive ability. Thinking & Reasoning, 13(3), 225–247.
Banja, J. (2021). Intellectual Humility and “Subclinical Narcissism” in the Academe: Considerations for Faculty and Institutional Leadership. Journal of Character Education, 17(2).










