MIU Login

Mahasiswa Tidak Membaca, Dosen Juga Tidak Menulis

Oleh: Syahiduz Zaman, M.Kom



Pada pertemuan pertama mata kuliah Sistem Informasi, saya mencoba melakukan hal sederhana: bertanya kepada mahasiswa tentang buku. Saya mengajar empat kelas. Saya menunjukkan buku _Principles of Information Systems_, buku teks yang selama ini menjadi salah satu rujukan utama bidang Sistem Informasi. Saya bertanya,: “Menurut kalian, berapa harga buku ini?” Jawabannya menarik. Ada yang menjawab Rp100.000, Rp120.000, Rp200.000. Saya kemudian memberi tahu harga bukunya: sekitar Rp1,95 juta. Versi ebook-nya sekitar Rp1,5 juta.

Mereka terkejut. Saya kemudian bertanya kapan terakhir kali mereka pergi ke toko buku. Jawabannya: setahun lalu. Tidak pernah. Bahkan sebagian besar tidak tahu toko buku yang cukup dikenal di Kota Malang, apalagi pasar buku bekas di kawasan Wilis. Saya lanjut bertanya tentang perpustakaan, “Kapan terakhir ke perpustakaan?”, mereka menjawab: “Semester lalu, Pak”. Saya pun bertanya lagi: “Seberapa sering?”, mereka pun menjawab: “Sebulan sekali”. Ada pula yang menjawab belum pernah sama sekali.

Saya mulai curiga bahwa persoalannya bukan sekadar mahasiswa malas membaca. Saya bertanya lagi: “kapan terakhir mencari ebook di internet? Apakah kalian tahu sumber-sumber buku digital gratis yang legal?”, Mereka menjawab: “tidak tahu”. Ketika saya bertanya apakah dosen pernah memberikan buku ajar dalam bentuk ebook, mereka menggeleng. Ketika saya bertanya tentang jurnal ilmiah, jawabannya lebih menarik lagi: membaca jurnal ketika ada tugas. Saya bahkan bertanya apakah ada yang berlangganan layanan AI berbayar. Tidak ada satu pun.

Empat kelas, dengan variasi jawaban yang kurang lebih sama. Tentu saja ini bukan penelitian. Saya tidak bermaksud menggeneralisasi seluruh mahasiswa Indonesia hanya berdasarkan percakapan di ruang kelas. Tetapi sebagai dosen, saya merasa cukup terganggu oleh apa yang saya dengar. Sebab ada sesuatu yang salah. Mahasiswa berada di universitas, tetapi tidak akrab dengan buku. Mereka mempunyai akses internet, tetapi tidak terbiasa mencari buku. Mereka mempunyai perpustakaan, tetapi tidak merasa perlu datang. Mereka hidup di tengah ledakan informasi, tetapi kesulitan mencari sumber pengetahuan yang lebih serius daripada materi yang diberikan dosen.

Lalu kita bertanya-tanya mengapa budaya akademik kita tidak berkembang. Mungkin kita perlu bercermin. Saya menawarkan kepada mereka beberapa buku digital yang tersedia secara gratis dan legal di internet. Sebagian saya terjemahkan ke bahasa Indonesia agar lebih mudah dipahami. Ada yang tebalnya 600 sampai 800 halaman. Mereka langsung menggeleng ketika saya bertanya apakah sanggup menuntaskannya dalam satu semester? Kemudian saya sodorkan buku ajar saya sendiri, sekitar 300 halaman. Mereka baru menjawab sanggup.

Di titik ini saya justru melihat peluang. Mahasiswa mungkin tidak membutuhkan ceramah panjang tentang pentingnya membaca. Mereka membutuhkan ekosistem yang memaksa mereka membaca. Ya, memaksa. Saya kira sudah waktunya universitas berhenti menganggap perpustakaan sebagai fasilitas yang cukup disediakan lalu mahasiswa dipersilakan datang kalau mau.

Jika universitas ingin membangun budaya akademik, kunjungan perpustakaan semestinya menjadi bagian dari aktivitas akademik yang terukur. Bukan sekadar imbauan “mari rajin membaca”. Mahasiswa dapat diwajibkan mengunjungi perpustakaan sejumlah tertentu setiap semester, membaca buku tertentu, membuat catatan bacaan, atau mengikuti kegiatan literasi yang dirancang perpustakaan. Sebab sesuatu yang dianggap penting tetapi tidak pernah diwajibkan sering kali hanya menjadi slogan.

Hal yang sama berlaku untuk dosen. Saya bahkan ingin mengusulkan kebijakan yang lebih mengganggu: “setiap dosen wajib menghasilkan buku ajar untuk mata kuliah yang diampunya”. Bukan berarti setiap dosen harus menjadi penulis buku popular, Tidak. Buku ajar dapat sederhana, sepanjang memenuhi standar akademik, relevan dengan mata kuliah, diperbarui secara berkala, dan benar-benar dapat digunakan mahasiswa.

Bayangkan jika setiap dosen memiliki buku ajarnya sendiri. Mahasiswa tidak lagi hanya mendapatkan slide presentasi. Mereka memiliki buku yang ditulis oleh orang yang mengajar mereka, menggunakan bahasa yang sesuai dengan karakter mahasiswanya, memuat contoh-contoh yang relevan dengan konteks Indonesia, dan terus diperbaiki berdasarkan pengalaman mengajar.

Seorang dosen yang sudah mengajar mata kuliah yang sama selama lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun semestinya memiliki pengetahuan yang cukup untuk menghasilkan buku ajar, tetapi juga tulisan yang dipublikasi. Setiap fakultas diharap mempunyai website yang hidup, bukan website yang hanya aktif ketika ada akreditasi atau penerimaan mahasiswa baru. Dosen dapat dijadwalkan bergiliran menulis artikel populer, ulasan buku, gagasan akademik, hasil penelitian, atau penjelasan suatu persoalan yang berkaitan dengan bidang keilmuannya. Satu dosen menulis bulan ini. Dosen lain bulan berikutnya. Begitu seterusnya sepanjang tahun.

Bayangkan sebuah fakultas yang menghasilkan dua atau tiga tulisan berkualitas setiap minggu. Dalam setahun akan terkumpul ratusan tulisan. Itulah jejak intelektual. Bukan sekadar daftar nama dosen, foto kegiatan, dan berita seminar. Dan saya sangat bersyukur berada di Fakultas Sains dan Teknologi yang menghimbau dan menjadwal para dosen untuk aktif menulis artikel dan sejenisnya untuk dipublikasikan di Web https://saintek.uin-malang.ac.id/artikel/. Sehingga, kampus menghasilkan gagasan-gagasan menarik yang bisa dibaca Masyarakat pada umumnya dan civitas academica pada khususnya.

Mungkin sudah saatnya kita tidak hanya mengajak mahasiswa untuk membaca dan menulis, tetapi juga terlebih dahulu menumbuhkan kembali tradisi tersebut dalam diri kita sendiri. Sebab membaca adalah cara kita memperluas cakrawala, sementara menulis adalah cara kita meninggalkan jejak pemikiran agar pengetahuan tidak berhenti pada diri sendiri. Mari menjadikan buku, perpustakaan, dan tulisan bukan sekadar pelengkap kegiatan akademik, melainkan bagian dari keseharian kita sebagai insan pembelajar. Satu halaman yang kita baca hari ini mungkin melahirkan satu gagasan esok hari, dan satu gagasan yang kita tuliskan hari ini mungkin menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi banyak orang di kemudian hari.

Berita Terkait

Artikel Terkait