MIU Login

Merawat Bumi, Merawat Nurani:Refleksi Ekoteologi dari Novel-Novel Ahmad Tohari untuk Pendidikan Berkelanjutan

Oleh: Muhammad Ayyinna Yusron El Farouq

Tatkala melihat, mendengar, atau tidak sengaja mengetahui berbagai berita tentang banjir, kekeringan, tanah longsor, krisis air bersih, dan perubahan iklim yang semakin terasa dampaknya, ada pertanyaan: apakah persoalan lingkungan hanya dapat diselesaikan melalui teknologi?  Pertanyaan ini tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan persoalan yang jauh lebih mendalam. Selama beberapa dekade terakhir, manusia berhasil menciptakan berbagai inovasi luar biasa. Kita mampu membangun bendungan raksasa, mengembangkan kecerdasan buatan, mengirim satelit ke luar angkasa, dan memetakan bumi secara digital. Namun pada saat yang sama, kerusakan lingkungan tetap belum terhindarkan.

Barangkali persoalannya memang bukan semata-mata terletak pada kurangnya pengetahuan atau teknologi. Bisa jadi yang sedang kita hadapi adalah krisis cara pandang. Kita mengetahui banyak hal tentang alam, tetapi tidak selalu memahami bagaimana seharusnya hidup bersama alam. Kita mampu mengelola sumber daya, tetapi belum tentu mampu membatasi keinginan untuk mengeksploitasinya. Dalam konteks inilah pendidikan masa kini menghadapi tantangan yang sangat besar.

UNESCO melalui konsep Education for Sustainable Development (ESD) mengingatkan bahwa pendidikan abad ke-21 tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang cerdas secara akademik. Pendidikan juga harus melahirkan individu yang memiliki kesadaran ekologis, tanggung jawab sosial, dan kemampuan mengambil keputusan yang berpihak pada keberlanjutan kehidupan (UNESCO, 2020). Dengan kata lain, pendidikan tidak lagi sekadar mengajarkan bagaimana manusia hidup, tetapi juga bagaimana manusia menjaga kehidupan.

Dalam pencarian terhadap nilai-nilai tersebut, kita justru menemukan pelajaran yang menarik dari sastra, khususnya karya-karya sastra dari novel Ahmad Tohari. Selama ini novel sering dipandang sebagai bacaan hiburan atau karya estetik semata. Padahal di balik cerita dan tokoh-tokohnya, sastra sering menyimpan refleksi yang sangat mendalam mengenai manusia dan lingkungannya. Novel Di Bawah Kaki Bukit Cibalak, Kubah, dan Orang-Orang Proyek memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari persoalan moral, spiritual, dan kebudayaan.

Ketika Alam Menjadi Bagian dari Kehidupan

Dalam Di Bawah Kaki Bukit Cibalak, Ahmad Tohari menghadirkan suasana pedesaan yang begitu dekat dengan alam. Bukit, sawah, sungai, ladang, dan pepohonan bukan sekadar latar cerita. Alam hadir sebagai bagian dari kehidupan masyarakat itu sendiri. Ketika membaca novel tersebut, kita merasakan bahwa masyarakat desa tidak memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri mereka. Alam adalah ruang hidup, sumber penghidupan, sekaligus bagian dari identitas mereka. Pengalaman ini terasa kontras dengan kehidupan modern saat ini. Banyak generasi muda tumbuh jauh dari alam. Mereka mengenal hutan dari gambar, mengenal sungai dari buku pelajaran, dan mengenal musim melalui informasi digital baik dari TV, laptop, hp, gadget, dan lainnya. Akibatnya, hubungan emosional dengan lingkungan perlahan melemah. Ketika kedekatan itu hilang, rasa tanggung jawab untuk menjaganya ikut berkurang.

Di sinilah pentingnya apa yang disebut David Orr (1992) sebagai ecological literacy atau literasi ekologis. Menurut Orr, pendidikan harus membantu manusia memahami bahwa dirinya merupakan bagian dari jaringan kehidupan yang saling terhubung. Kesadaran ini tidak cukup dibangun melalui data dan teori semata, tetapi juga melalui pengalaman budaya, nilai, dan narasi yang mampu menyentuh sisi kemanusiaan seseorang. Manusia yang lahir di era digital atau gen z sekarang memang ada kalanya lebih terampil di bidang media, alat informasi,  dan telekomunikasi karena mereka lebih menyesuaikan kebutuhan perangkat teknologi. Selain itu,  mereka dibekali perekembangan kecerdasan buatan (AI), fasilitas, dan kemapanan teknologi, tapi kesemua itu penting namun jangan mengabaikan moralitas dan hati nurani yang akan berguna di lingkungan pendidikan, kehidupan  sosial dan keanekaragaman budaya.

Novel Ahmad Tohari mengajarkan hal tersebut secara alami. Melalui kehidupan masyarakat desa, pembaca diajak menyadari bahwa keberlangsungan manusia sangat bergantung pada keberlangsungan alam. Ketika tanah rusak, manusia ikut terdampak. Ketika air tercemar, kehidupan masyarakat juga terganggu. Kesadaran semacam ini sesungguhnya merupakan fondasi utama pendidikan keberlanjutan.

Pemulihan Lingkungan Berawal dari Pemulihan Jiwa

Pelajaran yang berbeda kita temukan dalam novel Kubah. Jika Di Bawah Kaki Bukit Cibalak banyak berbicara mengenai relasi manusia dengan lingkungan sosial dan alam pedesaan, maka Kubah mengajak pembaca memasuki wilayah yang lebih batiniah. Tokoh Karman mengalami perjalanan panjang dalam menemukan kembali makna hidupnya. Perjalanan tersebut bukan hanya persoalan ideologi atau keyakinan, tetapi juga proses menemukan kembali keseimbangan dalam dirinya. Ketika membaca novel ini, kita menyadari bahwa banyak kerusakan sosial maupun ekologis sesungguhnya berawal dari ketidakseimbangan batin manusia sendiri.

Kita sering berbicara tentang krisis lingkungan sebagai persoalan eksternal, padahal sumbernya sering kali berasal dari dalam diri manusia: keserakahan, egoisme, dan keinginan untuk menguasai tanpa batas. Upaya memperbaiki lingkungan tidak cukup dilakukan melalui regulasi dan teknologi, tetapi juga melalui pembentukan karakter dan kesadaran spiritual. Berasal dari pemikiran pakar intelektual, Seyyed Hossein Nasr (1996) yang menyatakan bahwa akar terdalam krisis lingkungan modern adalah hilangnya dimensi sakral dalam cara manusia memandang alam. Ketika alam tidak lagi dilihat sebagai bagian dari ciptaan Tuhan, maka hubungan manusia dengan alam berubah menjadi hubungan eksploitasi.

Senada dengan itu, Najihah, dkk. (2025) menjelaskan bahwa ajaran Islam sesungguhnya menempatkan manusia dalam tiga relasi yang tidak terpisahkan: hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan sesama manusia, dan hubungan dengan alam. Ketiga hubungan tersebut harus berjalan secara seimbang. Kesalehan seseorang tidak hanya diukur dari ’ritual keagamaannya’, tetapi juga dari kepeduliannya terhadap kehidupan yang ada di sekitarnya. Bagi kita, pesan ini sangat penting dalam dunia pendidikan saat ini. Pendidikan yang hanya mengembangkan aspek intelektual tanpa membangun kedalaman moral dan spiritual akan menghasilkan generasi yang cerdas, tetapi belum tentu bijaksana. Padahal keberlanjutan masa depan sangat bergantung pada kebijaksanaan tersebut.

Pembangunan yang Membutuhkan Nurani

Refleksi yang lebih dekat dengan realitas pembangunan modern dapat ditemukan dalam Orang-Orang Proyek. Novel ini berbicara mengenai proyek pembangunan, dunia birokrasi, dan berbagai persoalan yang mengiringinya. Namun sesungguhnya yang sedang dibicarakan Ahmad Tohari bukan hanya pembangunan fisik, melainkan pembangunan moral. Tokoh Kabul menjadi simbol kegelisahan seorang profesional yang berusaha mempertahankan integritas di tengah berbagai kompromi yang menggodanya. Ketika membaca novel ini, pembangunan sering kali dipahami hanya sebagai persoalan ekonomi dan infrastruktur. Ada pihak yang berbicara tentang jalan, jembatan, gedung, dan investasi. Namun jarang bertanya apakah pembangunan tersebut benar-benar menghadirkan keadilan dan keberlanjutan. Bisa saja dilanjutkan asal bisa meminimalisir kerusakan lingkungan, atau bahkan meniadakan secara permanen, atau menghentikan sementara hingga waktu yang tepat.

Dalam perspektif ekoteologi, manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah di bumi Konsep ini sering disalahpahami sebagai legitimasi untuk menguasai alam. Padahal Fazlun Khalid (2010) menegaskan bahwa makna khalifah justru berkaitan dengan tanggung jawab menjaga keseimbangan dan keberlangsungan kehidupan. Pembangunan yang mengabaikan etika sesungguhnya bertentangan dengan prinsip keberlanjutan. Kemajuan yang diperoleh dengan mengorbankan lingkungan atau mengabaikan kepentingan masyarakat hanya akan menghasilkan masalah baru di masa depan. Pendidikan keberlanjutan harus mampu menanamkan kesadaran bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari apa yang berhasil dibangun, tetapi juga dari dampaknya terhadap kehidupan.

Apa yang Dapat Dipelajari Pendidikan dari Sastra?

Sebenarnya kelimuan sastra memiliki kontribusi yang penting bagi pendidikan keberlanjutan. Jika ilmu pengetahuan memberikan pemahaman tentang bagaimana dunia bekerja, maka sastra membantu manusia memahami mengapa dunia perlu dijaga.Sastra mengajarkan empati. Sastra melatih kemampuan melihat dunia dari perspektif yang berbeda. Sastra juga membantu manusia menyadari keterhubungan dirinya dengan kehidupan yang lebih luas. Kemampuan-kemampuan inilah yang dibutuhkan dalam implementasi ESD. Tentu saja hal ini akan bersinggungan dan dapat dikolaborasikan melalui integrasi dengan kelimuan di bidang biologi, teknik lingkungan, bahkan di dunia sains dan teknologi itu sendiri.

Thomas Berry (1999) pernah mengatakan bahwa tantangan terbesar manusia modern bukanlah menyelamatkan bumi, melainkan belajar kembali menjadi bagian dari bumi. Pernyataan tersebut terasa sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Banyak persoalan lingkungan muncul karena manusia memosisikan dirinya sebagai pusat segala sesuatu. Akibatnya, alam dipandang hanya sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan manusia. Novel-novel Ahmad Tohari mengingatkan kita bahwa manusia sesungguhnya hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan kehidupan. Alam bukan objek yang berdiri di luar manusia, melainkan ruang tempat manusia hidup, bertumbuh, dan menemukan makna keberadaannya.

Menutup Renungan

Pada akhirnya, pendidikan keberlanjutan bukan sekadar agenda global yang tertulis dalam berbagai dokumen internasional. Ia adalah kebutuhan nyata bagi masa depan peradaban manusia. Pendidikan harus mampu membentuk generasi yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki kepekaan moral, kesadaran ekologis, dan kedalaman spiritual. Dalam hal ini, karya-karya Ahmad Tohari memberikan pelajaran bermakna.  Di Bawah Kaki Bukit Cibalak mengajarkan harmoni dengan alam. Kubah mengajarkan pentingnya pemulihan spiritualitas manusia. Orang-Orang Proyek mengingatkan perlunya etika dalam pembangunan. Ketiganya menunjukkan bahwa keberlanjutan pada akhirnya bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan cara manusia memahami dirinya sendiri. Mungkin di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar kemajuan, kita perlu sesekali kembali membaca literasi di bidang sastra. Bukan untuk melarikan diri dari kenyataan, tetapi untuk mengingat kembali sesuatu yang sering terlupakan: bahwa bumi bukan warisan yang kita terima dari generasi sebelumnya, melainkan titipan yang kita jaga untuk generasi yang akan datang. Kita tetap melihat adanya tantangan pada perkembangan dunia yang sangat cepat, kemajuan sains dan teknologi, inovasi pendidikan, transformasi digital, kecenderungan pada AI, bahkan etika, moral di dunia nyata atau dunia online ; media sosial yang bisa membawa perubahan menuju generasi seperti apa kelak.  Kita perlu menjadi diri sendiri untuk bisa berprestasi, berinovasi, dalam kebutuhan zaman yang sangat multidimensi ini.

Referensi

Berry, T. (1999). The Great Work: Our Way into the Future. New York: Bell Tower.

Fazlun Khalid. (2010). Signs on the Earth: Islam, Modernity and the Climate Crisis. Leicester: Kube Publishing.

Nasr, S. H. (1996). Religion and the Order of Nature. New York: Oxford University Press.

Najihah. B.N. Nawawi, A.M. Afif, F.  (2025). Ekoteologi Islam: Konsepsi dan Implementasi. Jakarta: Kementerian Agama RI.

Orr, D. (1992). Ecological Literacy: Education and the Transition to a Postmodern World. Albany: SUNY Press.

Tohari, A. (2007). Orang-Orang Proyek. Jakarta: Graedia Pustaka Utama.

Tohari, A. (2014). Di Bawah Kaki Bukit Cibalak. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Tohari, A. (2015). Kubah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

UNESCO. (2020). Education for Sustainable Development: A Roadmap. Paris: UNESCO Publishing.

Berita Terkait

Artikel Terkait