Pendahuluan
Lautan menutupi lebih dari dua pertiga permukaan bumi dan menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati yang sangat besar. Ekosistem laut mencakup lebih dari dua pertiga permukaan bumi, atau sekitar 71 persen, dan menjadi perhatian banyak pihak karena jangkauannya yang luas serta potensinya yang sangat besar. Sebagai salah satu ekosistem utama di bumi, ekosistem laut terbentuk dari hubungan timbal balik antara organisme dan lingkungannya, yang memberikan berbagai manfaat seperti tempat penelitian, wisata, sumber pangan, pengendali banjir, hingga tempat berkembang biak biota laut (Maharani, 2026).
Selain fungsi tersebut, laut juga berperan sentral dalam siklus biogeokimia global, termasuk siklus karbon, nitrogen, dan fosfor, yang penting bagi produktivitas ekosistem serta memastikan ketersediaan nutrisi bagi kehidupan, baik di laut maupun di darat. Laut turut menjadi koridor dan habitat penting bagi spesies migrasi global seperti paus, penyu laut, dan berbagai jenis burung laut, yang mendukung siklus hidup spesies-spesies tersebut serta menjaga keseimbangan ekosistem laut secara lebih luas. Dengan demikian, keberadaan ekosistem laut tidak hanya bernilai ekologis, tetapi juga menopang berbagai aspek kehidupan manusia secara langsung maupun tidak langsung (Maharani, 2026).
Namun demikian, keberlanjutan ekosistem laut kini menghadapi berbagai tantangan. Sumber daya alam dan makhluk hidup yang ada di laut sangat penting bagi kehidupan manusia, sementara Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki lautan luas yang kaya akan ekosistem, sehingga pembangunan berkelanjutan diarahkan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas ekosistem laut tersebut. Sayangnya, rendahnya kepedulian sebagian masyarakat terhadap lingkungan sekitar telah menyebabkan pencemaran yang menghambat proses pembangunan berkelanjutan, dengan dampak yang tidak hanya dirasakan oleh lingkungan dan makhluk hidup laut, tetapi juga oleh kehidupan manusia itu sendiri (Saefi & Maulana, 2024).
Di antara berbagai komponen ekosistem laut, padang lamun (seagrass meadows) memegang peranan yang tidak kalah penting. Padang lamun merupakan hamparan tumbuhan berbunga yang hidup terendam di perairan dangkal dan berfungsi sebagai salah satu ekosistem paling produktif di laut. Selain menjadi tempat asuhan (nursery ground) bagi berbagai jenis ikan, udang, dan biota laut lainnya pada fase awal kehidupannya, padang lamun juga berperan sebagai penyerap karbon biru (blue carbon) yang efektif, menstabilkan sedimen dasar laut, serta menjernihkan kualitas air melalui penyerapan nutrien berlebih. Sayangnya, padang lamun termasuk salah satu ekosistem laut yang paling rentan terhadap kerusakan, baik akibat pencemaran, aktivitas manusia di wilayah pesisir, maupun perubahan iklim, sehingga keberadaannya turut menjadi perhatian penting dalam upaya pelestarian ekosistem laut secara menyeluruh (Jalaluddin dkk., 2020).
Menjaga keberlanjutan ekosistem laut seperti Padang lamun juga memerlukan keterlibatan aktif manusia dalam pengelolaannya. Keberlanjutan Padang lamun menjadi kunci bagi keberlanjutan manfaat laut bagi manusia, sehingga penting untuk memasukkan faktor manusia dalam implementasi pengelolaan laut berbasis ekosistem. Oleh karena itu, diperlukan upaya pelestarian lingkungan yang terpadu antara pemerintah, ilmuwan, dan masyarakat guna memastikan ekosistem laut tetap lestari dan mampu terus memberikan manfaat bagi generasi kini maupun mendatang (Suhana, 2021).
Argumentasi (Isi)
Padang lamun merupakan salah satu ekosistem penting di wilayah pesisir yang memiliki fungsi ekologis bagi kehidupan berbagai organisme laut. Keberadaan lamun dapat menyediakan habitat dan mendukung kehidupan biota yang berada di sekitarnya. Oleh karena itu, keberadaan padang lamun perlu dipertahankan sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem pesisir (Umar dkk., 2025).
Lamun juga memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan karbon melalui proses fotosintesis. Karbon tersebut tersimpan dalam biomassa lamun, baik pada bagian atas maupun bawah substrat. Penelitian di Pulau Pamegaran menunjukkan bahwa bagian bawah substrat memiliki biomassa lebih tinggi karena rizoma menyimpan hasil fotosintesis dalam bentuk karbohidrat dan zat hara. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa padang lamun memiliki peranan dalam penyimpanan karbon di wilayah pesisir (Santoso & Adharini, 2022).
Peran lamun sebagai penyimpan karbon juga ditemukan pada wilayah pesisir lainnya di Indonesia. Penelitian di Pulau Kemujan dan Pulau Bengkoang, Taman Nasional Karimunjawa, menunjukkan bahwa ekosistem lamun memiliki stok karbon yang tersimpan pada biomassa dan substrat. Kemampuan tersebut menjadikan lamun sebagai salah satu ekosistem pesisir yang penting untuk dipertahankan dalam upaya menjaga fungsi ekologis dan mendukung mitigasi perubahan lingkungan (Dewi dkk., 2021).
Pelestarian ekosistem lamun perlu dilakukan melalui pengelolaan yang memperhatikan kondisi ekologis kawasan. Kawasan konservasi dapat menjadi salah satu bentuk pengelolaan untuk menjaga keberadaan lamun dan mempertahankan layanan ekosistemnya. Pengelolaan dengan pendekatan sistem ekologi dapat mempertimbangkan jenis, kerapatan, dan tutupan lamun sebagai dasar dalam menentukan kondisi ekosistem dan strategi pengelolaannya (Umar dkk., 2025).
Pemantauan kondisi lamun juga penting untuk mengetahui perubahan ekosistem dari waktu ke waktu. Data mengenai tutupan, kerapatan, biomassa, dan stok karbon dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan langkah konservasi yang sesuai. Pemantauan berkala dilakukan untuk mengetahui perubahan kondisi ekosistem sehingga tindakan pengelolaan dapat dilakukan dengan tepat (Rais et al., 2023).
Penegasan Ulang
Ekosistem laut merupakan bagian krusial dari sistem penyangga kehidupan karena tidak hanya menyediakan sumber daya bagi manusia, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan perairan serta keberlangsungan berbagai organisme. Padang lamun adalah salah satu contoh ekosistem pesisir yang memiliki peran penting, ekosistem ini tidak hanya menyediakan tempat tinggal bagi banyak hewan laut tetapi juga sebagai penyimpan karbon (blue carbon) serta menjernihkan kualitas air melalui penyerapan nutrien berlebih. Interaksi antar komponen dalam ekosistem ini menunjukkan kerusakan pada salah satu bagian dapat memengaruhi keseimbangan ekosistem secara keseluruhan. Oleh karena itu, pemanfaatan sumber daya laut harus di imbangi dengan upaya pelestariannya. Pengelolaan berbasis ekosistem, kawasan konservasi, pemantauan kondisi lamun, serta peran masyarakat menjadi langkah strategis untuk melestarikan ekosistem laut. Pada akhirnya keberlanjutan ekosistem laut sangat bergantung pada keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya dan komitmen untuk menjaga kelestariannya.
Â
Daftar Pustaka
Dewi, S. K., Setyati, W. A., & Riniatsih, I. (2021). Stok Karbon pada Ekosistem Lamun di Pulau Kemujan dan Pulau Bengkoang Taman Nasional Karimunjawa. Journal of Marine Research, 10(1), 39–47. https://doi.org/10.14710/jmr.v10i1.28273
Jalaluddin, M., Octaviyani, I. N., Putri, A. N. P., Octaviyani, W., & Aldiansyah, I. (2020). Padang lamun sebagai ekosistem penunjang kehidupan biota laut di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Indonesia. Jurnal Geografi Gea, 20(1), 44–53. https://doi.org/10.17509/gea.v20i1.22749
Maharani. (2026). Ketahui 24 Manfaat Perairan Laut, Sumber Pangan Melimpah. E-Jurnal. Jurnal STKIPMB. https://jurnal.stkipmb.ac.id/ketahui-24-manfaat-perairan-laut-sumber-pangan-melimpah-e-jurnal
Rais, M., Inaku, D. F., Moka, W. J. C., et al. (2023). Estimasi Stok Karbon Padang Lamun menggunakan Citra Spot-7 di Perairan Pulau Kodingarenglompo, Sangkarrang, Kota Makassar. Jurnal Kelautan Tropis, 26(2), 387–398. https://doi.org/10.14710/jkt.v26i2.16496
Saefi, I. R., & Maulana, I. (2022). Pelestarian ekosistem lautan dalam upaya mendukung implementasi SDGs di Indonesia. Repository UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. http://repository.syekhnurjati.ac.id/id/eprint/13026
Santoso, S. N., & Adharini, R. I. (2022). Biomassa dan Stok Karbon pada Ekosistem Padang Lamun di Pulau Pamegaran, Taman Nasional Kepulauan Seribu. Jurnal Kelautan Tropis, 25(3), 391–400. https://doi.org/10.14710/jkt.v25i3.14030
Suhana. (2021). Manusia dan Keberlanjutan Ekosistem Laut. Literasi Ekonomi Kelautan. https://suhana.web.id/2021/03/14/manusia-dan-keberlanjutan-ekosistem-laut/
Umar, O., Hamzah, S. N., & Hasim, H. (2025). Pengelolaan Ekosistem Lamun dengan Pendekatan Sistem Ekologi di Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Biluhu Timur. Buletin Oseanografi Marina, 14(2), 223–230. https://doi.org/10.14710/buloma.v14i2.66602






