MIU Login

Dinosaurus di Madrasah

Oleh: Dr. Zainal Abidin, M.Kom

 

Semenjak kuliah di Malang, hampir setiap pulang kampung, Saya mengunjungi teman-teman yang menjadi juru kunci sekolahan. Para juru kunci ini hidupnya di sekolahan pagi, siang, bahkan malam. Mereka pulang ke rumah hanya sebentar-sebentar saja, untuk mandi atau makan, kemudian balik lagi ke sekolahan. Saya datang ke sekolah malam hari agar tidak mengganggu operasional sekolah. Di situ, kita belajar bareng tentang penggunaan komputer di sekolah.

Entah sudah berapa luuuaama, saya tidak ketemu para kuncen sekolahan, -kuncen sebutan untuk para juru kunci. Baru pertengahan 2025, saya menemui para kuncen. Sambil ngopi santai, para kuncen bercerita kalau sudah pada lulus S2, bahkan ada yang sedang ragu-ragu untuk daftar S-3. Di sela-sela cerita, Saya bertanya tentang apa saja kebutuhan para pengelola dan guru khususnya untuk mengajar. Para kuncen bercerita kekurangan yang dihadapi, cerita yang panjang dan lebar. Kebutuhannya sangat buuuanyak.  Saya bilang ”ok kita bantu dua dulu”, upgrade kemampuan membuat media pembelajaran dan Learning Management System, itu yang bisa kita kejar dengan cepat.

Pertengahan 2026, saya temui mereka kembali bersama konco-konco dari UIN Malang. Ini agak formal, menemuai para kepala madrasah, diantar salah satu kuncen. Sebelum  sampai madrasah, sambil jalan, kita diskusi di dalam mobil. Sambil nyetir, sang kuncen bertanya, ”Piye? sido ngajari PPT neng guru?”. ”Sanes PPT, tapi bahasa pemrograman web”, jawabku. ”Guru-guru opo yo iso? wong dudu wong komputer”. Sambil memandang sawah-sawah di kiri kanan jalan, aku jawab ”Amaan, sak niki wonten AI, bade damel nopo mawon langkung gampil”.  Kemudian dia kembali bertanya: ”Berarti sing dilatih guru sing duwe laptop apik?”. ”Mboten, sedoyo guru pokoke ingkang kagungan laptop”.

Sampailah kami di madrasah pertama, kami menyampaikan tujuan untuk mengundang beberapa guru dan operator untuk pengenalan LeMaS dan pelatihan pengembangan media pembelajaran dengan AI. Tak lupa kami, tanyakan tanggal-tanggal sibuk bagi madrasah. Kami selesaikan koordinasi dengan empat madrasah dalam waktu seharian.  Malamnya, kita diskusi lagi tentang sinkronisasi jadwal pelatihan dan kesulitan guru dalam evaluasi dengan pertanyaan terbuka. Dalam diskusi itu saya baru sadar, jika melupakan pertanyaan terbuka, dan sangat berbeda dengan pertanyaan jenis pilihan ganda jawaban jamak.

Sesuai dengan jadwal yang disepakati, kami datang lagi bersama tim UIN Malang yang lebih lengkap. Kami diarahkan ke GOR MI Sultan. Pengenalan LeMaS dan pelatihan di hadiri 23 guru dan operator dari 6 MIS dan MIN. Di luar dugaan, para guru sangat senang. Hanya dengan memposisikan AI sebagai asisten, guru dapat membuat aplikasi web hanya berbekal copy paste ke Notepad. Media pembelajaran dalam bentuk Gim sederhana menjadi aplikasi pertama yang dibuat. Gim kedua, gim dengan skala lebih sulit. Ada gim mencocokkan gambar, kuis how want to be millionaire, ular & berlian. Saking asyiknya, waktu yang disediakan molor beberapa jam setiap harinya.

Pelatihan tiga hari telah membuat para guru dan kuncen senang. Kami-pun sangat senang. Sambil pelatihan dan pengenalan LeMaS, kami menggali permasalahan langsung dari guru dan operator. Ternyata masalahnya makin banyak. Kami sangat bersyukur, tidak hanya dapat melihat gajah dipeluk mata, tetapi kami mengetahui ada dinosaurus di madrasah. Semoga kegiatan ini dapat membuat dinosaurus di madrasah menjadi remang-remang, bukan dinosaurus di madrasah tidak tampak.

 

Berita Terkait

Artikel Terkait