MIU Login

Renungan – Hari Bumi

Oleh: Agus Mulyono

Memaknai Hari Bumi

Dulu… di kampung… kita mengenal bumi bukan sebagai objek… tapi sebagai ibu… yang dipijak dengan hati-hati… yang disentuh dengan rasa…
yang dipahami bukan lewat rumus… tapi lewat adab.

Pagi hari… orang tua kita menyapu halaman bukan sekadar membersihkan… tapi seperti sedang merawat hubungan…
antara manusia, tanah, dan kehidupan.

Tapi hari ini… kita seperti kehilangan rasa itu.
Banyak fenomena alam yang menandakan bahwa bumi telah menurun kualitasnya.

Kita melihat tanah pertanian yang dulu subur.. kini mulai lelah.
Hutan yang dulu rindang… kini tinggal cerita.
Air yang dulu jernih… kini harus dibeli dengan harga yang tidak murah.
Udara yang dulu menyehatkan… kini seringkali kita hirup dengan rasa khawatir.
Dan yang paling menyedihkan…
kita seperti menganggap ini semua hal yang biasa.

Padahal… ini bukan sekadar perubahan… ini adalah tanda.
Tanda bahwa ada yang tidak lagi selaras.
Kenapa ini terjadi…?
Jawabannya sebenarnya sederhana… meskipun kita sering menghindarinya.

Manusia telah membabati hutan, menggunduli pepohonan,
mengeruk bumi tanpa jeda,
menggunakan pupuk kimia tanpa kendali, mendirikan bangunan di tanah yang seharusnya menjadi resapan, membuang limbah, menyebarkan asap,
dan memperlakukan alam seolah-olah tidak punya batas kesabaran.

Menurut pak kyai,
kerusakan itu bukan datang tiba-tiba, ia adalah akumulasi dari kesombongan manusia…
yang merasa bisa menguasai alam… tanpa harus tunduk pada aturan-Nya.

Allah sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…”
(QS. Ar-Ruum: 41)
Ayat ini bukan sekadar peringatan… tapi seperti cermin…
yang menunjukkan wajah kita sendiri. Dan seringkali… kita tidak berani melihatnya terlalu lama.
Kita terlalu sering berjalan berlawanan arah dengan hukum alam.

Ilmu yang kita banggakan… kadang justru menjauhkan kita dari kebijaksanaan. Teknologi yang kita kembangkan… tidak selalu membawa keberkahan.
Kita menyebutnya modern…
kita menyebutnya canggih…
kita menyebutnya efisien…
tapi diam-diam…
kita sedang menciptakan kerusakan yang lebih sistematis.

Menurut pak kyai,
ilmu itu seharusnya mendekatkan manusia pada keseimbangan…
bukan justru mempercepat kehancuran. Karena ilmu tanpa adab… akan melahirkan keserakahan yang terorganisir.

Hari Bumi,
seharusnya bukan sekadar seremoni, bukan sekadar peringatan tahunan, bukan hanya menanam satu dua pohon… lalu selesai.

Hari Bumi adalah momentum untuk kembali bertanya,
apakah cara hidup kita masih selaras dengan bumi,atau justru menjadi bagian dari kerusakan itu sendiri?

Allah juga berfirman:
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri…”
(QS. Asy-Syura: 30)

Ayat ini tidak sedang menyalahkan… tapi sedang mengajak kita untuk jujur. Bahwa mungkin… yang perlu diperbaiki bukan hanya sistem di luar sana…
tapi juga cara kita memandang kehidupan.

Menurut pak kyai…
taubat itu bukan hanya soal ibadah pribadi… tapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan alam. Karena merusak bumi…
pada hakikatnya adalah bentuk kelalaian terhadap amanah.
Allah telah menciptakan manusia dari tanah… dan menjadikannya sebagai pemakmur bumi.
(QS. Huud: 61)

Ini bukan sekadar status…
ini adalah tanggung jawab.
Ada dua peran utama kita pertama… memakmurkan bumi.
kedua… menjaga bumi dari kerusakan.

Memakmurkan… bukan berarti mengeksploitasi tanpa batas.
Menjaga… bukan berarti hanya diam tanpa tindakan. Keseimbangan di antara keduanya… itulah yang sering kita lupakan.

Dulu… kita mengambil secukupnya…
hari ini… kita mengambil sebanyak-banyaknya.

Dulu… kita berpikir untuk generasi berikutnya…
hari ini… kita lebih sibuk menghabiskan untuk diri sendiri.

Padahal bumi ini bukan warisan dari nenek moyang…
tapi titipan untuk anak cucu.

Menurut pak kyai…
orang yang bijak bukan yang paling banyak mengambil…
tapi yang paling mampu menjaga.
Kita tetap boleh memanfaatkan kekayaan bumi…
kita boleh membangun… mengembangkan… menciptakan…
tapi dengan satu syarat…
jangan sampai merusak keseimbangan.

Karena ketika keseimbangan itu hilang… yang rusak bukan hanya alam… tapi juga kehidupan manusia itu sendiri.

Hari Bumi seharusnya menjadi momen untuk kembali menyadari…
bahwa kita ini bukan penguasa…
kita hanya penjaga.
Penjaga yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban.
Dan mungkin… pertanyaan itu sederhana… tapi berat:
apa yang sudah kita lakukan untuk bumi ini?

Bukan seberapa banyak yang kita ambil… tapi seberapa banyak yang kita jaga.

Karena… bumi tidak butuh kita untuk bertahan…
kitalah yang butuh bumi… untuk tetap hidup.

Wallahu a’lam
🙏🙏🙏

Berita Terkait

Artikel Terkait