MIU 登录

Renungan Jum’at

Oleh: Agus Mulyono


Bersaing dan menang.. Belum cukup

Sering kali kita mendengar kalimat yang sangat akrab di lingkungan pendidikan: “Kita harus maju. Kita harus mampu bersaing. Madrasah harus mampu bersaing dengan sekolah lain. Perguruan Tinggi Keagamaan Islam harus mampu bersaing dengan perguruan tinggi lainnya.”

Sebagai pimpinan madrasah, perguruan tinggi agama, pesantren, kita memang perlu membangun semangat untuk maju. Kita tidak boleh minder hanya karena membawa nama madrasah atau perguruan tinggi Islam. Kita harus menunjukkan bahwa lembaga pendidikan Islam juga mampu menghasilkan lulusan yang hebat, penelitian yang berkualitas, teknologi yang unggul, dan karya yang diakui dunia.

Tetapi, ada satu pertanyaan yang lebih penting.
Apakah tujuan pendidikan Islam memang hanya agar kita bisa bersaing?
Kalau jawabannya hanya bersaing dan menang, rasanya masih belum cukup.

Sebab, kalau hanya sekadar bersaing, pada akhirnya kehidupan ini hanya mengalami perpindahan tangan.
Dulu yang menguasai ekonomi adalah mereka, sekarang kita ingin menguasainya.
Dulu yang memegang teknologi adalah mereka, sekarang kita ingin memegangnya.
Dulu yang menguasai politik adalah mereka, sekarang kita ingin menguasainya.
Dulu yang mengendalikan perusahaan adalah mereka, sekarang kita ingin masuk dan menjadi pengendalinya.

Tetapi pertanyaannya: setelah kita menguasai, apakah dunia menjadi lebih baik?
Nah, di sinilah persoalannya.
Menurut Pak Kyai, pendidikan itu bukan sekadar membuat seseorang pintar mencari tempat dalam kehidupan. Pendidikan seharusnya membuat seseorang mampu memberi arah kepada kehidupan.

Kalau lulusan perguruan tinggi Islam hanya menjadi pemain yang sangat hebat dalam sistem yang sudah ada, tetapi tidak pernah bertanya apakah sistem itu baik atau buruk, lalu apa bedanya kita dengan yang lain?
Misalnya, seorang lulusan perguruan tinggi Islam bekerja di sebuah lembaga keuangan. Kariernya bagus. Pangkatnya naik. Gajinya besar. Dia menjadi manajer, kemudian direktur.
Tentu kita bangga.
Tetapi pertanyaannya bukan hanya: “Seberapa tinggi jabatanmu?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Nilai apa yang kamu bawa ke dalam pekerjaanmu?”
Apakah kehadiranmu membuat lembaga itu menjadi lebih adil? Lebih manusiawi? Lebih berpihak kepada masyarakat kecil? Atau justru kamu hanya menjadi orang yang sangat pandai menjalankan sistem yang sudah ada?

Begitu juga dengan lulusan perguruan tinggi Islam yang bekerja di perusahaan pertambangan.
Dia boleh saja menjadi manajer hebat. Bahkan menjadi direktur.
Tetapi ketika dia tahu bahwa aktivitas perusahaan berpotensi merusak lingkungan, sementara dia hanya berkata, “Saya hanya menjalankan tugas,” maka kita perlu bertanya: di mana nilai Islam yang dibawanya?
Bukankah manusia diberi amanah untuk menjaga bumi?
Al-Qur’an mengingatkan kita agar jangan membuat kerusakan di muka bumi. Maka menjadi seorang profesional seharusnya tidak membuat kita kehilangan keberanian moral.
Bukan berarti semua orang harus keluar dari perusahaan.
Bukan pula berarti semua orang harus meninggalkan dunia industri.

Justru sebaliknya.
Masuklah ke dalamnya, tetapi jangan kehilangan nilai.
Kalau berada di perusahaan tambang, jadilah orang yang mendorong teknologi pertambangan yang lebih ramah lingkungan.
Kalau berada di industri, dorong efisiensi energi dan pengelolaan limbah.
Kalau berada di perbankan, dorong sistem keuangan yang lebih adil dan berpihak kepada masyarakat.
Kalau berada di pemerintahan, jadilah birokrat yang melayani, bukan birokrat yang minta dilayani.
Kalau berada di dunia politik, jangan hanya belajar bagaimana memenangkan pemilu. Belajarlah bagaimana membuat masyarakat menang dalam kehidupan.

Itulah bedanya antara sekadar bersaing dengan memberi warna.
Kita juga melihat hal yang sama dalam politik.
Lulusan perguruan tinggi Islam masuk ke dunia politik. Kita tentu senang. Artinya, mereka memiliki kesempatan untuk ikut menentukan arah bangsa.
Tetapi jangan sampai setelah masuk ke politik, dia justru belajar semua permainan lama: politik transaksional, jual beli pengaruh, permainan anggaran, dan berbagai kompromi yang mengorbankan kepentingan rakyat.
Kalau akhirnya begitu, lalu apa yang berubah?

Dulu orang lain yang memainkan permainan itu.
Sekarang kita ikut memainkannya.
Hanya pindah tangan.
Begitu juga dengan ilmu pengetahuan.
Kita sering bangga ketika penelitian kita berhasil masuk jurnal internasional. Kita bangga ketika sitasi meningkat. Kita bangga ketika Scopus bertambah. Itu semua penting.
Tetapi jangan berhenti di sana.
Jangan sampai penelitian kita hanya menjadi perlombaan siapa yang paling banyak publikasi, siapa yang paling tinggi indeksnya, siapa yang paling banyak sitasinya.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Pengetahuan ini akan dibawa ke mana?
Teknologi ini akan digunakan untuk siapa?
Penelitian ini akan menyelesaikan persoalan siapa?

Apakah ilmu yang kita bangun hanya menjelaskan dunia, atau juga ikut memperbaiki dunia?
Di sinilah saya kira perguruan tinggi Islam mempunyai pekerjaan rumah yang besar.

Jangan sampai ayat hanya menjadi legitimasi.
Kita perlu lebih jauh.
Nilai-nilai Islam harus ikut memengaruhi cara kita memandang ilmu, cara kita memilih masalah penelitian, cara kita mengembangkan teknologi, dan untuk siapa teknologi itu dibuat.

Kalau kita meneliti lingkungan, maka lingkungan bukan sekadar objek penelitian. Ia adalah amanah.
Kalau kita mengembangkan teknologi kesehatan, maka manusia bukan sekadar objek eksperimen. Ia adalah makhluk yang harus dimuliakan.
Kalau kita mengembangkan kecerdasan buatan, maka pertanyaannya bukan hanya apakah teknologinya canggih, tetapi juga: apakah teknologi itu memuliakan manusia?
Kalau kita membangun ekonomi, pertanyaannya bukan hanya apakah pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi siapa yang menikmati pertumbuhan itu.

Di sinilah Islam seharusnya memberi warna.
Karena itu, ukuran keberhasilan madrasah dan perguruan tinggi Islam tidak cukup hanya dengan mengatakan:
“Lulusan kita mampu bersaing.”
Tapi yg perlu dikatakan:
“Lulusan kita mampu mengubah kualitas persaingan.”

Bukan hanya menjadi pemain terbaik dalam permainan lama, tetapi mampu memperbaiki permainannya.
Bukan hanya menjadi orang paling sukses di dalam sistem, tetapi mampu membuat sistem menjadi lebih manusiawi.

Bukan hanya mengejar pertumbuhan, tetapi menghadirkan keberkahan.
Bukan hanya mengejar kekuasaan, tetapi menghadirkan kemaslahatan.

Menurut Pak Kyai, orang berilmu itu mestinya seperti air.
Dia masuk ke mana saja, tetapi membawa kehidupan.
Dia tidak sibuk mengatakan, “Saya lebih hebat dari yang lain.”
Tetapi orang lain merasakan manfaat dari keberadaannya.

Maka, cita-cita pendidikan Islam seharusnya tidak berhenti pada “competitive advantage”, tetapi bergerak menuju “contributive advantage”, keunggulan yang menghasilkan kontribusi.

Kita tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang mampu mendapatkan pekerjaan.
Kita harus menghasilkan lulusan yang ketika bekerja, pekerjaannya menjadi lebih baik karena kehadirannya.
Kita tidak cukup menghasilkan peneliti yang mampu menghasilkan publikasi.
Kita harus menghasilkan peneliti yang ilmunya mampu memberi manfaat.

Kita tidak cukup menghasilkan pejabat yang mampu mendapatkan jabatan.
Kita harus menghasilkan pejabat yang ketika mendapatkan jabatan, masyarakat merasakan keadilan.
Kita tidak cukup menghasilkan pengusaha yang mampu menjadi kaya.
Kita harus menghasilkan pengusaha yang kekayaannya menghadirkan kesejahteraan bagi banyak orang.

Dan kita tidak cukup menghasilkan kampus Islam yang mampu bersaing dengan kampus lain.
Kampus Islam harus mampu memberi warna kepada peradaban.
Sebab kalau kita hanya ingin menang dalam persaingan, mungkin suatu hari kita memang akan menang.
Tetapi kemenangan itu belum tentu mengubah apa-apa.
Yang berubah mungkin hanya siapa yang memegang kendali.

Dulu orang lain.
Sekarang kita.
Dulu mereka yang menguasai.
Sekarang kita yang menguasai.
Tetapi kalau cara berpikirnya sama, orientasinya sama, kerakusannya sama, dan kerusakannya juga sama, maka sesungguhnya tidak banyak yang berubah.

Karena itu, mari kita naikkan cita-cita pendidikan Islam.
Jangan hanya mendidik generasi agar mampu bersaing.
Didiklah mereka agar mampu berkontribusi.
Jangan hanya agar mampu memenangkan kehidupan.
Tetapi agar mampu memperbaiki kehidupan.
Jangan hanya agar menjadi manusia yang sukses.
Tetapi menjadi manusia yang bermanfaat.
Sebab pada akhirnya, mungkin pertanyaan terbesar pendidikan bukanlah:
“Seberapa hebat kita dibandingkan orang lain?”
Tetapi:
“Seberapa banyak kebaikan yang berubah karena kita hadir?”

Dan mungkin, di situlah sesungguhnya makna pendidikan Islam.
Bukan sekadar mencetak manusia yang mampu memenangkan persaingan.
Tetapi menghadirkan manusia yang mampu mewarnai kehidupan dengan nilai-nilai kebaikan.

Karena Islam tidak datang hanya untuk menjadi warna lain di tengah warna-warni kehidupan.
Islam datang untuk menghadirkan kehidupan yang lebih adil, lebih manusiawi, lebih beradab, dan lebih membawa rahmat bagi semesta.

Maka sekali lagi, tidak cukup hanya sekadar bisa bersaing.
Yang lebih penting adalah:
setelah kita hadir, setelah kita menang, setelah kita menguasai.. apakah kehidupan menjadi lebih baik?
Kalau jawabannya iya, mungkin di situlah pendidikan kita benar-benar telah menemukan maknanya.

Wallahu a’lam
🙏🙏🙏

相关新闻

Artikel Terkait