MIU Login

Renungan Jum’at

Oleh: Agus Mulyono (Dekan Fakultas Sains dan Teknologi)


Antara yang Tampak dan Realitas yang Sesungguhnya

Realitas tidak selalu sesederhana apa yang ditangkap oleh indra kita. Sesuatu yang tampak di permukaan belum tentu menggambarkan keseluruhan proses yang berlangsung di baliknya. Bahkan, kadang-kadang apa yang kita anggap sudah jelas, ternyata masih menyimpan banyak hal yang belum kita pahami.

Perkembangan teknologi belakangan ini memberikan ilustrasi yang cukup menarik. Kita bisa melihat gambar hasil kecerdasan buatan atau artificial intelligence yang begitu meyakinkan. Wajah seseorang, suasana sebuah kota, bahkan peristiwa yang seolah-olah benar-benar terjadi, dapat dibuat sedemikian rupa sehingga sulit dibedakan dari kenyataan. Mata kita melihat sesuatu yang tampak nyata, padahal belum tentu ada peristiwa nyata di balik gambar tersebut. Ada proses pembentukan, pengolahan, dan rekayasa informasi yang bekerja di belakangnya.

Ada pelajaran menarik yang bisa kita ambil. Bahwa apa yang tampak belum tentu identik dengan realitas yang sesungguhnya. Indra kita hanya menangkap sebagian informasi, sementara proses yang mendasarinya bisa jauh lebih kompleks daripada yang terlihat.

Dalam fisika, kita belajar untuk tidak terlalu cepat menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan apa yang tampak. Ketika melihat sebuah benda bergerak, misalnya, kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa benda itu berpindah tempat. Kita perlu memahami gaya yang bekerja, energi yang terlibat, kondisi lingkungan, dan hukum-hukum yang mengatur gerak tersebut. Begitu pula ketika melihat cahaya, kita tidak cukup hanya memahami apa yang sampai ke mata. Ada proses interaksi gelombang elektromagnetik dengan materi, proses penyerapan, pemantulan, hingga bagaimana informasi itu diterjemahkan oleh sistem penglihatan kita.

Artinya, fisika tidak hanya mengajarkan kita melihat alam, tetapi juga mengajak kita memahami apa yang bekerja di balik sesuatu yang kita lihat.

Hal yang lebih menarik terjadi ketika kita memasuki wilayah fisika modern, khususnya fisika kuantum. Di sana, gambaran tentang realitas menjadi semakin tidak sederhana. Pada skala atom dan partikel elementer, alam tidak selalu berperilaku sebagaimana pengalaman kita dalam kehidupan sehari-hari. Elektron, misalnya, tidak bisa begitu saja dibayangkan seperti bola kecil yang mengelilingi inti atom sebagaimana planet mengelilingi matahari.
Keadaan elektron dijelaskan melalui fungsi gelombang yang memberikan informasi tentang kemungkinan hasil pengukuran. Ketika dilakukan pengukuran, kita memperoleh hasil tertentu sesuai dengan besaran yang diukur dan kondisi eksperimennya.

Di sinilah kita belajar bahwa cara kita mengamati, mengukur, dan merumuskan suatu fenomena menjadi bagian penting dalam memahami realitas fisik. Bukan berarti realitas sepenuhnya ditentukan oleh pikiran manusia, tetapi apa yang dapat kita ketahui tentang alam selalu berkaitan dengan cara kita berinteraksi dengannya.

Menurut Pak Kyai, barangkali di sinilah manusia perlu belajar rendah hati. Jangan karena sudah melihat, lalu merasa sudah mengetahui. Jangan karena sudah memahami sebagian, lalu menganggap telah menguasai keseluruhan. Sebab, sesuatu yang terlihat sederhana belum tentu sederhana, dan sesuatu yang kita anggap sudah selesai dipahami bisa jadi masih menyimpan banyak pertanyaan.

Dalam Islam, kita berkali-kali diajak untuk memperhatikan dan memikirkan penciptaan langit dan bumi. Perintah untuk memperhatikan alam bukan sekadar mengajak kita menikmati keindahannya, tetapi juga menggali pengetahuan dan menemukan tanda-tanda kebesaran Allah di dalamnya. Alam semesta bukan hanya objek untuk dilihat, tetapi juga sumber pembelajaran yang tidak pernah habis.

Menariknya, semakin jauh ilmu pengetahuan berkembang, semakin banyak pula hal yang justru membuat manusia menyadari keterbatasan pengetahuannya. Dahulu manusia mungkin menganggap atom sebagai bagian terkecil dari materi. Tetapi kemudian ditemukan elektron, proton, dan neutron. Penelitian terus berkembang, dan kita menemukan bahwa partikel-partikel tersebut pun memiliki struktur dan dinamika yang lebih kompleks. Apa yang dahulu dianggap sebagai batas pengetahuan ternyata hanya menjadi pintu menuju pertanyaan berikutnya.

Kita membuat teleskop yang semakin canggih untuk melihat galaksi yang jaraknya miliaran tahun cahaya. Kita mengembangkan mikroskop untuk mengamati struktur yang sangat kecil. Kita menggunakan komputer dan kecerdasan buatan untuk mengolah data yang tidak mungkin lagi dihitung secara manual oleh manusia. Semua itu menunjukkan betapa luar biasanya kemampuan manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

Namun, ada satu hal yang jangan sampai terlupakan. Manusia bukan sekadar penonton yang berdiri di luar alam semesta. Kita adalah bagian dari alam yang sedang kita pelajari. Tubuh kita tersusun dari atom-atom yang tunduk pada hukum fisika. Kehidupan kita berlangsung melalui pertukaran energi dan interaksi berbagai sistem biologis. Bahkan, unsur-unsur kimia penyusun tubuh kita memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan proses pembentukan bintang-bintang di alam semesta.

Dengan kata lain, ketika kita mempelajari alam semesta, sesungguhnya kita juga sedang mempelajari bagian dari diri kita sendiri.

Maka, semakin canggih kemampuan kita melihat ke luar, semestinya semakin dalam pula kemampuan kita melihat ke dalam. Jangan sampai teleskop kita semakin jauh menjangkau galaksi, tetapi cara pandang kita terhadap kehidupan justru semakin sempit. Jangan sampai kita semakin mahir mengolah informasi, tetapi semakin sulit membedakan antara informasi dan kebenaran.

Menurut Pak Kyai, ilmu yang baik semestinya tidak hanya menambah apa yang kita ketahui, tetapi juga memperbaiki cara kita memahami kehidupan. Pengetahuan seharusnya membuat manusia semakin bijaksana, bukan sekadar semakin merasa pintar.

Dan mungkin salah satu keindahan ilmu pengetahuan justru terletak pada kenyataan bahwa ia tidak pernah benar-benar selesai. Setiap jawaban membuka pertanyaan baru. Setiap penemuan menghadirkan ruang untuk penemuan berikutnya. Dan setiap kali manusia merasa semakin dekat dengan pemahaman tentang alam semesta, selalu ada sisi lain yang mengingatkan bahwa masih begitu banyak hal yang belum diketahui.

Mungkin, di situlah letak keindahannya. Ilmu pengetahuan tidak menjadikan manusia merasa telah mengetahui segalanya, tetapi mengajarkan manusia untuk terus bertanya, mencari, dan memahami.
Ssemakin luas pengetahuan seseorang, semestinya semakin lapang pula kesadarannya bahwa realitas jauh lebih luas daripada apa yang mampu ditangkap oleh penglihatannya.

Wallahu a’lam
🙏🙏🙏

Berita Terkait

Artikel Terkait