MIU Login

Renungan Jum’at

Oleh: Agus Mulyono

 

Islam: Jangan Hanya Terlihat, Tetapi Terasa

Ada satu pertanyaan yang sebenarnya sederhana, tetapi kadang membuat kita berpikir cukup lama: sebenarnya Islam itu apa? Pertanyaan ini muncul bukan karena kita tidak tahu rukun Islam, bukan karena kita tidak hafal ajaran agama, dan bukan pula karena kita tidak mengenal simbol-simbol keislaman. Justru pertanyaan ini muncul karena dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat sesuatu yang agak paradoks: seseorang bisa sangat religius dalam penampilan, sangat fasih berbicara tentang agama, sangat aktif dalam organisasi keislaman, bahkan berada dalam lembaga yang menggunakan nama Islam, tetapi dalam perilaku sehari-hari nilai-nilai Islam belum tentu selalu hadir secara utuh.

“Katanya orang Islam, kok masih suka berbohong?”
“Katanya tokoh agama, kok bisa tersandung persoalan hukum?”
“Katanya lembaga pendidikan Islam, kok masih ada yang lebih sibuk mengejar nilai daripada membangun integritas?”
“Katanya aktivis organisasi Islam, kok ketika berbeda pendapat justru saling menyerang?”
“Katanya rajin beribadah, kok di media sosial komentarnya begitu kasar?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sebenarnya tidak perlu diarahkan kepada orang lain. Lebih baik pertanyaan tersebut kita balik kepada diri sendiri: jangan-jangan selama ini kita lebih sibuk terlihat Islami daripada berusaha menjadi Islami.

Menurut Pak Kyai, persoalannya bukan pada peci, sarung, jilbab, gamis, jenggot, atau berbagai simbol keagamaan lainnya. Semua itu memiliki tempat dan maknanya masing-masing. Tetapi, menurut beliau, “Jangan sampai orang mengenali Islam dari pakaian kita, tetapi tidak menemukan Islam dari perilaku kita.”

Kalimat Pak Kyai ini sederhana, tetapi cukup dalam.
Sebab Islam memang tidak hanya berbicara tentang apa yang tampak dari luar. Islam juga berbicara tentang apa yang tumbuh di dalam diri dan kemudian keluar dalam bentuk perilaku. Islam berbicara tentang kejujuran ketika tidak ada orang yang mengawasi, tentang amanah ketika seseorang memperoleh kekuasaan, tentang keadilan ketika memiliki kesempatan untuk mengambil keuntungan, tentang kesantunan ketika sedang berbeda pendapat, dan tentang kepedulian ketika melihat orang lain mengalami kesulitan.

Karena itu, mungkin kita perlu membedakan antara simbol Islam dan nilai Islam. Simbol adalah sesuatu yang tampak, sedangkan nilai adalah sesuatu yang terasa. Simbol dapat membuat orang mengenali identitas kita, tetapi nilai membuat orang merasakan manfaat dari keberadaan kita.

Hari ini, Kita hidup di zaman ketika sebuah peristiwa bisa menjadi viral hanya dalam hitungan menit. Orang bisa terkenal bukan karena karya yang bertahun-tahun dibangun, tetapi karena satu video yang kebetulan masuk algoritma. Sebuah komentar bisa menyebar ke mana-mana sebelum kita sempat memastikan apakah informasi yang kita terima benar atau tidak. Bahkan dengan perkembangan kecerdasan buatan, gambar, suara, dan video dapat direkayasa sedemikian rupa sehingga batas antara kenyataan dan manipulasi semakin sulit dikenali.
Dalam situasi seperti itu, nilai Islam justru semakin dibutuhkan.

Dulu orang mungkin berbuat salah di belakang rumah dan hanya diketahui beberapa tetangga. Sekarang seseorang bisa membuat kesalahan di depan layar dan kesalahan itu dapat disaksikan ribuan bahkan jutaan orang. Dulu fitnah mungkin disampaikan dari mulut ke mulut, sekarang cukup dengan satu kali menekan tombol share. Dulu orang harus bertemu untuk bertengkar, sekarang dua orang yang tidak pernah bertemu pun bisa saling mencaci melalui kolom komentar.

Maka akhlak hari ini tidak cukup hanya dibutuhkan di masjid, sekolah, kampus, kantor, atau rumah. Akhlak juga harus hadir di WhatsApp, TikTok, Instagram, YouTube, Facebook, dan seluruh ruang digital yang kita gunakan setiap hari.
Jempol kita juga perlu mempunyai akhlak.
Sebelum membagikan sesuatu, perlu ada kejujuran. Sebelum memberikan komentar, perlu ada kesantunan. Sebelum menuduh seseorang, perlu ada kehati-hatian. Sebelum ikut mempermalukan seseorang yang sedang viral, perlu ada kesadaran bahwa di balik layar itu ada manusia yang mempunyai keluarga, perasaan, dan martabat.

Dalam konteks ini menarik memperhatikan suasana Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang berlangsung di Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026. Muktamar merupakan forum permusyawaratan tertinggi NU, yang tidak hanya membicarakan pergantian kepemimpinan, tetapi juga membahas persoalan keagamaan dan kemasyarakatan, program lima tahun ke depan, rekomendasi kebangsaan, serta berbagai agenda bahtsul masail. Puncak agenda organisasi dijadwalkan mencakup pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU untuk masa khidmah 2026–2031.

Yang menarik bukan sekadar siapa yang akan menjadi pemimpin berikutnya. Yang jauh lebih penting adalah apa yang akan dibawa oleh kepemimpinan tersebut dan bagaimana warga NU menjaga suasana musyawarah agar tetap berada dalam koridor nilai-nilai yang selama ini menjadi kekuatan NU.

Tema Muktamar kali ini, “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa,” sebenarnya mengandung pesan yang sangat luas. Marwah berarti menjaga kehormatan, sedangkan khidmah berarti pengabdian. Kalau digabungkan, kira-kira pesannya adalah: semakin besar organisasi, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga kehormatan dan semakin luas pula pengabdian yang harus diberikan kepada masyarakat.

Karena itu, momentum Muktamar semestinya tidak hanya menjadi kompetisi tentang siapa yang mendapatkan amanah kepemimpinan, tetapi juga menjadi momentum untuk bertanya: setelah kepemimpinan berganti, apa yang akan semakin baik bagi umat dan bangsa?
Ini bukan hanya pertanyaan untuk NU. Ini pertanyaan untuk semua organisasi keagamaan.
Ketika sebuah organisasi Islam melakukan pemilihan pemimpin, jangan sampai seluruh energi habis pada persoalan siapa yang menang dan siapa yang kalah, sementara pertanyaan tentang umat, pendidikan, kemiskinan, lingkungan, teknologi, moral generasi muda, dan masa depan bangsa justru menjadi nomor sekian.

Organisasi keagamaan tentu membutuhkan kepemimpinan. Tetapi kepemimpinan dalam Islam pada hakikatnya bukan sekadar posisi, apalagi fasilitas. Kepemimpinan adalah amanah. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral yang melekat kepadanya.

Memang menarik menyoroti sesuatu yang berlabel agama khususnya Islam, Organisasi keagamaan, Lembaga Pendidikan keagamaan, partai politik dll.
Tidak ada masalah dengan partai yang membawa identitas keagamaan. Tidak ada masalah dengan organisasi yang menggunakan nama Islam. Tidak ada masalah dengan lembaga pendidikan yang menjadikan Islam sebagai identitas. Semua itu merupakan bagian dari dinamika masyarakat.

Yang perlu dijaga adalah jangan sampai Islam hanya menjadi identitas untuk memperoleh legitimasi, tetapi nilai Islam justru ditinggalkan ketika berhadapan dengan kepentingan.
Sebab agama terlalu mulia kalau hanya digunakan sebagai akses menuju kekuasaan.
Islam terlalu luas kalau hanya dipersempit menjadi identitas kelompok.
Islam terlalu indah kalau hanya dijadikan slogan.
Dan Islam terlalu besar kalau hanya dipakai sebagai alat untuk memenangkan perdebatan.

Islam seharusnya menjadi energi moral yang membuat seseorang lebih jujur ketika mendapatkan kekuasaan, lebih adil ketika mempunyai kewenangan, lebih rendah hati ketika memperoleh jabatan, dan lebih peduli ketika melihat orang lain membutuhkan pertolongan.
Karena itu, kita tidak perlu terlalu sibuk memperdebatkan siapa yang paling Islami. Kita juga tidak perlu terlalu mudah memberikan label kepada orang lain. Lebih baik kita berlomba menghadirkan nilai Islam dalam ruang kehidupan masing-masing.

Kita kadang lebih senang berbicara tentang Islam daripada menjalankan nilai Islam. Kita lebih mudah memperdebatkan siapa yang benar daripada belajar bagaimana memperlakukan orang lain dengan benar. Kita lebih senang membicarakan kesalahan orang lain daripada melakukan evaluasi terhadap diri sendiri.

Ukuran keberislaman tidak semestinya hanya dilihat dari seberapa banyak simbol agama yang kita tampilkan, tetapi juga dari seberapa banyak kemaslahatan yang lahir dari keberadaan kita.
Apakah kehadiran kita membuat lingkungan menjadi lebih damai?
Apakah keputusan kita membuat orang lain merasa lebih adil?
Apakah ilmu kita membuat kehidupan menjadi lebih baik?
Apakah jabatan kita membuat pelayanan semakin baik?
Apakah kekayaan kita membuat orang lain ikut merasakan manfaat?
Apakah media sosial kita membuat orang mendapatkan informasi dan inspirasi, bukan kebencian dan fitnah?

Kalau jawabannya iya, di situlah nilai Islam sedang bekerja.
Mungkin inilah saatnya kita sedikit mengubah cara pandang. Kita tidak harus mengurangi simbol-simbol keislaman, tetapi kita perlu memperkuat substansinya. Kita tidak perlu meninggalkan organisasi keislaman, tetapi kita harus memastikan organisasi tersebut menjadi ruang untuk memperbesar manfaat. Kita tidak perlu menghindari politik, tetapi politik harus dikawal dengan moral. Kita tidak perlu takut dengan teknologi, tetapi teknologi harus diarahkan oleh nilai.

Sebab dunia tidak kekurangan orang pintar. Dunia juga tidak kekurangan orang yang pandai berbicara. Dunia bahkan semakin banyak memiliki teknologi yang luar biasa.
Yang semakin dibutuhkan adalah manusia yang mempunyai integritas.
Manusia yang ketika tidak diawasi tetap jujur.
Manusia yang ketika mempunyai kesempatan mengambil keuntungan tetap memilih amanah.
Manusia yang ketika berbeda pendapat tidak kehilangan adab.
Manusia yang ketika memperoleh jabatan tidak kehilangan kerendahan hati.
Dan manusia yang ketika memiliki kekuasaan masih ingat bahwa kekuasaan itu pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban.

Maka, mungkin pertanyaan tentang Islam perlu kita balik kepada diri sendiri.
Bukan lagi sekadar, “Apakah saya sudah terlihat Islami?”
Tetapi, “Apakah orang lain sudah merasakan nilai Islam melalui diri saya?”
Bukan hanya, “Apakah organisasi saya organisasi Islam?”
Tetapi, “Apakah organisasi saya benar-benar menghadirkan kemaslahatan?”
Bukan hanya, “Apakah lembaga saya menggunakan nama Islam?”
Tetapi, “Apakah nilai kejujuran, keadilan, amanah, disiplin, kasih sayang, dan tanggung jawab benar-benar hidup di dalamnya?”
Dan bukan hanya, “Siapa pemimpin yang terpilih?”
Tetapi juga, “Setelah pemimpin terpilih, apakah khidmah kepada umat dan bangsa akan semakin besar?”

Mungkin itulah makna Islam yang lebih substantif.
Islam bukan hanya sesuatu yang terlihat di badan, tetapi sesuatu yang tumbuh di hati dan kemudian tercermin dalam perbuatan. Islam bukan sekadar identitas yang kita banggakan, tetapi nilai yang harus kita perjuangkan. Islam bukan hanya nama organisasi, partai, sekolah, kampus, atau lembaga, tetapi nilai yang seharusnya membuat semua tempat itu menjadi lebih jujur, lebih adil, lebih beradab, dan lebih bermanfaat.

Menurut Pak Kyai, “Kalau Islam hanya terlihat, orang mungkin kagum. Tetapi kalau Islam terasa, orang akan merasakan manfaatnya.”
Mungkin kita tidak perlu menjadi orang yang paling ramai berbicara tentang Islam.
Cukuplah menjadi orang yang ketika hadir, orang lain merasa aman; ketika memimpin, orang lain merasa dilindungi; ketika berbeda pendapat, orang lain tetap merasa dihargai; ketika memperoleh amanah, orang lain tidak merasa dirugikan; dan ketika meninggalkan sebuah tempat, ada kebaikan yang tertinggal.

Maka.. Islam yang paling indah bukan Islam yang paling ramai dibicarakan, melainkan Islam yang paling banyak menghadirkan kebaikan.
Dan barangkali, di tengah hiruk-pikuk politik, organisasi, media sosial, teknologi, serta berbagai kontestasi kepentingan hari ini, kita membutuhkan satu hal yang sangat sederhana: mengembalikan Islam kepada nilai.
Karena simbol boleh berbeda, organisasi boleh berbeda, pilihan boleh berbeda, bahkan cara berpikir boleh berbeda.
Tetapi kejujuran, keadilan, amanah, kasih sayang, kedamaian, dan kemaslahatan adalah nilai yang semestinya mempertemukan kita.
Itulah Islam yang tidak hanya terlihat, Tetapi terasa.

Wallahu a’lam
🙏🙏🙏

Berita Terkait

Artikel Terkait