MIU Login

Renungan Jum’at

Oleh: Agus Mulyono

Duduk atau Jongkok ??

Ada satu pola yang sering berulang dalam hidup kita… sesuatu yang dulu sederhana, alami, dan selaras…
perlahan ditinggalkan, bukan karena salah, tapi karena kita merasa sudah menemukan yang “lebih maju”.

Kita mulai dari hal yang sangat dekat… bahkan terlalu dekat sampai sering tidak kita pikirkan:
cara kita buang air.
Sudah sejak lama, masyarakat kita menggunakan toilet jongkok.
Para pendahulu mencontohkan, bahwa buang air.. baik kecil maupun besar, dilakukan dengan berjongkok.

Bukan sekadar kebiasaan, tapi juga bagian dari sunnah.
Menurut pak kyai, sunnah itu kadang hadir dalam bentuk yang sangat sederhana.
Tidak selalu tampak “ilmiah” di awal, tapi ketika direnungkan… justru penuh hikmah.

Tubuh manusia ini tidak diciptakan sembarangan.
Setiap posisi, setiap gerak, ada kesesuaiannya.
Ketika seseorang berjongkok saat buang air besar, posisi usus menjadi lebih lurus.
Rongga perut sedikit tertekan, tekanan intra-abdomen meningkat secara alami,
sehingga proses pengeluaran feses menjadi lebih mudah, lebih tuntas.

Tidak perlu dipaksa.
Tidak perlu mengejan berlebihan.
Seolah tubuh kita sudah “tahu caranya”.

Tapi hari ini… pelan-pelan kita berubah.
Toilet duduk hadir, dan kita menyambutnya sebagai simbol kenyamanan dan modernitas.
Di rumah-rumah, hotel, perkantoran, sekolah…
bahkan di masjid, madrasah dan kampus-kampus Islam.

Menurut pak kyai, sering kali kita ini tidak benar-benar memilih yang lebih baik…
kita hanya memilih yang terlihat lebih “baru”.

Pada toilet duduk, tubuh tidak berada pada posisi optimal.
Usus tidak sepenuhnya lurus.
Akibatnya, banyak orang harus mengejan untuk membantu proses buang air.

Dan dari kebiasaan mengejan itu… mengejan berulang dalam jangka panjang bisa memicu beberapa masalah: Pembengkakan pembuluh darah di anus akibat tekanan tinggi.. sering disebut wasir, sembelit..
arena pengosongan tidak sempurna, juga risiko gangguan pada dasar panggul
(terutama jika sering mengejan keras)

Sesuatu yang sebenarnya bisa dihindari, kalau kita kembali pada cara yang lebih alami.

Pola yang sama… ternyata tidak hanya terjadi di kamar mandi.
Kita geser sedikit… ke sawah.
Sudah sejak lama, para petani terdahulu menggunakan pupuk yang disediakan oleh alam.
Jerami sisa panen, kotoran ternak, dibiarkan menyatu… difermentasi oleh waktu.
Sederhana, Tidak instan, Tapi menjaga keseimbangan, Tanah tetap hidup.
Mikroorganisme bekerja. Kesuburan terjaga, bahkan berkelanjutan.

Menurut pak kyai, alam itu punya sunnahnya sendiri.
Kalau kita mengikuti ritmenya… kita dijaga.
Kalau kita melawannya… kita yang akan merasakan akibatnya.
Sekarang… mayoritas petani beralih ke pupuk kimia.

Lebih praktis, hasilnya cepat terlihat, panen bisa meningkat dalam waktu singkat.
Tapi diam-diam… ada yang hilang.
Pupuk kimia tidak hanya memberi nutrisi, tapi juga perlahan membunuh bakteri-bakteri baik dalam tanah.

Tanah yang dulu gembur… menjadi keras. Yang dulu hidup… menjadi tergantung. Akhirnya, tanah tidak lagi “mandiri”.
Ia butuh terus-menerus disuplai dari luar.
Dan tanpa kita sadari…
kita sedang menciptakan ketergantungan.

Kita geser lagi… masih di sawah yang sama.
Dulu, petani membajak sawah menggunakan kerbau atau sapi.
Terlihat lambat, memang. Tapi ramah lingkungan.
Bisa menjangkau lahan sempit, lereng-lereng, tanah miring.
Hewan ternak tetap bergerak, tetap sehat.
Kotorannya bisa dimanfaatkan kembali sebagai pupuk.
Ada siklus yang utuh. Tidak ada yang terbuang.

Sekarang… traktor mengambil alih.
Cepat, Efisien, Terlihat canggih.
Tapi tidak selalu cocok untuk semua lahan.
Tidak menjangkau tempat-tempat yang dulu bisa dijangkau hewan.
Membutuhkan bahan bakar. Mengeluarkan polusi.
Dan perlahan… memutus siklus alami yang dulu terjaga.

Menurut pak kyai, teknologi itu tidak salah.
Tapi kalau membuat kita jauh dari keseimbangan…
maka kita perlu berhenti sejenak, dan bertanya.
“Ini benar-benar memudahkan… atau hanya mempercepat?”
Karena tidak semua yang cepat itu baik.
Dan tidak semua yang lama itu tertinggal.

Dari kamar mandi… ke sawah… ke cara kita mengolah tanah…
ternyata pesannya sama.
Kita sering meninggalkan yang alami,
demi sesuatu yang terlihat lebih praktis.

Padahal yang alami itu bukan sekadar tradisi…
tapi sering kali adalah bentuk keselarasan.
Menurut pak kyai, hidup ini bukan tentang menolak modernitas.
Bukan juga tentang kembali sepenuhnya ke masa lalu.
Tapi tentang kebijaksanaan dalam memilih.
Mana yang memang membawa kebaikan…
dan mana yang hanya terlihat baik di permukaan.

Karena bisa jadi…
yang kita anggap kemajuan, justru pelan-pelan menjauhkan kita dari keseimbangan.
Dan yang kita anggap sederhana…
justru menyimpan kebenaran yang lebih dalam.
Maka mungkin… kita tidak perlu selalu bertanya,
“ini modern atau tidak?”

Tapi cukup bertanya:
“ini selaras atau tidak?”
Dengan tubuh kita…
dengan alam…
dan dengan nilai-nilai yang diajarkan.

Dan pada akhirnya, hidup bukan soal menjadi yang paling maju…
tapi tentang tetap berada di jalan yang paling tepat.

Wallahu a’lam
🙏🙏

Berita Terkait

Artikel Terkait