MIU Login

Bukan Sekadar Rak Buku: Ketika Perpustakaan Kota Malang ‘Bermain’ di Dunia Digital

Oleh: Nur Hayati, Meidhita Nurwigia Putri, Sri Wilujeng Istiqaroh, Ghanis Candra Puspitadewi

Infopreneurship mengubah cara perpustakaan memperkenalkan layanan, koleksi, dan informasi kepada masyarakat melalui website, OPAC, dan media sosial. Perpustakaan selama ini kerap dibayangkan sebagai ruang yang tenang dengan deretan rak buku dan meja baca. Namun, di tengah perubahan kebiasaan masyarakat dalam mencari informasi, perpustakaan tidak lagi cukup hanya menunggu pemustaka datang. Informasi tentang koleksi, layanan, kegiatan, hingga jadwal pelayanan kini perlu hadir di ruang yang lebih dekat dengan pengguna: dunia digital. Fenomena tersebut turut dilihat pada penelitian yang mengkaji implementasi infopreneurship di Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang. Melalui website, katalog daring atau OPAC (Online Public Access Catalog), serta media sosial Instagram, perpustakaan berupaya mengemas dan menyebarkan informasi agar lebih mudah ditemukan oleh masyarakat.
Bagi mahasiswa program studi Perpustakaan dan Sistem Informasi (PSI), fenomena ini menarik untuk diteliti, bukan hanya sebagai perubahan cara perpustakaan melakukan promosi, tetapi juga sebagai gambaran bagaimana teknologi informasi dapat mengubah pola interaksi antara lembaga penyedia informasi dan penggunanya. Penelitian mengenai “Analisis implementasi infopreneurship di Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang sebagai Bentuk Pemasaran di Era Digital”, dilakukan oleh Nur Hayati, Meidhita Nurwigia Putri, Sri Wilujeng Istiqaroh, mahasiswa angkatan 2019 prodi PSI UIN Malang dan dibimbing oleh Ganis Chandra Puspitadewi, S.IP, M.A. Proposal penelitian ini berhasil lolos seleksi Riset Kompetitif Mahasiswa tahun 2022 Fakultas Sains dan Teknologi. Secara khusus, penelitian ini melihat konten pada Instagram dan website perpustakaan serta dampaknya terhadap pemustaka, termasuk mahasiswa yang menjadi informan penelitian.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa praktik infopreneurship telah menjadi bagian dari upaya perpustakaan dalam menyampaikan informasi dan memasarkan layanan kepada masyarakat. Dengan kata lain, perpustakaan mulai bergerak dari pola komunikasi satu arah – pengguna datang untuk mencari informasi – menuju pola yang lebih aktif: perpustakaan ikut mendatangi ruang digital tempat penggunanya beraktivitas.

OPAC: Cari Buku Tak Perlu Muter-Muter
Salah satu bentuk pemanfaatan teknologi informasi yang paling dekat dengan kebutuhan pemustaka adalah OPAC. Melalui katalog daring tersebut, pengguna dapat mencari informasi bibliografis mengenai koleksi yang tersedia tanpa harus terlebih dahulu menyusuri rak satu per satu. Bagi pengguna yang sudah terbiasa menggunakan teknologi digital, fasilitas semacam ini membuat proses pencarian informasi menjadi lebih praktis.
OPAC juga memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar alat pencarian. Kehadiran katalog daring dapat membantu memperkenalkan koleksi perpustakaan kepada masyarakat secara lebih luas. Pengguna dapat mengetahui keberadaan koleksi sebelum datang langsung ke perpustakaan.
Bagi mahasiswa, pola seperti ini tentu tidak asing. Ketika membutuhkan referensi untuk tugas kuliah, misalnya, langkah pertama sering kali bukan lagi berjalan menuju rak buku, tetapi membuka perangkat digital dan melakukan pencarian. Karena itu, digitalisasi katalog menjadi salah satu bentuk adaptasi penting perpustakaan terhadap perubahan perilaku pencarian informasi.

Dari Website hingga Instagram
Selain OPAC, website menjadi ruang penting bagi perpustakaan untuk menyampaikan informasi yang lebih formal dan lengkap. Berbagai berita dan kegiatan perpustakaan dapat dipublikasikan melalui kanal tersebut. Laporan penelitian mencatat sejumlah kegiatan yang diberitakan melalui website, antara lain kegiatan dalam rangka HUT RI, festival anak, serta sosialisasi budaya membaca. Informasi kegiatan tersebut menunjukkan bahwa website tidak hanya berfungsi sebagai halaman informasi layanan, tetapi juga menjadi media untuk memperlihatkan aktivitas perpustakaan kepada publik.
Di sisi lain, Instagram memberikan ruang komunikasi yang lebih visual dan dinamis. Konten berupa unggahan (post) dan Reels memungkinkan informasi disampaikan dalam format yang lebih ringkas dan menarik. Informasi kegiatan, jadwal, maupun berbagai aktivitas perpustakaan dapat dikemas agar lebih sesuai dengan kebiasaan pengguna media sosial.
Perbedaan karakter antara website dan Instagram justru dapat menjadi kekuatan. Website dapat digunakan untuk menyediakan informasi yang lebih lengkap, sementara media sosial dapat menjadi pintu masuk yang menarik perhatian pengguna. Pola ini memperlihatkan bahwa strategi komunikasi perpustakaan tidak harus bergantung pada satu kanal saja. Lantas, apakah kehadiran perpustakaan di ruang digital benar-benar memberikan dampak? Penelitian tersebut menunjukkan adanya dampak baik bagi perpustakaan maupun pengguna. Dari sisi pengguna, informasi yang tersedia secara daring dinilai membantu, terutama berkaitan dengan layanan, proses peminjaman, jam operasional, fasilitas, dan penggunaan OPAC.
Bagi pemustaka, informasi semacam itu memiliki nilai praktis. Mereka tidak selalu harus datang langsung atau bertanya kepada petugas hanya untuk memperoleh informasi dasar.
Perubahan tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari peningkatan akses informasi. Teknologi bukan sekadar alat tambahan, melainkan menjadi penghubung antara kebutuhan pengguna dengan sumber informasi yang tersedia. Penelitian juga menilai pemasaran secara daring memiliki sejumlah keunggulan, antara lain dari sisi biaya, waktu, jangkauan audiens, kecepatan penyampaian, dan ketepatan informasi. Artinya, ketika informasi perpustakaan dikemas dengan baik dan disebarkan melalui kanal digital yang tepat, pesan tersebut berpotensi menjangkau lebih banyak orang tanpa harus bergantung sepenuhnya pada promosi secara konvensional.

Angka Pengunjung Naik-Turun, Ada Cerita di Baliknya
Data kunjungan yang terdapat dalam laporan penelitian menunjukkan adanya perubahan jumlah pengunjung dari waktu ke waktu. Pada 2022, misalnya, jumlah pengunjung secara luring pada Januari hingga Mei tercatat masing-masing 4.620, 1.688, 4.839, 6.010, dan 3.820 pengunjung. Sementara itu, kunjungan daring pada periode yang sama tercatat 1.477, 1.384, 1.439, 913, dan 609. Angka tersebut memperlihatkan bahwa kunjungan daring dan luring mengalami fluktuasi. Karena itu, data tidak serta-merta dapat dibaca sebagai hubungan sebab-akibat langsung antara aktivitas digital dan jumlah pengunjung fisik.
Laporan penelitian juga memberikan catatan penting mengenai data tahun 2021. Pada periode tersebut, kondisi pandemi COVID-19 turut memengaruhi operasional perpustakaan. Beberapa periode layanan lebih berfokus pada aktivitas daring, sementara pencatatan pengunjung website juga menghadapi keterbatasan teknis dan sumber daya manusia. Data pengunjung website, misalnya, belum sepenuhnya dapat direkap karena keterbatasan kemampuan pendeteksian IP dan masih dalam proses pengolahan. Penghitungan tertentu menggunakan data penayangan OPAC harian. Catatan tersebut penting agar data kunjungan tidak sekadar dibaca sebagai angka. Di balik angka tersebut terdapat perubahan situasi, pola layanan, serta kemampuan institusi dalam mengelola data digital.

Tantangan: Konten Bagus Butuh SDM yang Mumpuni
Transformasi digital tentu tidak berhenti pada keberadaan akun Instagram atau website. Tantangan berikutnya adalah bagaimana mengelola kanal tersebut secara konsisten. Website dan media sosial membutuhkan pengelola yang memahami bukan hanya substansi informasi perpustakaan, tetapi juga cara mengolah informasi menjadi konten yang menarik dan mudah dipahami.
Laporan penelitian merekomendasikan adanya pelatihan bagi staf perpustakaan, khususnya admin website dan media sosial, terkait pengolahan konten media sosial serta optimalisasi website. Hal ini menjadi poin penting. Teknologi dapat menyediakan platform, tetapi manusia tetap menentukan kualitas informasi yang masuk ke dalamnya.
Konten yang informatif tetapi monoton mungkin tidak cukup untuk menarik perhatian pengguna media sosial. Sebaliknya, konten yang menarik tetapi tidak memberikan informasi yang jelas juga kehilangan fungsi utamanya sebagai media layanan publik.
Karena itu, kemampuan menggabungkan substansi informasi dengan kreativitas komunikasi menjadi semakin penting.

Teknologi Harus Mempermudah Manusia
Pengalaman Perpustakaan Kota Malang dapat menjadi contoh sederhana mengenai bagaimana teknologi bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi informasi pada dasarnya bukan hanya soal aplikasi, sistem, atau perangkat. Nilai teknologi muncul ketika ia mampu menyelesaikan persoalan manusia. OPAC, misalnya, menjadi berguna karena mempersingkat proses pencarian koleksi. Website menjadi berarti karena memudahkan masyarakat mendapatkan informasi layanan dan kegiatan. Instagram menjadi relevan karena membawa informasi perpustakaan ke ruang digital yang digunakan masyarakat.
Dengan demikian, infopreneurship dapat dipahami sebagai pertemuan antara teknologi, informasi, dan kebutuhan pengguna. Konsep tersebut juga memiliki relevansi dengan berbagai bidang yang dipelajari di lingkungan universitas. Pengelolaan data, desain informasi, pengembangan sistem, media digital, hingga analisis perilaku pengguna pada akhirnya memiliki satu tujuan yang sama: membuat informasi lebih mudah digunakan manusia.
Salah satu catatan penting dari penelitian adalah perlunya evaluasi terhadap konten yang dipublikasikan. Perpustakaan tidak hanya berhadapan dengan mahasiswa atau generasi yang sudah terbiasa dengan media sosial. Penggunanya berasal dari kelompok usia dan latar belakang yang beragam. Karena itu, konten digital perlu tetap menarik sekaligus mudah dipahami oleh berbagai kelompok masyarakat. Hal ini menjadi tantangan tersendiri. Bahasa yang terlalu teknis dapat membuat informasi sulit dipahami. Sebaliknya, penyederhanaan yang berlebihan dapat membuat informasi kehilangan konteks. Strategi komunikasi digital perpustakaan idealnya mampu menemukan titik tengah: informatif, menarik, ringkas, tetapi tetap akurat.

Perpustakaan Masa Kini: Hadir di Mana Penggunanya Berada
Transformasi digital tidak berarti perpustakaan meninggalkan fungsi tradisionalnya. Rak buku, ruang baca, koleksi fisik, dan layanan tatap muka tetap memiliki peran. Yang berubah adalah cara perpustakaan membangun hubungan dengan pengguna. Perpustakaan masa kini tidak cukup hanya menyediakan informasi. Ia juga perlu memastikan informasi tersebut dapat ditemukan, dipahami, dan dimanfaatkan. Implementasi infopreneurship di Perpustakaan Kota Malang memperlihatkan arah perubahan tersebut. Website, OPAC, dan media sosial menjadi bagian dari ekosistem layanan yang membuat perpustakaan lebih aktif berkomunikasi dengan masyarakat. Penelitian menunjukkan bahwa implementasi infopreneurship telah memberikan pengaruh terhadap pengguna, terutama dalam membantu mereka memperoleh informasi terkait layanan dan kebutuhan perpustakaan. Pada saat yang sama, perpustakaan perlu terus melakukan evaluasi terhadap konten serta meningkatkan kompetensi sumber daya manusia yang mengelolanya.
Pada akhirnya, tantangan perpustakaan di era digital bukan sekadar bagaimana membuat akun media sosial atau membangun website.Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah informasi yang disediakan benar-benar sampai kepada orang yang membutuhkan? Bagi perpustakaan, jawabannya akan menentukan apakah transformasi digital hanya menjadi perubahan media atau benar-benar menjadi peningkatan kualitas layanan. Dan bagi pengguna fenomena ini memberikan satu pelajaran sederhana: teknologi yang baik bukan sekadar teknologi yang canggih, melainkan teknologi yang mampu membuat informasi lebih dekat, lebih mudah, dan lebih bermanfaat bagi manusia. (Humas FST)

Berita Terkait

Artikel Terkait