Oleh: Oky Bagas P, M. Pd. I
Saat dini hari menjelang waktu subuh lantunan ayat Al-Qur’an berkumandang di masjid. Ayat-ayat yang terdengar berulang menyebut kata haqq mengantarkan pada refleksi mendasar, yaitu berita tentang kebenaran: kebenaran memiliki dua wajah. Ada kebenaran empiris yang bersifat nyata, dan ada kebenaran yg mengandung makna.
Al-Qur’an kerap tidak merinci kronologi atau detail historis suatu kisah secara tuntas. Bukan karena kelalaian, melainkan karena orientasinya bukan dokumentasi sejarah atau peristiwa tokoh, melainkan penyucian jiwa. Penekanan Al-Qur’an terletak pada dimensi makna, bukan semata pada dimensi fakta. Tujuannya agar pembaca tidak berhenti pada kulit peristiwa, tetapi mampu mengambil ibrah.
Kata ibrah berasal dari abara-ya’buru yang berarti menyeberang. Dalam terminologi tashowuf, menyeberang merupakan substansi perjalanan spiritual. Para sufi menyebut wali sebagai golongan yang ahli menyeberang. Menyeberang dari alam syahadah, dunia yang kasatmata dan dipahami indra, menuju alam makna, hakikat yang hanya dapat ditangkap mata batin.
من وقف مع الصورة حُجب، ومن نفذ إلى المعنى وصل
“Siapa yang berhenti pada bentuk luar akan terhijab, dan siapa yang menembus kepada makna akan sampai”
Oleh karena itu, wajar apabila kenyataan belum tentu benar, dan kebenaran belum tentu nyata. Kenyataan merupakan putusan indera: berhasil, gagal, untung, rugi, menang, kalah. Sementara kebenaran merupakan putusan Ilahi: keberhasilan sebagai ujian, kegagalan sebagai pembersihan, kerugian sebagai perlindungan. Wali adalah mereka yang memilih tunduk pada hukum Allah meskipun hukum indera terasa menyakitkan. Kenyataan tidak disangkal, tetapi tidak dijadikan titik akhir.
Al-Qur’an bukan sekadar kitab sejarah umat terdahulu. Ia berfungsi sebagai cermin. Setiap kisah yang termaktub di dalamnya sejatinya membicarakan dinamika batin manusia itu sendiri. Peristiwa lahir menjadi isyarat bagi peristiwa batin. Ayat yang dibaca menjadi cermin bagi kondisi jiwa yang membaca.
Dengan demikian, membaca Al-Qur’an bukan hanya untuk menghafal ayat saja, melainkan melakukan tadabbur. Membaca ayat sekaligus membaca diri. Sebab perintah awal sebelum melangkah pada ayat adalah perintah menengok ke dalam: فَانْظُرْ لِنَفْسِكَ. Selama bekal spiritual masih musytabih tercampur antara ikhlas dan riya, antara sabar dan mngeluh maka jembatan penyeberangan tetap goyah.
Pada akhirnya, Al-Qur’an turun bukan hanya untuk menambah informasi di kepala, melainkan untuk mengelap debu pada cermin hati. Bagi para pencari makna kebenaran, al Qur’an adalah kitab suci yg mengabarkan kepada manusia tentang dirinya sendiri, bukan kisah2 manusia pada masa lampau.





