MIU Login

Teknologi Boleh Canggih, tetapi Hati Tetap Membutuhkan Cahaya Ilahi

Oleh: Rifqi Abqoriya, M.Pd

Renungan Surat Al Imran Ayat 159

Di era ketika kecerdasan buatan mampu menjawab pertanyaan dalam hitungan detik, satelit memetakan bumi dengan presisi, dan teknologi menghubungkan manusia tanpa batas ruang, muncul satu pertanyaan yang layak direnungkan: apakah kemajuan teknologi juga membuat hati manusia semakin bijaksana?

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al Imran ayat 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Ayat tersebut mengajarkan tiga prinsip kepemimpinan dan kehidupan, yaitu: bersikap lemah lembut, gemar bermusyawarah, serta bertawakal kepada Allah Swt. setelah kita mengambil keputusan. Ayat ini mengingatkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan alat atau luasnya pengetahuan, tetapi juga oleh akhlak, kebijaksanaan, dan ketergantungan kepada Sang Pencipta.

Teknologi adalah anugerah yang luar biasa. Ia lahir dari kemampuan berpikir yang Allah titipkan kepada manusia. Namun, secanggih apa pun algoritma yang diciptakan, ia tetap tidak mampu menandingi ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu. Manusia dapat memprediksi cuaca, tetapi tidak mampu memastikan takdir. Manusia dapat menciptakan mesin yang belajar, tetapi tidak dapat menciptakan kehidupan. Di sinilah kita menyadari bahwa setiap kemajuan ilmu pengetahuan sesungguhnya adalah bukti kebesaran Allah, bukan alasan untuk menyombongkan diri.

Ayat ini juga mengajarkan pentingnya kelembutan dalam menggunakan teknologi. Di balik layar gawai, sering kali seseorang mudah berkata kasar, menyebarkan kebencian, atau merasa paling benar. Padahal Allah mengingatkan bahwa kelembutan justru mampu mendekatkan hati manusia. Teknologi seharusnya menjadi sarana menyebarkan manfaat, bukan memperluas permusuhan.

Musyawarah yang disebutkan dalam ayat ini pun tetap relevan. Meskipun kini tersedia data besar (big data) dan kecerdasan buatan yang mampu memberikan rekomendasi, keputusan terbaik tetap membutuhkan pertimbangan moral, nilai kemanusiaan, dan kebijaksanaan. Teknologi dapat membantu memilih jalan, tetapi tidak dapat menentukan mana yang paling diridhai Allah.

Akhirnya, Allah menutup ayat tersebut dengan perintah untuk bertawakal. Setelah seluruh ikhtiar dilakukan, manusia harus menyadari bahwa hasil akhirnya berada dalam kekuasaan-Nya. Inilah keseimbangan yang sering terlupakan di tengah pesatnya perkembangan teknologi: bekerja dengan maksimal, berpikir secara ilmiah, memanfaatkan inovasi, namun tetap menyandarkan hati sepenuhnya kepada Allah Swt.

Semakin canggih teknologi yang kita miliki, seharusnya semakin besar pula rasa syukur dan ketundukan kita kepada Allah Swt. Sebab setiap penemuan hanyalah setetes ilmu yang Allah izinkan manusia mengetahuinya dari samudra ilmu-Nya yang tak bertepi. Maka, jangan biarkan kecanggihan teknologi membuat kita lupa kepada Pemilik segala ilmu. Jadikan setiap kemajuan sebagai jalan untuk semakin mengenal kebesaran-Nya, memperkuat keimanan, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Karena pada akhirnya, bukan kecanggihan teknologi yang menentukan kemuliaan manusia, melainkan ketakwaannya di hadapan Allah Swt.

Semoga renungan ini menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk semakin mengenal kebesaran Allah Swt., memperkuat keimanan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi sesama. Marilah kita menjadi pribadi yang mampu memanfaatkan ilmu dan teknologi dengan penuh tanggung jawab, disertai akhlak yang mulia, hati yang lembut, serta keyakinan bahwa di atas segala kecerdasan manusia, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Berita Terkait

Artikel Terkait