Oleh: Adrenal Stezen, M.H
Dosen kewarganegaran
Pernahkah kita merenungkan apa artinya menjadi seorang warga negara di era ketika batasan teritorial dikaburkan oleh algoritma digital? Saat jempol di layar ponsel bisa memicu polarisasi politik atau menyebarkan hoaks dalam hitungan detik, kewarganegaraan bukan lagi sekadar perkara memiliki KTP atau paspor. Di sinilah kita, sivitas akademika UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, ditantang untuk melihat ulang identitas diri. Kewarganegaraan bukan sekadar status hukum formal, melainkan sebuah manifestasi spiritual dan intelektual yang berakar pada kedalaman filsafat Pancasila dan tuntunan Al-Quran.
Membedah Ontologi Warga Negara: Titik Temu Sains dan Filsafat Pancasila
Dalam artikel ilmiah bertajuk “Kewarganegaraan dalam Perspektif Filsafat Pancasila“ karya Adrenal Stezen, M.H., dipaparkan dengan gamblang bahwa secara ontologis, Pancasila memandang manusia sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Konsep ini menolak paham individualisme ekstrem Barat, Jika kita bedah dari kacamata sains modern, khususnya dalam teori sosiologi-biologis (sociobiology) dan ekologi sistem, manusia secara alamiah adalah organisme yang tidak dapat sintas tanpa interaksi simbiosis dengan lingkungannya. Secara genetis dan psikologis, kita dirancang untuk berkolaborasi.
Pancasila menangkap realitas ilmiah ini dan meningkatkannya ke tataran filosofis yang luhur. Menjadi warga negara yang baik (good citizen) berarti memahami posisi kita dalam “ekosistem” negara: jika satu elemen rusak karena egoisme (seperti korupsi, diskriminasi, atau ujaran kebencian), maka seluruh sistem bernegara akan mengalami disfungsi.
Integrasi Islam: Ketika Pancasila Menemukan Jiwanya dalam Al-Quran
Keunikan artikel ini terletak pada keberhasilannya menarik garis linier antara sila-sila Pancasila dengan ayat-ayat suci Al-Quran. Bagi UIN Malang yang mengusung semangat integrasi ilmu, hal ini adalah oase akademis. Pancasila tidak bertentangan dengan Islam; ia justru merupakan artikulasi kebangsaan dari nilai-nilai universal Al-Quran.
Mari kita tengok bagaimana Al-Quran meletakkan fondasi kewarganegaraan yang inklusif:
- Sila Kedua (Kemanusiaan) & QS. Al-Ma’idah [5]: 32 Al-Quran menegaskan bahwa membunuh satu manusia tanpa hak sama dengan membunuh seluruh umat manusia, dan menjaga satu nyawa sama dengan menjaga seluruh dunia. Ini adalah puncak tertinggi dari penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) dan integrasi sosial tanpa diskriminasi.
- Sila Ketiga (Persatuan) & QS. Al-Hujurat [49]: 13 Sains genetika membuktikan bahwa seluruh manusia berbagi 99,9% DNA yang sama. Al-Quran berabad-abad lalu telah mendeklarasikan bahwa perbedaan suku dan bangsa (syu’uban wa qaba’ila) diciptakan bukan untuk saling memusuhi, melainkan untuk li-ta’arafu—saling mengenal, berkolaborasi, dan bersinergi dalam bingkai pluralisme.
- Sila Keempat (Kerakyatan) & QS. Asy-Syura [42]: 38 Prinsip musyawarah mufakat dalam Demokrasi Pancasila memiliki legitimasi teologis yang kuat, di mana keputusan-keputusan publik harus diambil lewat dialog yang sehat demi kemaslahatan bersama.
Menjawab Tantangan Globalisasi dari Kampus Hijau
Saat ini, kita menghadapi tantangan distorsi informasi, penurunan nasionalisme, hingga krisis moral akibat arus globalisasi yang tak terbendung. Artikel ini mengingatkan kita bahwa obat dari penyakit modernitas ini adalah penguatan dimensi aksiologis Pancasila: menjadikan nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan sebagai kompas etis bertindak.
Sebagai mahasiswa dan akademisi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, kita memiliki tanggung jawab ganda. Kita tidak boleh hanya menjadi ilmuwan yang cerdas secara rasional (dimensi epistemologis), tetapi juga harus menjadi hamba yang kokoh secara moral-religius.
Sains yang kita pelajari di ruang kuliah harus diabdikan untuk kemanusiaan (Sila Keperimanusiaan) , riset-riset yang kita lakukan harus mampu memecahkan kesenjangan sosial (Sila Keadilan Sosial) , dan aktivitas digital kita di media sosial harus menjadi perekat, bukan pemecah belah bangsa (Sila Persatuan).
Kesimpulan: Ulul Albab adalah Good Citizen Sejati
Kewarganegaraan dalam perspektif filsafat Pancasila mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang utuh. Melalui integrasi sains yang objektif dan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, UIN Malang berada di garis depan untuk mencetak generasi Ulul Albab. Yaitu mereka yang zikirnya tak pernah putus (berketuhanan), pikirnya tajam dan ilmiah (berpengetahuan), serta amalnya nyata bagi keharmonisan bangsa dan negara (berpancasila).
Mari jadikan Pancasila bukan sekadar hafalan teks di kelas, melainkan nafas kehidupan dalam setiap derap langkah kita sebagai warga negara dan hamba-Nya.





