MIU Login

Renungan Jum’at

Oleh: Agus Mulyono

 

“Apakah ada Islam Ala Agus Mul”

Belakangan ini ada sebuah judul buku yang ramai dibicarakan: Islam ala Prabowo. Saya tidak tahu persis apa isi bukunya, dan tulisan ini juga tidak sedang membahas isi buku tersebut. Tetapi karena judulnya menarik, jadi iseng berpikir: kalau ada Islam ala Prabowo, jangan-jangan nanti muncul juga Islam ala Agus Mul. Hehehe… jangan serius dulu. Ini hanya guyon di hari jum’at.

Kalau mungkin ada “Islam ala Agus Mul”, kira-kira Islam seperti apa? Mungkin Islam yang tidak terlalu sibuk mencari label, tidak terlalu sibuk menentukan siapa yang paling Islami, dan tidak terlalu sibuk melihat pakaian orang lain. Sebab semakin kita belajar, semakin kita merasa bahwa Islam itu sebenarnya sederhana, tetapi kita sendiri sering membuatnya menjadi rumit.

Ketika bertanya kepada seorang kyai kampung: “Pak Kyai, sebenarnya Islam itu apa?” Pak Kyai tersenyum sebentar, lalu menjawab dengan bahasa yang sederhana, “Islam itu nilai-nilai yang membuat manusia menjadi lebih baik.”

Ketika pak kyai ditanya lagi, “Nilai seperti apa, Pak Kyai?”
“Ya kejujuran, ketertiban, kepatuhan terhadap hukum, kedisiplinan, ketekunan, kebersihan, kebersamaan, kasih sayang, ketulusan, keikhlasan, kedamaian, dan objektivitas. Kalau nilai-nilai itu hidup dalam dirimu, di situlah Islam terasa. Jangan hanya sibuk mencari Islam di pakaian, tetapi lupa mencarinya di perilaku.”

Jawaban pak kyai kampung itu sederhana, tetapi justru mungkin di situlah persoalannya. Kita kadang terlalu mudah mengenali Islam dari apa yang tampak, tetapi agak kesulitan mengenali Islam dari apa yang dilakukan.

Orang yang memakai sarung kita sebut Islami. Yang memakai gamis kita sebut Islami. Yang memakai peci, kopyah, surban, atau cadar, semuanya mudah kita hubungkan dengan identitas keislaman. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Simbol dan pakaian tentu memiliki tempatnya masing-masing. Tetapi Islam jangan berhenti di sana.

Sebab kalau seseorang berpakaian sangat Islami tetapi masih suka berbohong, apakah kejujuran tidak lebih Islami? Kalau seseorang rajin berbicara tentang agama tetapi tidak disiplin terhadap waktu, apakah kedisiplinan tidak termasuk nilai Islam? Kalau seseorang rajin beribadah tetapi membuang sampah sembarangan, apakah kebersihan tidak bagian dari ajaran Islam? Kalau seseorang pandai berbicara tentang ukhuwah tetapi senang merendahkan orang lain, lalu di mana kasih sayangnya?

Di sinilah Islam menjadi menarik. Islam bukan hanya sesuatu yang dikenakan, tetapi sesuatu yang dihidupkan.

Islam itu universal. Tetapi terkadang kita sendiri yang membuatnya menjadi sempit. Islam dibatasi oleh partai, dibatasi oleh organisasi, dibatasi oleh kelompok, dibatasi oleh simbol, bahkan kadang dibatasi oleh model pakaian. Seolah-olah kalau tidak masuk kelompok kita, bukan Islam kita. Kalau tidak memakai simbol kita, kurang Islami. Kalau berbeda pilihan politik, tiba-tiba ukuran keislamannya ikut berubah.

Padahal Islam tidak membutuhkan pagar-pagar seperti itu untuk menjadi besar.
Islam tidak menjadi milik satu partai Islam. Islam tidak selesai di PKS, PKB, PAN, PBB, PPP, atau partai apa pun. Islam juga tidak selesai di NU, Muhammadiyah, Persis, dan organisasi-organisasi Islam lainnya. Demikian pula Islam tidak selesai dalam HMI, PMII, KAMMI, atau organisasi mahasiswa Islam lainnya. Semua itu bisa menjadi jalan pengabdian, ruang perjuangan, dan wadah kebaikan. Tetapi jangan sampai wadah dianggap sebagai keseluruhan airnya.

Islam juga tidak dibatasi oleh sarung, kopyah, peci, surban, gamis, celana panjang, celana cingkrang, jenggot, dahi hitam, atau cadar. Semua simbol itu bisa memiliki makna bagi orang yang memakainya. Silahkan. Tidak perlu dipertentangkan. Tetapi jangan sampai simbol menjadi lebih penting daripada nilai yang seharusnya diwakilinya.

Sebab yang paling sulit sebenarnya bukan memakai simbol kebaikan, tetapi menjalankan nilai kebaikan.

Memakai peci mungkin hanya membutuhkan beberapa detik. Tetapi menjadi orang yang jujur bisa membutuhkan latihan seumur hidup. Memakai sarung tidak sulit. Tetapi menjaga kebersihan lingkungan membutuhkan kebiasaan. Mengucapkan salam itu mudah. Tetapi menjaga kedamaian di tengah perbedaan membutuhkan kedewasaan. Mengatakan “saya ikhlas” juga mudah, tetapi benar-benar ikhlas ketika kebaikan kita tidak dipuji, itu perkara lain.

Mungkin karena itu Islam seharusnya tidak hanya terlihat dari bagaimana seseorang tampil ketika berada di masjid, tetapi juga bagaimana ia bersikap ketika berada di kantor, di pasar, di jalan, di kampus, di rumah, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Kalau seseorang menjadi pejabat, nilai Islamnya tampak pada kejujurannya. Kalau menjadi dosen, tampak pada objektivitasnya. Kalau menjadi mahasiswa, tampak pada ketekunannya dan kejujurannya dalam belajar. Kalau menjadi pedagang, tampak pada kejujuran timbangannya. Kalau menjadi pemimpin, tampak pada keadilannya. Kalau menjadi warga, tampak pada kepatuhannya terhadap aturan. Bahkan kalau sedang antre, mungkin di situ juga ada ujian keislaman.

Bayangkan kalau semua nilai itu benar-benar hidup. Kejujuran hidup, ketertiban hidup, disiplin hidup, kebersihan hidup, kasih sayang hidup, objektivitas hidup, dan kepedulian hidup. Kita tidak perlu terlalu sibuk bertanya, “Ini Islam atau bukan?” Karena masyarakat akan merasakan manfaatnya.

Menurut pak kyai, Islam itu mestinya seperti air. Ia tidak perlu banyak menjelaskan bahwa dirinya adalah air. Ia cukup memberi kehidupan. Pohon tumbuh karena air, manusia hidup karena air, tanah menjadi subur karena air. Islam pun demikian. Tidak harus selalu berteriak bahwa dirinya paling benar; cukup menghadirkan kedamaian, keadilan, kasih sayang, ilmu, dan kemaslahatan.

Di dalam Al-Qur’an bicara tentang rahmatan lil ‘alamin: Islam membawa rahmat bagi alam semesta. Maka ukuran keislaman mestinya tidak hanya berhenti pada “apa yang kita pakai”, tetapi juga “apa yang kita berikan”. Apakah kehadiran kita membuat orang lain merasa aman? Apakah ucapan kita membuat orang lain lebih damai? Apakah ilmu kita memberi manfaat? Apakah jabatan kita menghadirkan keadilan? Apakah keberadaan kita membuat lingkungan menjadi lebih baik?

Kalau jawabannya iya, mungkin di situlah Islam sedang bekerja.
Jadi, Islam ala Agus Mul? Sekali lagi, jangan dianggap serius. Itu hanya judul guyonan untuk ikut menikmati ramainya sebuah judul buku. bukan sedang membuat Islam versi baru. Islam tidak membutuhkan “ala ala…”, tidak membutuhkan “ala siapa-siapa”. Islam sudah sempurna sebagai ajaran. Yang sering membutuhkan perbaikan adalah kita, manusia yang menjalankannya.

Karena itu mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan “Islam ala siapa?”, tetapi “seberapa jauh nilai Islam sudah menjadi perilaku kita?”

Sebab Islam tidak cukup hanya menjadi identitas di KTP, tidak cukup menjadi nama organisasi, tidak cukup menjadi pilihan politik, tidak cukup menjadi pakaian, dan tidak cukup menjadi ucapan. Islam akan terasa ketika kejujuran menjadi kebiasaan, disiplin menjadi karakter, kebersihan menjadi budaya, ilmu menjadi jalan, kasih sayang menjadi sikap, keadilan menjadi prinsip, dan kedamaian menjadi suasana kehidupan.

Wallahu a’lam
🙏🙏🙏

Related News

Artikel Terkait