MIU Login

AI Bisa Menjawab Segalanya, Tetapi Siapa yang Menjamin Kebenarannya?

Oleh: Mochamad Imamudin

 

Beberapa waktu terakhir, hampir di setiap ruang kelas, ruang dosen, bahkan ruang diskusi mahasiswa, ada satu “teman baru” yang semakin sering diajak bekerja: artificial intelligence atau AI. Dulu mahasiswa datang membawa buku, laptop, dan catatan. Sekarang ada tambahan yang hampir selalu hadir di layar: sebuah chatbot yang siap menjawab pertanyaan, merangkum jurnal, menyusun kode program, membuat presentasi, bahkan membantu menulis artikel.

AI bukanlah musuh pendidikan. Justru sebaliknya, AI dapat menjadi asisten yang sangat membantu. Persoalannya bukan lagi “boleh atau tidak menggunakan AI”, tetapi bagaimana menggunakan AI secara beretika. Di sinilah integrasi sains dan Islam menemukan ruang yang sangat penting.

Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat kuat dalam menghadapi informasi. Allah berfirman:

﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ ٦ ﴾

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu”. (Q.S. Surat Al Hujurat [49]:6)

Pesan fatabayyanu atau melakukan verifikasi ini menjadi semakin penting di era AI. AI dapat menghasilkan jawaban yang tampak sangat meyakinkan, tetapi jawaban yang meyakinkan belum tentu jawaban yang benar. AI dapat keliru menyebut data, salah mengutip jurnal, bahkan menghasilkan referensi yang sebenarnya tidak pernah ada. Karena itu, menggunakan AI tanpa melakukan tabayyun sama dengan menerima informasi tanpa proses ilmiah.

Al-Qur’an juga mengingatkan:

﴿ وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا ٣٦ ﴾

Artinya: “Dan Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya”. (Q.S. Al-Isra’ [17]: 36)

Ayat ini sangat relevan bagi mahasiswa dan dosen. Ketika AI memberikan sebuah jawaban, tugas kita bukan sekadar menyalin, tetapi memeriksa, memahami, membandingkan, dan mempertanggungjawabkannya. AI boleh mempercepat pekerjaan, tetapi manusialah yang bertanggung jawab terhadap kebenaran pekerjaan tersebut.

Karena itu, etika penggunaan AI dapat dibangun di atas tiga nilai utama: kejujuran, verifikasi, dan tanggung jawab.

Kejujuran berarti tidak mengaku sebagai hasil pemikiran sendiri sesuatu yang sepenuhnya dibuat oleh AI. Dalam penulisan akademik, penggunaan AI seharusnya tidak menjadi cara untuk menghindari proses berpikir. Mahasiswa tetap harus membaca sumber, menyusun argumentasi, mengembangkan gagasan, dan memahami apa yang ditulisnya.

Verifikasi berarti setiap informasi penting yang dihasilkan AI perlu diperiksa kembali melalui sumber ilmiah yang dapat dipercaya. Al-Qur’an mengajarkan:

﴿ وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ ٤٣ ﴾

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. (Q.S. An-Nahl [16]: 43).

Dalam konteks akademik, prinsip ini dapat diterapkan dengan memeriksa jawaban AI melalui buku, artikel ilmiah, database penelitian, pendapat para ahli, dan sumber primer. AI bukan sumber kebenaran terakhir.

Sedangkan tanggung jawab berarti pengguna AI harus siap mempertanggungjawabkan dampak dari hasil yang digunakannya. Dalam penelitian, pendidikan, kesehatan, teknologi, maupun pelayanan publik, kesalahan informasi dapat menimbulkan konsekuensi nyata.

Nabi Muhammad ﷺ juga memberikan fondasi etis yang sangat jelas melalui sabdanya:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ

Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran menuntun kepada kebajikan.” (HR. Tirmidzi).

Prinsip ini seharusnya menjadi pedoman dalam penggunaan AI. Menggunakan AI untuk membantu mencari ide, memperbaiki bahasa, menerjemahkan, menganalisis data, atau membantu pemrograman dapat menjadi bagian dari proses akademik yang produktif. Namun, menggunakan AI untuk menipu, melakukan plagiarisme, membuat data penelitian palsu, menciptakan referensi fiktif, atau menyerahkan pekerjaan yang tidak dipahami sebagai karya pribadi merupakan persoalan etika dan integritas akademik.

Pada titik inilah kita perlu mengubah cara pandang terhadap AI. AI seharusnya ditempatkan sebagai asisten, bukan sebagai pengganti manusia. Teknologi boleh semakin cerdas, tetapi manusia tetap harus menjadi pihak yang memiliki kesadaran moral dan tanggung jawab intelektual.

Di lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi, tantangannya bukan hanya bagaimana menciptakan teknologi yang semakin canggih, tetapi juga bagaimana membentuk manusia yang mampu menggunakan teknologi secara amanah, kritis, dan bertanggung jawab.

Mungkin inilah tantangan terbesar AI bagi dunia pendidikan: bukan apakah mesin akan menjadi semakin cerdas, tetapi apakah manusia yang menggunakannya akan menjadi semakin bijaksana. Sebab teknologi yang canggih tanpa etika dapat mempercepat kesalahan. Sebaliknya, teknologi yang canggih dan dibimbing nilai-nilai Islam dapat menjadi sarana untuk mempercepat kemanfaatan ilmu bagi manusia.

AI boleh membantu kita berpikir lebih cepat. Tetapi jangan sampai AI membuat kita berhenti berpikir.

Related News

Artikel Terkait