MIU Login

Renungan Jum’at

Oleh: Agus Mulyono

Ujian Bernama Jabatan

Beberapa waktu terakhir, membaca berita rasanya seperti menonton serial yang episodenya tidak pernah habis. Hari ini ada pejabat ditangkap karena korupsi. Besok pejabat lain tersangkut suap. Lusa muncul lagi kasus penyalahgunaan kewenangan. Minggu depannya ada lagi cerita tentang proyek fiktif, gratifikasi, hingga uang negara yang entah mengalir ke mana.

Nama orangnya berganti. Instansinya berganti. Modusnya sedikit dimodifikasi.Tetapi jalan ceritanya hampir sama.

Sampai-sampai orang dikampung nyeletuk, “Sekarang kok semakin susah membedakan pejabat dengan penjahat.”
Kalimat itu memang terdengar satir. Tetapi kalau terlalu sering diucapkan banyak orang, biasanya ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja.

Lalu muncul pertanyaan yang menarik.
Apakah jabatan memang bisa mengubah orang baik menjadi jahat?
Atau sejak awal memang karakternya jahat, hanya saja baru kelihatan ketika menjadi pejabat/memegang kekuasaan?
Atau jangan-jangan sistemnya yang membuat orang pelan-pelan menjadi jahat?

Saya tidak tahu jawaban pastinya.
Tetapi yang jelas, kata orang tua dulu.. jabatan itu seperti kaca pembesar. Kalau di dalamnya ada kejujuran, kejujurannya akan semakin terlihat.
Kalau di dalamnya ada keserakahan, keserakahannya juga akan membesar.

Ada yang bilang, bedanya pejabat dan penjahat sekarang semakin tipis.
Sama-sama punya jaringan. Sama-sama pandai mencari peluang.
Sama-sama tahu bagaimana mendapatkan uang.

Bedanya, kalau penjahat bekerja sembunyi-sembunyi.
Sedangkan pejabat yang berubah menjadi penjahat sering melakukannya sambil mengenakan jas, berdasi, berbicara tentang integritas, lalu menutup pidatonya dengan kalimat, “Mari kita tingkatkan transparansi.”

Yang menarik, korupsi hampir tidak pernah dilakukan sendirian.
Jarang sekali ada cerita seseorang bangun pagi, lalu berkata, “Hari ini saya ingin korupsi sendirian.”
Biasanya selalu ada teman. Ada yang membuat aturan. Ada yang menandatangani.
Ada yang mengawasi sambil pura-pura tidak melihat. Ada yang kebagian jatah diam.
Akhirnya bukan lagi sekadar pelanggaran.
Tetapi sudah menjadi budaya kecil yang saling menjaga.
Yang jujur justru sering dianggap mengganggu kenyamanan.

Seorang teman yang bekerja di bidang hukum pernah bercerita.
Katanya, ketika seorang pejabat mulai tersangkut masalah, uang hasil korupsinya kadang berubah fungsi.
Bukan lagi untuk membeli mobil.Tetapi untuk membeli waktu. Membeli pembela. Membeli opini. Kalau bisa, membeli hukum.

Di sinilah kejahatan sering melahirkan kejahatan berikutnya.
Yang satu takut masuk penjara. Yang satu melihat peluang mendapatkan keuntungan.
Yang rugi? Ya, masyarakat. Selalu masyarakat.

Suatu hari seorang santri bertanya kepada Pak Kyai.
“Pak Kyai, kenapa sekarang banyak pejabat yang akhirnya menjadi penjahat?”
Pak Kyai tersenyum. Lalu menjawab pelan.
“Karena hari ini banyak orang lebih sibuk mempercantik citra daripada memperbaiki hati.”

Menurut Pak Kyai, zaman sekarang ukuran sukses sering kali bergeser. Bukan lagi seberapa bermanfaat seseorang. Tetapi seberapa mewah penampilannya.
Rumah harus besar. Mobil harus mahal. Jabatan harus tinggi.
Media sosial harus terlihat sempurna.
Padahal hidup bukan lomba etalase. Semakin sibuk menjaga tampilan, kadang semakin lupa menjaga diri.

Pak Kyai kemudian melanjutkan.
“Korupsi itu sering bukan lahir karena lapar.” “Tetapi karena tidak pernah merasa cukup.”
Kalimat itu sederhana. Tetapi semakin dipikir, semakin terasa dalam.
Sebab banyak orang yang akhirnya tersandung hukum bukan karena tidak punya apa-apa.
Justru ketika sudah punya banyak, masih ingin lebih banyak lagi.
Mungkin benar.
Masalah terbesar manusia bukan kekurangan.
Melainkan ketidakmampuan mengatakan, ‘Ini sudah cukup.’

Ada juga yang berpendapat, biaya politik yang mahal ikut menyumbang persoalan.
Bisa jadi. Kalau sejak awal jabatan dianggap sebagai investasi, maka setelah duduk yang dicari adalah balik modal.
Ketika jabatan berubah menjadi proyek investasi, pelayanan publik pelan-pelan berubah menjadi transaksi.
Yang berbahaya bukan hanya uang negara yang hilang. Tetapi hilangnya rasa malu.
Karena kalau rasa malu sudah hilang, aturan tinggal soal bagaimana cara mengakalinya.

Tetapi rasanya juga tidak adil kalau semua pejabat dikatakan sebagai penjahat.

Masih banyak pejabat yang bekerja dengan baik.
Mungkin mereka tidak viral. Tidak pandai membuat pencitraan.
Tidak rajin memasang foto di baliho. Tetapi diam-diam bekerja.

Karena memang orang baik biasanya lebih sibuk bekerja daripada menjelaskan bahwa dirinya baik. Mungkin itu sebabnya mereka jarang masuk berita.
Berita lebih senang pada kegaduhan.
Sementara ketulusan hampir selalu bekerja dalam sunyi.

Jadi, pembeda pejabat dan penjahat sebenarnya sederhana.
Keduanya sama-sama memiliki kesempatan.
Yang membedakan hanyalah pilihan.
Apakah jabatan dipakai untuk melayani masyarakat…
atau masyarakat yang dipakai untuk melayani kepentingan jabatannya

Wallahu a’lam
🙏🙏🙏

Related News

Artikel Terkait