MIU Login

Jangan Cuma Jadi Sarjana: Belajar dari ABF Ajinomoto untuk Membuat Produk Industri

Oleh: Dr. Fresy Nugroho, M.T.

 

Bayangkan seorang mahasiswa lulus kuliah. Di tangannya ada ijazah, transkrip nilai, dan mungkin skripsi setebal beberapa ratus halaman. Lalu ketika melamar kerja, perusahaan bertanya sederhana: “Kamu bisa bikin apa?” Nah, di titik ini kadang kita semua terdiam sebentar. Bukan karena mahasiswa tidak belajar, tetapi karena selama kuliah mereka lebih sering dilatih untuk menyelesaikan soal daripada menyelesaikan masalah. Padahal dunia industri punya kebiasaan yang agak berbeda: mereka tidak terlalu peduli berapa banyak teori yang kita hafal. Mereka lebih tertarik pada satu hal: “Kamu bisa membantu menyelesaikan masalah kami atau tidak?”

Karena itu, mungkin sudah waktunya kita mengubah sedikit cara pandang tentang pendidikan teknik. Tidak semua mahasiswa harus menjadi engineer hebat yang bekerja di perusahaan raksasa. Tidak semua harus menjadi programmer yang membuat aplikasi viral. Tidak semua harus menjadi peneliti. Yang jauh lebih realistis adalah setiap mahasiswa punya satu skill yang bisa dijual, satu portfolio yang bisa ditunjukkan, dan satu pengalaman menyelesaikan masalah nyata. Sederhana saja: One Student – One Employable Skill – One Portfolio – One Industrial Problem.

Menariknya, inspirasi untuk cara berpikir ini bisa datang dari perusahaan yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebagai pemain industri teknologi tinggi: Ajinomoto. Siapa yang tidak kenal Ajinomoto? Tetapi di balik produk makanan, perusahaan ini juga menghasilkan Ajinomoto Build-up Film atau ABF, material khusus yang digunakan dalam advanced semiconductor packaging. Ajinomoto menyebut ABF menguasai sekitar 95% atau lebih pangsa pasar global pada segmen interlayer insulating film untuk substrate semikonduktor berkinerja tinggi.

Yang bikin menarik bukan cuma angka 95%-nya. Pelajaran besarnya adalah: produk yang kelihatannya kecil bisa punya nilai yang luar biasa besar kalau menyelesaikan masalah yang sangat penting. Kita sering berpikir inovasi harus berupa robot humanoid, mobil listrik, aplikasi supercanggih, atau mesin bernilai miliaran. Padahal bisa jadi peluang terbesar justru ada pada benda kecil yang selama ini tidak kita perhatikan. ABF mengajarkan satu mindset: jangan buru-buru bertanya, “Teknologi keren apa yang bisa kita buat?” Lebih baik bertanya, “Masalah penting apa yang belum punya solusi murah dan bagus?”

Nah, cara berpikir ini sangat cocok diterapkan mahasiswa Teknik Elektro, Mesin, dan Informatika di UIN Malang. Misalnya, mahasiswa Elektro melihat sebuah UMKM punya mesin yang sering panas tetapi pemiliknya baru tahu setelah mesin berhenti. Solusinya tidak perlu robot canggih. Buat saja Industrial Sensor Box. Sensor temperatur, getaran, arus, atau kelembapan dipasang pada mesin. ESP32 mengirimkan data. Mahasiswa Informatika membuat dashboard. Kalau suhu melewati batas, muncul notifikasi. Modal awal bisa relatif murah. Tetapi bagi pemilik mesin, informasi itu bisa berarti menghindari kerusakan yang nilainya jutaan bahkan puluhan juta rupiah. Murah bagi pembuat, bernilai bagi pengguna.

Lalu mahasiswa Teknik Mesin bisa melihat masalah lain. Banyak bengkel kecil membutuhkan bracket, jig, fixture, casing, atau komponen pengganti yang bentuknya tidak standar. Memesan dalam jumlah sedikit sering tidak ekonomis. Nah, di sini muncul peluang micro-manufacturing. Mahasiswa cukup belajar CAD, 3D printing, CNC dasar, dan sedikit kemampuan membaca kebutuhan pelanggan. Pelanggan membawa masalah, mahasiswa membuat desain, mencetak atau memproduksi, menguji, lalu memperbaiki. Tidak perlu langsung membangun pabrik. Mulai dari satu komponen. Kalau satu pelanggan puas, cari pelanggan kedua.

Lalu bagaimana dengan Informatika? Jangan berhenti pada membuat aplikasi yang akhirnya hanya dipresentasikan di depan dosen. Cari masalah yang benar-benar terjadi. Misalnya bengkel kesulitan mencatat maintenance mesin. Buat aplikasi sederhana untuk mencatat jadwal servis, histori kerusakan, spare part, dan notifikasi. Atau buat sistem inspeksi visual menggunakan kamera dan AI untuk mendeteksi cacat sederhana pada produk. Tidak harus memakai model AI yang rumit. Yang penting sistemnya bekerja dan ada orang yang merasa terbantu. Kalau ada pengguna, ada peluang bisnis.

Di sinilah game dan animasi masuk dengan cara yang mungkin sedikit mengejutkan. Game tidak harus selalu berarti karakter berlari, menembak, atau mengumpulkan koin. Game bisa menjadi alat industri. Misalnya perusahaan membutuhkan training keselamatan kerja. Daripada setiap training harus menggunakan mesin asli dan menghentikan produksi, mahasiswa membuat serious game. Operator masuk ke simulasi virtual, menghadapi kondisi berbahaya, memilih tindakan, dan mendapatkan evaluasi. Mahasiswa Mesin membuat model mesin 3D. Elektro memahami sensor dan sistem kontrol. Informatika membuat program dan AI. Tim game dan animasi membuat dunia virtualnya. Satu produk, banyak kompetensi.

Bahkan kita bisa membuat digital twin versi sederhana. Mesin nyata mempunyai sensor. Data sensor masuk ke sistem. Di layar muncul model 3D mesin. Ketika temperatur meningkat, model memberikan indikator. Ketika getaran tidak normal, sistem memberi peringatan. Kalau ditambahkan game mechanics, operator bisa belajar mengambil keputusan melalui simulasi. Bayangkan mahasiswa yang lulus membawa portfolio seperti ini. Ketika wawancara kerja, ia tidak perlu berkata, “Saya menguasai IoT dan game development.” Ia cukup membuka laptop dan berkata, “Ini sistem yang pernah saya buat dan ini masalah industri yang saya selesaikan.”

Hal menarik lainnya adalah bahan baku. Kita tinggal di daerah yang kaya sumber daya, tetapi sering melihatnya hanya sebagai limbah. Kulit kopi, sekam padi, serbuk kayu, serat bambu, sabut kelapa, limbah pertanian, dan berbagai material lokal bisa menjadi bahan eksperimen. Teknik Mesin mengubahnya menjadi komposit atau produk baru. Elektro memasang sensor pada proses produksinya. Informatika mengolah datanya. Game dan animasi membuat visualisasi produk dalam bentuk 3D. Satu limbah bisa menjadi bahan riset, satu prototype, satu portfolio, bahkan satu bisnis.

Jadi, mungkin masalah pendidikan teknik bukan karena mahasiswa kita tidak punya potensi. Bisa jadi kita hanya belum cukup sering mengajak mereka melihat masalah sebagai peluang. Mahasiswa jangan selalu bertanya, “Pak, judul skripsi saya apa?” Sesekali ubah menjadi, “Pak, masalah industri apa yang bisa saya selesaikan?” Perubahan pertanyaan kecil ini bisa mengubah arah sebuah pendidikan.

Kampus juga tidak harus menunggu laboratorium mahal. Banyak produk awal dapat dibuat dengan laptop, software open source, ESP32, sensor murah, printer 3D, bahan lokal, kamera, dan kreativitas. Produk pertama mungkin jelek. Prototype kedua mungkin masih bocor. Produk ketiga mungkin belum laku. Tidak apa-apa. Karena proses itulah yang selama ini sering hilang dari pendidikan: membuat, gagal, memperbaiki, menguji, dan mencoba menjual.

Dan di sinilah kita bisa belajar dari ABF. Bukan meniru produknya, karena membuat material semikonduktor tentu membutuhkan riset dan fasilitas khusus. Yang kita tiru adalah cara berpikirnya: temukan kebutuhan yang sangat spesifik, kuasai teknologinya, buat solusi yang sulit digantikan, dengarkan kebutuhan pengguna, lalu terus kembangkan. Produk tidak harus besar. Yang penting dibutuhkan.

Bayangkan kalau setiap mahasiswa Teknik Elektro, Mesin, dan Informatika UIN Malang lulus dengan satu skill yang benar-benar dikuasai, satu portfolio yang bisa dipamerkan, dan satu masalah industri yang pernah mereka selesaikan. Sebagian mungkin menjadi karyawan. Sebagian menjadi freelancer. Sebagian membangun startup. Sebagian mungkin membuka bengkel digital, studio game, jasa animasi, atau usaha manufaktur kecil. Dan mungkin, dari satu produk sederhana yang dibuat di laboratorium kampus, suatu hari lahir produk yang dibutuhkan ribuan industri.

Jadi, jangan terlalu cepat mengatakan “modal kita kecil.” Mungkin yang perlu dibesarkan bukan modalnya terlebih dahulu, tetapi cara berpikirnya. Karena ABF memberi kita satu pelajaran sederhana: jangan selalu mengejar produk yang kelihatan besar. Cari masalah yang nilainya besar. Dari bahan murah, teknologi sederhana, dan kreativitas mahasiswa, kita bisa mulai membuat sesuatu yang benar-benar dibutuhkan. Sebab pendidikan tinggi yang keren bukan hanya yang membuat mahasiswa pintar menjawab pertanyaan. Pendidikan tinggi yang keren adalah yang membuat mahasiswa berani berkata: “Saya melihat masalah, saya tahu cara membuat solusinya, dan ada orang yang mau membayar solusi itu”.

Related News

Artikel Terkait