Oleh: Prof Dr Suhartono S.Si M.Kom
Guru Besar Bidang Ilmu Komputer UIN Mulana Malik Ibrahim Malang
Menjelang awal bulan, atau pada bulan suci Ramadan dan Syawal, ada beberapa komunitas Muslim, hal ini dapat memasuki ranah diskusi yang familiar: pertanyaan yang muncul kapan Hilal muncul?. Dimana Hilal adalah bulan sabit muda yang tampak pertama kali setelah terjadinya fase bulan baru (New Moon/Ijtimak), sesaat setelah matahari terbenam, yang menjadi tanda masuknya awal bulan dalam kalender Hijriah. Secara sederhana, hilal adalah penampakan awal bulan di langit barat setelah matahari tenggelam. Untuk menemukan sebagian dengan mudah dalam kalender Hijriah, yang disusun berdasarkan perhitungan astronomi, sementara yang lain menunggu penampakan bulan sabit dari berbagai lokasi, berharap mata manusia dapat menangkap tanda awal bulan di cakrawala barat. Perbedaan ini sering dipahami sebagai perbedaan antara perhitungan (hisab) dan pengamatan visual (rukyat). Namun, jika ditelusuri lebih dalam, masalah ini mewujudkan sesuatu yang lebih mendalam dalam ilmu pengetahuan bidang astronomi, dimana masih terdapat pertanyaan bagaimana manusia menggabungkan pengamatan, data, perhitungan, dan pengambilan keputusan untuk menjawab awal bulan.
Dalam ranah ilmu komputer, topik Hilal bukan hanya tentang melihat bulan atau menghitung posisinya. Ini mewakili proses pemodelan informasi – bagaimana manusia mengubah fenomena alam yang kompleks menjadi data, memprosesnya menggunakan metode tertentu, dan kemudian mengambil keputusan. Di sinilah letak daya tariknya. Tradisi Islam, yang membentang lebih dari satu milenium, secara mengejutkan memiliki ruang dialog yang kuat dengan kemajuan teknologi modern.
Dari Pengamatan Mata hingga Era Data
Pada masa Nabi Muhammad saw., pengamatan visual (rukyat) merupakan metode yang sesuai dengan kondisi yang ada. Di era di mana teknologi pengamatan masih belum berkembang, dan masyarakat kekurangan instrumen astronomi modern, pengamatan bulan secara langsung adalah metode paling objektif yang tersedia. Rukyat bukan hanya tentang melihat bulan; itu adalah bentuk verifikasi langsung dari fenomena alam. Dari perspektif ilmu komputer, rukyat memiliki kemiripan dengan konsep sensor dalam sistem digital. Sistem komputer membutuhkan sensor untuk menangkap informasi dari dunia nyata – kamera menangkap gambar, mikrofon menangkap suara, dan sensor cuaca menangkap kondisi atmosfer. Demikian pula, manusia menggunakan mata mereka sebagai “sensor biologis” untuk merasakan keberadaan Hilal. Namun, setiap sensor memiliki keterbatasannya. Kamera memiliki batas resolusi, sensor memiliki tingkat akurasi tertentu, dan mata manusia juga memiliki keterbatasan dalam kondisi cahaya tertentu. Oleh karena itu, sains telah berupaya untuk meningkatkan kemampuan manusia melalui teknologi.
Hisab: Ketika Astronomi Menjadi Algoritma
Sementara rukyat bergantung pada pengamatan langsung, hisab menggunakan pendekatan perhitungan. Dalam dunia ilmu komputer, hisab dapat dipahami sebagai algoritma prediktif. Algoritma adalah serangkaian langkah sistematis untuk memecahkan suatu masalah. Dalam menentukan posisi Hilal, manusia menggunakan model matematika yang memperhitungkan pergerakan bumi, bulan, matahari, koordinat geografis, waktu, dan kondisi atmosfer. Di masa lalu, manusia menghitung secara manual menggunakan rumus astronomi. Saat ini, komputer dapat melakukan jutaan operasi perhitungan dalam waktu yang sangat singkat. Komputer tidak menggantikan manusia dalam memahami agama; komputer berfungsi sebagai alat untuk memperkuat kemampuan manusia dalam menafsirkan tatanan ciptaan Allah Swt. Sama seperti teleskop tidak menggantikan mata manusia tetapi meningkatkan penglihatan, komputer tidak menggantikan kecerdasan manusia tetapi memperluas kapasitas analitisnya.
Hilal dan Kecerdasan Buatan: Dari Prediksi ke Presisi
Kemajuan teknologi saat ini membawa kita lebih jauh. Dengan Kecerdasan Buatan (AI), manusia dapat mengembangkan sistem yang mampu menganalisis banyak variabel secara bersamaan. Misalnya, data astronomi historis yang mencakup ribuan tahun, perubahan posisi benda langit, kondisi atmosfer, tingkat kecerahan langit, catatan citra bulan sabit dari berbagai observatorium, dan pola keberhasilan dan kegagalan pengamatan sebelumnya. Semua data ini dapat diproses menggunakan metode pembelajaran mesin untuk membantu memperkirakan kemungkinan terlihatnya Hilal. Namun, penting untuk dipahami bahwa AI tidak menetapkan hukum agama. AI tidak memiliki wewenang untuk menentukan kapan Ramadan dimulai. AI adalah alat bantu pengambilan keputusan, mirip dengan kalkulator yang membantu dalam perhitungan tetapi tidak menentukan tujuan angka-angka tersebut. Keputusan tetap berada di tangan manusia melalui metode ilmiah yang berlaku dan otoritas negara dan agama.
Mengapa Komputer Bisa Berbeda Pendapat?
Menariknya, di dunia komputer, kita menghadapi dilema yang mirip dengan perbedaan penentuan penampakan bulan awal. Dua sistem komputer dapat menghasilkan keluaran yang berbeda bukan karena kesalahan perhitungan tetapi karena mereka menggunakan parameter dan aturan yang berbeda. Hal yang sama terjadi dalam penentuan Hilal. Perbedaan tidak selalu berasal dari kesalahan matematika tetapi dari kriteria yang berbeda. Sebagai contoh, pendekatan “wujudul hilal” mengikuti standar bahwa begitu bulan berada di atas cakrawala setelah matahari terbenam, bulan baru telah dimulai. Di sisi lain, kriteria MABIMS lebih ketat, mempertimbangkan visibilitas Hilal yang sebenarnya. Dalam ilmu komputer, hal ini mirip dengan dua sistem AI dengan data dan parameter yang berbeda. Ketika input yang sama diproses dengan cara yang berbeda.






