Oleh: Harida Samudro, M.Ars
“Bangunan tidak hanya membentuk cara kita beraktivitas, tetapi juga membentuk cara kita hidup.”
Ketika membayangkan bangunan masa depan, bayangan kita biasanya tertuju pada gedung yang semakin tinggi, teknologi yang semakin canggih, serta sistem digital yang semakin cerdas. Berbagai kota berlomba menghadirkan bangunan ikonik sebagai simbol kemajuan, sementara konsep green building dan smart building semakin banyak diadopsi sebagai standar pembangunan modern. Kemajuan tersebut tentu patut diapresiasi. Namun, di balik semua pencapaian itu, ada satu pertanyaan yang justru jarang diajukan: apakah bangunan yang kita rancang benar-benar sehat untuk dihuni?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan karena manusia modern menghabiskan sekitar 80-90% waktunya di dalam bangunan. Rumah menjadi tempat membangun kehidupan keluarga, kantor menjadi ruang bekerja, sekolah dan kampus menjadi tempat belajar, sedangkan rumah sakit menjadi ruang pemulihan. Hampir seluruh aktivitas manusia berlangsung di dalam ruang-ruang yang dirancang oleh arsitektur. Dengan demikian, bangunan tidak lagi sekadar dipahami sebagai tempat beraktivitas, tetapi sebagai lingkungan yang membentuk kesehatan, kenyamanan, produktivitas, bahkan kualitas hidup penghuninya. Singkatnya, bangunan adalah ruang hidup.
Perubahan cara pandang ini menuntut perubahan dalam cara kita menilai keberhasilan sebuah bangunan. Selama ini, perhatian lebih banyak diarahkan pada aspek yang mudah terlihat, seperti kemegahan bentuk, efisiensi ruang, kecanggihan teknologi, atau sertifikasi yang telah diperoleh. Padahal, ukuran-ukuran tersebut belum tentu mencerminkan kualitas hidup yang dialami para penghuni. Sebuah bangunan dapat terlihat modern dan hemat energi, tetapi belum tentu menyediakan udara yang sehat, pencahayaan alami yang memadai, ventilasi yang baik, atau kenyamanan termal yang mendukung aktivitas sehari-hari.
Bangunan Bukan Sekadar Wadah Aktivitas
Cara pandang bahwa bangunan hanyalah wadah aktivitas perlu mulai ditinggalkan. Pada hakikatnya, bangunan merupakan lingkungan tempat manusia menghabiskan sebagian besar hidupnya. Karena itu, setiap keputusan desain bukan hanya menentukan bentuk fisik bangunan, tetapi juga menentukan kualitas pengalaman hidup yang terjadi di dalamnya.
Kesadaran ini semakin penting ketika berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas lingkungan di dalam bangunan berpengaruh langsung terhadap kesehatan manusia. Material bangunan, furnitur, cat, perekat, maupun berbagai produk interior dapat melepaskan volatile organic compounds (VOCs) yang menurunkan kualitas udara di dalam ruangan. Dalam jangka panjang, paparan senyawa tersebut dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari iritasi, sakit kepala, penurunan konsentrasi, hingga fenomena yang dikenal sebagai sindrom gedung sakit (Sick Building Syndrome). Ironisnya, ancaman tersebut sering kali tidak terlihat. Bangunan tampak bersih, modern, dan nyaman, tetapi kualitas lingkungan di dalamnya justru menurunkan kualitas hidup penghuninya.
Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menghadirkan bangunan yang mampu menjaga kesehatan dan kesejahteraan manusia. Arsitektur tidak cukup hanya menghasilkan ruang yang fungsional, tetapi juga harus menciptakan lingkungan yang sehat, nyaman, adaptif, dan mendukung produktivitas penghuninya. Dengan demikian, keberhasilan sebuah bangunan semestinya tidak lagi diukur hanya dari apa yang tampak oleh mata, tetapi juga dari bagaimana bangunan tersebut memelihara kehidupan orang-orang yang berada di dalamnya.
Dari Green Building Menuju Healthy Building
Dalam beberapa dekade terakhir, konsep green building telah menjadi standar baru dalam pembangunan berkelanjutan. Berbagai indikator dikembangkan untuk menilai efisiensi energi, konservasi air, pengurangan emisi karbon, hingga pengelolaan limbah. Namun, keberhasilan tersebut sering kali lebih banyak mengukur dampak bangunan terhadap lingkungan daripada dampaknya terhadap manusia yang menghuninya.
Perubahan paradigma tersebut melahirkan konsep healthy building, yaitu pendekatan yang menempatkan kesehatan dan kesejahteraan penghuni sebagai tujuan utama dalam proses perancangan. Jika selama ini green building lebih banyak menekankan efisiensi energi, konservasi air, pengelolaan limbah, dan pengurangan dampak lingkungan, maka healthy building memperluas fokus tersebut dengan memastikan bahwa bangunan juga mampu menghadirkan kualitas udara yang baik, pencahayaan alami yang memadai, ventilasi yang efektif, sanitasi yang sehat, serta kenyamanan fisik dan psikologis bagi para penghuninya.
Perbedaan ini penting untuk dipahami. Sebuah bangunan dapat memperoleh predikat green building, tetapi belum tentu menjadi tempat yang sehat untuk dihuni. Efisiensi energi tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas udara di dalam ruang, sementara banyaknya ruang hijau belum tentu menjamin kenyamanan termal atau kesehatan penghuni. Oleh karena itu, green building sebaiknya dipandang sebagai langkah menuju keberlanjutan lingkungan, sedangkan healthy building merupakan tujuan yang lebih menyeluruh karena menempatkan manusia sebagai pusat perancangan.
Menariknya, gagasan bahwa bangunan harus menjaga kehidupan sebenarnya bukanlah konsep yang sepenuhnya baru. Dalam tradisi Islam, nilai tersebut telah lama dikenal melalui konsep ṭahārah. Selama ini ṭahārah lebih sering dipahami sebagai praktik penyucian diri sebelum beribadah. Padahal, maknanya jauh lebih luas, yaitu membangun budaya hidup yang menjaga kebersihan, kesehatan, dan kelayakan lingkungan. Dari perspektif arsitektur, ṭahārah dapat dimaknai sebagai filosofi bahwa kebersihan bukanlah aktivitas yang dilakukan setelah ruang digunakan, melainkan kualitas yang harus dirancang sejak awal. Bangunan yang menyediakan udara bersih, sanitasi yang baik, air yang aman, serta lingkungan yang sehat sesungguhnya menerjemahkan nilai-nilai ṭahārah ke dalam bahasa desain.
Pandangan tersebut sekaligus mengubah cara kita memahami arsitektur kontemporer. Kontemporer bukan lagi sekadar identik dengan bentuk futuristik atau teknologi yang semakin canggih, melainkan kemampuan arsitektur untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Ketika kesehatan lingkungan menjadi salah satu tantangan terbesar abad ke-21, arsitektur yang benar-benar kontemporer adalah arsitektur yang mampu merancang bangunan sebagai ruang hidup yang memelihara kehidupan.
Bagaimana konsep tersebut dapat diwujudkan dalam praktik perancangan? Salah satu pendekatan yang mulai berkembang adalah phytoarchitecture, yaitu pendekatan yang mengintegrasikan vegetasi sebagai bagian aktif dari sistem bangunan. Melalui pendekatan ini, tanaman tidak lagi dipandang sekadar sebagai elemen penghijauan, melainkan sebagai infrastruktur hidup yang berkontribusi terhadap kualitas udara, kenyamanan ruang, dan kesehatan penghuni. Salah satu implementasi menarik dari pendekatan ini dapat dilihat pada pengembangan lingkungan kampus sebagai laboratorium hidup yang akan dibahas pada bagian berikutnya.
Phytoarchitecture: Merancang Bangunan yang Bernapas
Selama bertahun-tahun, upaya menciptakan bangunan yang sehat lebih banyak dilakukan melalui pendekatan mekanis. Pendingin udara berkapasitas besar, sistem ventilasi mekanis, penyaring udara berteknologi tinggi, hingga building automation system dipasang untuk menjaga kenyamanan ruang. Pendekatan tersebut memang berhasil meningkatkan kualitas lingkungan di dalam bangunan. Namun, keberhasilannya juga diikuti oleh meningkatnya konsumsi energi, biaya operasional, serta ketergantungan pada teknologi yang harus beroperasi secara berkelanjutan.
Alam telah menyediakan mekanisme yang jauh lebih tua dan telah bekerja selama jutaan tahun, yaitu fotosintesis. Melalui proses inilah tumbuhan menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, sekaligus berkontribusi pada keseimbangan lingkungan. Kesadaran tersebut melahirkan pendekatan yang dikenal sebagai phytoarchitecture, yaitu pendekatan perancangan yang mengintegrasikan vegetasi sebagai bagian aktif dari sistem bangunan.
Dalam phytoarchitecture, tanaman tidak lagi dipandang sebagai elemen dekoratif yang sekadar memperindah taman atau fasad. Sebaliknya, vegetasi diperlakukan sebagai infrastruktur hidup (living infrastructure) yang bekerja bersama sistem bangunan untuk meningkatkan kualitas udara, membantu mengendalikan suhu dan kelembapan, menyerap polutan, serta memperkuat hubungan manusia dengan alam. Dengan demikian, vegetasi tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga nilai ekologis dan fisiologis.
Perubahan cara pandang ini sekaligus mengubah cara memilih tanaman. Selama ini vegetasi sering dipilih berdasarkan bentuk tajuk, warna daun, atau keindahan visualnya. Padahal, setiap spesies memiliki karakter biologis yang berbeda. Penelitian terbaru yang kami lakukan menunjukkan bahwa tidak semua tanaman bekerja dengan cara yang sama dalam memperbaiki kualitas udara. Setiap spesies memiliki karakter biologis yang menentukan efektivitasnya, sehingga pemilihan vegetasi seharusnya didasarkan pada fungsi ekologisnya, bukan sekadar nilai estetikanya.
Pendekatan ini memberikan perspektif baru dalam dunia arsitektur. Pohon, taman, dinding hijau (green wall), atap hijau (green roof), maupun tanaman dalam ruang tidak lagi diposisikan sebagai pelengkap bangunan. Seluruh elemen tersebut menjadi bagian dari strategi desain untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Dengan kata lain, vegetasi diperlakukan sebagaimana sistem pencahayaan, ventilasi, atau sanitasi: dirancang, dipilih, dan dipelihara berdasarkan kinerja yang ingin dicapai.
Melalui pendekatan ini, konsep healthy building tidak lagi bergantung sepenuhnya pada teknologi mekanis. Sebaliknya, teknologi dan alam saling melengkapi. Bangunan menjadi sebuah ekosistem yang mengintegrasikan rekayasa teknik, proses biologis, dan kualitas ruang demi menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi para penghuninya
Kampus sebagai Laboratorium Bangunan Sehat
Konsep tersebut tidak berhenti pada tataran teori. Salah satu lingkungan yang paling potensial untuk menerapkannya adalah kampus. Berbeda dengan bangunan yang hanya digunakan pada waktu-waktu tertentu, kampus dihuni setiap hari oleh ribuan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, peneliti, dan pengunjung. Aktivitas belajar, bekerja, berdiskusi, beribadah, hingga berinteraksi sosial berlangsung hampir tanpa henti. Kondisi tersebut menjadikan kampus sebagai laboratorium hidup (living laboratory) yang ideal untuk menguji berbagai inovasi dalam mewujudkan bangunan yang sehat.
Salah satu contoh penerapannya dapat dilihat dalam pengembangan Kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Berbagai strategi dirancang secara terpadu, mulai dari pengelolaan air limbah melalui Sewage Treatment Plant (STP), pemanfaatan kembali air olahan untuk penyiraman taman dan kebutuhan nonkonsumsi, sistem pemanenan air hujan, peningkatan ventilasi alami, penguatan ruang terbuka hijau, hingga integrasi vegetasi sebagai bagian dari ekosistem kampus. Berbagai langkah tersebut menunjukkan bahwa kualitas lingkungan tidak dibangun melalui satu teknologi, melainkan melalui kombinasi berbagai sistem yang saling mendukung.
Ke depan, pendekatan tersebut berpeluang berkembang lebih jauh melalui integrasi dengan teknologi digital. Sistem bangunan cerdas berbasis Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI) memungkinkan kualitas udara, suhu, kelembapan, serta kondisi lingkungan dipantau secara real-time. Pada saat yang sama, vegetasi berfungsi sebagai sistem biologis yang membantu menjaga kualitas lingkungan secara alami. Teknologi dan alam tidak lagi diposisikan sebagai dua pendekatan yang saling bertentangan, melainkan sebagai dua sistem yang bekerja secara sinergis.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kampus dapat menjadi contoh bagaimana bangunan dirancang bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan fungsional, tetapi juga untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan penghuninya. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori mengenai keberlanjutan, sanitasi, kualitas udara, atau vegetasi, tetapi juga mengalami secara langsung bagaimana ruang yang dirancang dengan baik dapat memengaruhi kenyamanan, produktivitas, dan kualitas hidup mereka.
Pada akhirnya, masa depan arsitektur tidak akan ditentukan oleh seberapa tinggi bangunan yang mampu kita dirikan atau seberapa canggih teknologi yang kita pasang. Masa depan arsitektur akan ditentukan oleh kemampuan bangunan untuk menjaga kehidupan penghuninya. Rumah, kantor, sekolah, rumah sakit, maupun kampus pada hakikatnya merupakan ruang hidup. Ketika bangunan dirancang untuk menjaga kesehatan manusia sekaligus merawat lingkungan, di situlah arsitektur menemukan makna yang paling hakiki. Barangkali, ukuran bangunan terbaik di masa depan bukan lagi seberapa tinggi ia menjulang atau seberapa canggih teknologinya, melainkan seberapa besar kemampuannya menjaga kehidupan manusia yang berada di dalamnya. Sebab pada akhirnya, arsitektur bukan sekadar tentang membangun ruang, melainkan tentang memelihara kehidupan.
Referensi:
- Samudro, H., Noraduola, D. R., Mangkoedihardjo, S., & Rahim, A. N. C. A. (2026). Designing building phytoarchitecture based on photosynthetic pathways to combat volatile organic compounds. International Journal of Advances in Applied Sciences, 15(2), 677–686.
- Al Hidayah, P., Palar, M. B. A., & Samudro, H. (2025). Integrating phytoarchitecture and ṭahārah in reducing building environmental pollution: From ṭahārah to technology: Sanitation innovation in Islamic green architecture [Poster ilmiah]. Kompetisi Ilmiah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (KI-PTKIN) 2025, UIN Raden Fatah Palembang.
- Samudro, H. (2023). Bangunan Sehat Arsitektur Islami [Naskah kultum]. Masjid At-Tarbiyah, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.





