Oleh Dr. A. Farid Nazaruddin ST. MT
Tulisan berikut adalah versi populer dari artikel jurnal dengan penulis yang sama:
Nazaruddin, F. Samudro, H. Firnamsyah, Y. Kurniawaty, P (2025). ISLAMIC ARCHITECTURE FRAMEWORK: MENTIFACT, SOCIOFACT AND ARTIFACT. Journal of Islamic Architecture https://doi.org/10.18860/jia.v8i3.23861
Ketika mendengar istilah arsitektur Islami, banyak orang langsung membayangkan kubah besar, kaligrafi Arab, lengkungan khas Timur Tengah, atau masjid dengan menara yang menjulang tinggi. Padahal, apakah sebuah bangunan otomatis menjadi “Islam” hanya karena memiliki ciri-ciri tersebut?
Pertanyaan ini ternyata jauh lebih rumit daripada yang terlihat. Selama ini, pembahasan mengenai arsitektur Islami sering kali terjebak pada penampilan fisik bangunan. Akibatnya, banyak orang menganggap bahwa arsitektur Islami identik dengan gaya Arab atau sekadar bentuk-bentuk dekoratif yang telah diwariskan sejak masa lalu.
Padahal, Islam sendiri merupakan agama yang berkembang di berbagai wilayah dunia dengan budaya, iklim, teknologi, dan tradisi yang berbeda-beda. Karena itu, mustahil seluruh bangunan Islam harus memiliki bentuk yang sama.
Penelitian ini menawarkan cara pandang yang berbeda. Arsitektur Islami tidak cukup dipahami dari bentuk bangunannya saja. Untuk memahaminya secara utuh, kita perlu melihat tiga lapisan yang saling berkaitan, yaitu mentifact, sociofact, dan artifact. Ketiga lapisan inilah yang membentuk karakter sejati sebuah karya arsitektur Islam.
Arsitektur Islami Lebih dari Sekadar Bentuk Bangunan
Bayangkan dua buah masjid yang tampak hampir sama. Keduanya memiliki kubah besar, kaligrafi yang indah, dan ornamen geometris khas Islam. Namun, bagaimana jika salah satunya dibangun hanya demi kepentingan politik atau pencitraan, sementara yang lain benar-benar dibangun untuk melayani masyarakat dan mendekatkan manusia kepada Allah?
Secara fisik, kedua bangunan itu mungkin terlihat serupa. Akan tetapi, dari sudut pandang Islam, keduanya belum tentu memiliki nilai yang sama.
Di sinilah letak perbedaan antara arsitektur Islami و arsitektur bergaya Islami. Sebuah bangunan dapat memiliki penampilan yang islami, tetapi belum tentu dibangun berdasarkan nilai-nilai Islam. Sebaliknya, sebuah bangunan yang sangat sederhana tanpa kubah atau ornamen Arab justru dapat lebih mencerminkan prinsip-prinsip Islam apabila proses perencanaannya didasarkan pada ajaran Islam.
Dengan kata lain, Islam tidak hanya berbicara mengenai hasil akhir sebuah bangunan, tetapi juga mengenai cara berpikir, niat, proses, dan dampaknya bagi kehidupan manusia.
Tiga Lapisan Arsitektur Islami
Penelitian ini menjelaskan bahwa arsitektur Islami berkembang melalui tiga lapisan utama yang saling memengaruhi.
1. Mentifact: Cara Berpikir Sebelum Membangun
Lapisan pertama adalah mentifact, yaitu seluruh nilai, keyakinan, dan cara pandang yang menjadi dasar seseorang sebelum mulai merancang bangunan.
Dalam Islam, fondasi ini bersumber dari tiga hal utama: aqidah, akhlaq, dan fiqh.
Aqidah mengajarkan bahwa seluruh aktivitas manusia, termasuk membangun rumah, sekolah, masjid, atau kota, pada akhirnya merupakan bentuk pengabdian kepada Allah. Seorang arsitek tidak sekadar membuat bangunan yang indah, tetapi juga berusaha menghasilkan karya yang membawa manfaat dan menjadi bagian dari ibadah.
Selanjutnya adalah akhlaq. Nilai-nilai seperti kejujuran, keseimbangan, tanggung jawab, kesederhanaan, serta kepedulian terhadap sesama menjadi pedoman dalam mengambil keputusan desain. Sebuah bangunan tidak boleh hanya mengutamakan kemegahan, tetapi juga harus mempertimbangkan manfaat sosial, lingkungan, dan keberlanjutannya.
Yang ketiga adalah fiqh, yaitu aturan-aturan Islam yang mengatur kehidupan sehari-hari. Dalam konteks arsitektur, fiqh membantu menjawab berbagai persoalan praktis, mulai dari menjaga privasi penghuni, menghindari gangguan terhadap tetangga, hingga memastikan bahwa pembangunan tidak menimbulkan kerusakan bagi masyarakat maupun lingkungan.
Semua nilai tersebut membentuk cara berpikir seorang arsitek sebelum satu garis pun digambar di atas kertas.
2. Sociofact: Cara Hidup yang Membentuk Ruang
Setelah memiliki landasan berpikir yang benar, tahap berikutnya adalah sociofact, yaitu bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Islam memberikan perhatian besar terhadap hubungan antarmanusia. Oleh karena itu, arsitektur tidak boleh hanya menguntungkan pemilik bangunan, tetapi juga harus memperhatikan kepentingan masyarakat di sekitarnya.
Misalnya, Islam mengajarkan prinsip tidak boleh membahayakan orang lain. Prinsip sederhana ini ternyata memiliki dampak besar dalam dunia arsitektur.
Bangunan tidak boleh mengganggu privasi tetangga. Jendela tidak seharusnya langsung menghadap ke ruang pribadi rumah lain. Aktivitas yang menghasilkan asap, bau menyengat, atau kebisingan juga tidak boleh merugikan lingkungan sekitar.
Prinsip lain adalah menghormati kebiasaan masyarakat setempat selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Artinya, arsitektur Islami justru memberi ruang bagi budaya lokal untuk berkembang.
Inilah alasan mengapa masjid di Indonesia berbeda dengan masjid di Turki, Maroko, Cina, ataupun Afrika. Perbedaannya bukan menunjukkan bahwa salah satunya kurang Islami, tetapi justru menunjukkan kemampuan Islam untuk hidup berdampingan dengan berbagai budaya.
Selama nilai-nilai dasar Islam tetap dijaga, bentuk bangunan dapat menyesuaikan diri dengan kondisi masyarakat, iklim, material, dan teknologi setempat.
3. Artifact: Bentuk Fisik yang Terlihat
Lapisan terakhir adalah artifact, yaitu bangunan yang akhirnya berdiri dan dapat dilihat oleh semua orang.
Inilah bagian yang paling sering diperhatikan masyarakat. Padahal, sebenarnya artifact hanyalah hasil akhir dari dua lapisan sebelumnya.
Kubah, kaligrafi, pola geometris, taman, halaman, pencahayaan alami, atau bentuk atap hanyalah media untuk mengekspresikan nilai-nilai yang telah dibangun sejak awal.
Karena itu, penelitian ini menegaskan bahwa sebuah bangunan tidak dapat disebut sebagai arsitektur Islami hanya karena memiliki ornamen Islami. Nilai Islam harus sudah hadir sejak tahap perencanaan hingga proses penggunaannya.
Bangunan hanyalah “kulit”. Isi sesungguhnya berada pada nilai dan tujuan yang melahirkannya.
Mengapa Arsitektur Islami Berbeda di Setiap Negara?
Sering muncul anggapan bahwa semakin mirip sebuah bangunan dengan arsitektur Arab, semakin Islami bangunan tersebut.
Pandangan ini sebenarnya kurang tepat.
Islam berkembang dari Jazirah Arab hingga Asia Tenggara, Afrika, Eropa, bahkan Amerika. Setiap wilayah memiliki iklim, budaya, material, dan teknologi yang berbeda. Karena itu, bentuk arsitekturnya pun berkembang secara beragam.
Masjid-masjid tradisional di Jawa, misalnya, menggunakan atap bertumpang tanpa kubah. Sebaliknya, masjid di Timur Tengah banyak menggunakan kubah besar karena sesuai dengan perkembangan teknologi dan kondisi iklim di wilayah tersebut.
Keduanya sama-sama Islami, karena yang menentukan bukanlah bentuknya, melainkan apakah bangunan tersebut lahir dari nilai-nilai Islam.
Islam sendiri menghargai tradisi lokal selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama. Dalam kajian fiqh dikenal konsep ’urf, yaitu pengakuan terhadap adat dan kebiasaan masyarakat sebagai bagian dari pertimbangan hukum.
Dengan demikian, arsitektur Islami justru mendorong lahirnya identitas lokal yang kuat, bukan menyeragamkan seluruh dunia menjadi bergaya Arab.
Masjid Sebagai Awal Peradaban
Dalam sejarah Islam, pembangunan masjid sering menjadi langkah pertama ketika sebuah komunitas Muslim mulai berkembang.
Namun, fungsi masjid jauh melampaui tempat salat.
Masjid menjadi pusat pendidikan, musyawarah, pelayanan sosial, hingga pembangunan masyarakat. Karena itu, nilai sebuah masjid tidak hanya diukur dari kemegahan bangunannya, tetapi juga dari kehidupan yang tumbuh di dalamnya.
Masjid yang sederhana tetapi aktif melayani masyarakat dapat memiliki makna yang jauh lebih besar dibandingkan bangunan megah yang hanya ramai pada waktu-waktu tertentu.
Hal ini menunjukkan bahwa fungsi sosial merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari arsitektur Islam.
Tantangan Arsitektur Islami Masa Kini
Di era modern, dunia arsitektur berkembang sangat cepat. Teknologi baru memungkinkan munculnya bentuk-bentuk bangunan yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.
Di sisi lain, globalisasi membuat banyak kota memiliki wajah yang semakin seragam. Gedung-gedung kaca bertingkat tinggi bermunculan di berbagai negara tanpa banyak memperhatikan karakter budaya lokal.
Dalam situasi seperti ini, tantangan terbesar bukanlah bagaimana membuat bangunan terlihat Islami, melainkan bagaimana menjaga nilai-nilai Islam tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Arsitektur Islami tidak menolak inovasi. Sebaliknya, Islam mendorong manusia untuk terus belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana inovasi tersebut tetap membawa kemaslahatan bagi manusia, menjaga keseimbangan lingkungan, serta memperkuat hubungan manusia dengan Allah dan sesamanya.
Karena itu, arsitektur Islami masa depan tidak harus meniru bangunan abad pertengahan. Yang jauh lebih penting adalah meneruskan semangat, nilai, dan tujuan yang dahulu melahirkan bangunan-bangunan besar dalam sejarah Islam.
Melihat Arsitektur dengan Cara yang Berbeda
Penelitian ini mengajak kita melihat arsitektur dari sudut pandang yang lebih luas.
Bangunan bukan hanya benda mati yang terdiri atas beton, batu bata, baja, atau kaca. Setiap bangunan lahir dari cara berpikir manusia, dibentuk oleh kehidupan sosial, lalu diwujudkan dalam bentuk fisik.
Dalam perspektif Islam, ketiga lapisan tersebut tidak dapat dipisahkan.
Mentifact membentuk keyakinan dan tujuan.
Sociofact mengarahkan bagaimana manusia hidup bersama.
Artifact menjadi wujud nyata dari seluruh proses tersebut.
Jika hanya memperhatikan artifact, kita hanya melihat permukaan. Namun ketika memahami mentifact dan sociofact, kita mulai melihat alasan mengapa sebuah bangunan hadir, siapa yang dilayaninya, serta nilai apa yang ingin diwujudkannya.
Pada akhirnya, arsitektur Islami bukan sekadar soal kubah, kaligrafi, atau ornamen geometris. Ia adalah sebuah cara berpikir tentang bagaimana manusia membangun lingkungan yang mencerminkan keimanan, menghormati sesama, menjaga alam, dan menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan bersama.
Mungkin inilah pelajaran paling penting dari penelitian ini: bangunan yang paling Islami belum tentu yang paling megah. Yang paling Islami adalah bangunan yang paling berhasil menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam kehidupan nyata melalui cara berpikir, cara bermasyarakat, dan akhirnya melalui bentuk arsitekturnya.





