تسجيل الدخول إلى MIU

Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Desain Jalan Perkotaan yang Ideal

Oleh: Muhammad Imam Faqihuddin, M.T.

Tulisan berikut adalah versi populer dari artikel jurnal: Faqihuddin, M.I. & Firmansyah, A.Y. (2023). Urban Street Concept Based on Quran Perspective: The Most Comprehensive Solution to Street Problems. Journal of Islamic Architecture, 7(4). https://dx.doi.org/10.18860/jia.v7i4.17905

 

Coba perhatikan jalan yang kita lewati hari ini. Apakah trotoarnya cukup lebar untuk kursi roda? Apakah ada pohon yang memberikan keteduhan? Apakah perempuan dan anak-anak merasa aman berjalan di sana? Apakah pedagang kecil di pinggirnya bisa benar-benar hidup dari situ?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terasa sepele. Tapi justru di situ letak masalahnya: kita terlalu terbiasa melewati jalan tanpa pernah benar-benar mempertanyakannya.

Dunia perencanaan kota sebenarnya tidak diam. Selama beberapa dekade terakhir, banyak konsep telah lahir untuk menjawab persoalan jalan yang semakin kompleks. Ada walkable street yang mendorong manusia kembali berjalan kaki di tengah dominasi kendaraan bermotor. Ada biophilic street yang berusaha mengembalikan unsur alam ke dalam ruang kota. Ada sustainable street yang memikirkan masa depan lingkungan. Ada pula democratic street yang memperjuangkan hak semua orang atas ruang publik. Masing-masing konsep itu lahir dari kegelisahan yang nyata dan masing-masing punya jawabannya sendiri.

Namun ketika diteliti lebih jauh, ada pola yang menarik sekaligus mengganjal: setiap konsep cenderung kuat di satu sisi, tetapi longgar di sisi yang lain. Konsep yang memperhatikan alam hampir tidak bicara soal keadilan ekonomi warga. Konsep yang memperjuangkan keselamatan pejalan kaki nyaris tidak menyentuh tata kelola dan kebijakan publik. Konsep yang paling ramah lingkungan pun melewatkan dimensi sosial yang mestinya tidak bisa diabaikan. Seolah-olah setiap konsep sedang berusaha menggambar gajah, tapi masing-masing hanya memegang satu bagian tubuhnya.

Penelitian ini kemudian mengajukan sebuah pertanyaan yang tidak biasa: bagaimana jika kita mencari inspirasi dari Al-Qur’an? Bagi sebagian orang, pertanyaan itu mungkin mengejutkan. Apa hubungannya kitab suci dengan desain jalan kota? Bukankah itu urusan insinyur dan perencana kota, bukan ahli agama? Tapi justru di situ letak kejutannya.

Al-Qur’an memang tidak pernah menyebutkan kata “jalan kota” secara harfiah. Namun sebagai panduan hidup yang bersifat universal, nilai-nilainya menyentuh hampir seluruh dimensi kehidupan manusia, termasuk bagaimana kita membangun dan memperlakukan lingkungan tempat kita tinggal bersama.

Ketika peneliti mulai memetakan ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam kerangka persoalan jalan perkotaan, yang ditemukan bukan sekadar “jalan yang nyaman.” Yang ditemukan adalah sebuah gambaran yang jauh lebih utuh: jalan sebagai ruang yang harus berlaku adil kepada manusia, alam, waktu, dan generasi yang belum lahir sekalipun.

Dari proses analisis tersebut, teridentifikasi 38 indikator jalan ideal yang bersumber dari nilai-nilai Al-Qur’an. Cakupannya luar biasa luas. Al-Qur’an berbicara tentang pentingnya menjaga kualitas udara (QS Sad: 36) dan air (QS Ibrahim: 32), tentang kenyamanan suhu di ruang luar (QS Al-Baqarah: 57), tentang pelestarian keanekaragaman hayati (QS Ar-Rahman: 7-9), dan tentang efisiensi penggunaan lahan (QS Ar-Rum: 41). Ini semua berbicara tentang hubungan manusia dengan alam di sekitar jalan.

Lalu ada juga nilai-nilai tentang keselamatan (QS Al-An’am: 82), konektivitas yang memudahkan pergerakan semua orang (QS Al-Furqan: 20), transportasi umum yang layak dan terjangkau (QS Yasin: 71-72), hingga pentingnya keindahan visual lingkungan jalan (QS Fussilat: 9-10). Yang paling mengejutkan adalah seberapa jauh Al-Qur’an masuk ke dimensi sosial dan ekonomi: mendukung usaha kecil di sekitar jalan (QS An-Nisa’: 29), membuka peluang kerja yang setara bagi laki-laki dan perempuan (QS Ar-Rahman: 10-12), hingga memastikan keterlibatan warga dalam pengambilan keputusan soal ruang publik mereka sendiri (QS Al-Imran: 159). Dimensi-dimensi itu bukan tambahan. Itu inti.

Setelah seluruh indikator dari delapan konsep jalan dipetakan dan dibandingkan, penelitian ini menemukan tiga hal yang tidak ditemukan dalam satu pun konsep jalan modern, namun justru ada dalam Al-Qur’an. Yang pertama adalah penghargaan terhadap waktu (QS Yunus: 5). Jalan yang baik seharusnya tidak merampas waktu penggunanya. Kemacetan, desain yang membingungkan, atau fasilitas yang tidak efisien bukan hanya persoalan kenyamanan, tapi persoalan menghargai salah satu sumber daya manusia yang paling berharga dan tidak dapat diperbaharui.

Yang kedua adalah ketangguhan penghidupan (QS Al-Qasas: 23-27). Jalan bukan hanya infrastruktur fisik. Ia adalah tulang punggung kehidupan ekonomi masyarakat sekitarnya. Jalan yang baik semestinya memperkuat, bukan meminggirkan, kemampuan warga untuk bertahan dan berkembang.

Yang ketiga adalah jaminan keadilan dan akses hukum yang setara (QS Al-Ma’idah: 8). Tata kelola jalan tidak boleh hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu. Kebijakan, anggaran, dan pengelolaan ruang jalan harus bisa diakses dan dipertanggungjawabkan kepada semua orang secara adil. Tiga hal ini bukan detail kecil. Ini adalah kekosongan besar yang selama ini luput dari perhatian ilmu perencanaan kota.

Ada sesuatu yang patut kita renungkan dari semua ini. Kita hidup di kota-kota yang jalannya dibangun dengan anggaran besar, dirancang oleh para ahli, dan diatur oleh berbagai regulasi. Tapi masih begitu banyak jalan yang tidak terasa milik semua orang. Masih ada yang sempit dan tidak aman bagi pejalan kaki. Masih ada yang tidak bisa diakses oleh penyandang disabilitas. Masih ada yang sepi dari kehidupan karena terlalu dikuasai oleh kendaraan.

Mungkin yang selama ini kurang bukan hanya teknisnya. Mungkin yang kurang adalah pertanyaan moralnya: untuk siapa jalan ini dibangun? Apa tanggung jawab kita terhadap semua penggunanya, termasuk yang paling lemah dan paling terpinggirkan?

Al-Qur’an, ternyata, sudah lama mengajukan pertanyaan itu. Dan jawabannya bukan sekadar tentang aspal atau trotoar. Jawabannya tentang keadilan, tentang keseimbangan, tentang bagaimana sebuah peradaban memperlakukan ruang yang paling sering disentuh oleh warganya setiap hari. Jalan yang baik bukan hanya jalan yang mulus. Jalan yang baik adalah jalan yang benar-benar berlaku adil kepada semua yang melewatinya.

أخبار ذات صلة

Artikel Terkait