MIU Login

Renungan Jum’at

Oleh: Agus Mulyono

 

Tak Usah memberi ole ole, tak usah ada Gala Dinner

Ada hal menarik dalam pelaksanaan akreditasi prodi Teknik elektro, tek mesin, tek sipil, tek lingkungan oleh LAM Teknik kemarin. Sebelum kegiatan dimulai, para asesor menegaskan bahwa pihak yang diakreditasi “tidak boleh memberikan oleh-oleh kepada asesor dan tidak boleh mengajak asesor untuk gala dinner”. Sebuah ketentuan yang sederhana, tetapi menyimpan pesan yang cukup dalam. Bahwa dalam dunia profesional, ada batas yang perlu dijaga antara keramahan, penghormatan, dan upaya mendapatkan keuntungan dari sebuah hubungan.

Kalau kita renungkan, persoalan ini sebenarnya tidak hanya terjadi dalam akreditasi. Dalam kehidupan birokrasi, organisasi, bahkan dunia akademik, kita sering menghadapi situasi yang membuat kita bingung sendiri. Ketika pejabat dari pusat datang berkunjung, misalnya, kita mulai sibuk berpikir. Nanti dijamu di mana? Makan siangnya bagaimana? Perlu acara khusus atau tidak? Kalau tidak dijamu, jangan-jangan dianggap kurang menghormati. Kalau tidak disambut dengan meriah, jangan-jangan dianggap kurang serius. Akhirnya, sebelum pejabat itu datang, yang lebih dahulu sibuk justru bukan mempersiapkan substansi pertemuan, melainkan mempersiapkan bagaimana cara menyambutnya.

Padahal, yang perlu kita siapkan semestinya adalah apa yang memang menjadi tujuan kedatangannya. Kalau datang untuk membahas program, mari kita siapkan programnya. Kalau datang untuk mengevaluasi kinerja, mari kita siapkan data dan penjelasannya. Kalau datang untuk memberikan arahan, mari kita siapkan ruang diskusi yang baik. Tetapi, entah sejak kapan, dalam beberapa kebiasaan kita, urusan menyambut terkadang terasa lebih rumit daripada urusan yang hendak dibahas.

Bahkan, ada situasi yang lebih menarik. Ketika seorang pejabat atau tokoh datang, kita merasa perlu membuat acara khusus. Kalau bisa, ada seminar, kuliah umum, atau semacam diskusi. Tentu saja, kegiatan seperti ini sangat baik apabila memang dibutuhkan dan memiliki manfaat nyata. Tetapi, terkadang kita justru mulai berpikir dari sisi yang berbeda: kalau dibuat acara, nanti bisa disiapkan honorarium. Kalau ada honorarium, kita punya alasan untuk memberikan sesuatu. Akhirnya, acara yang seharusnya lahir dari kebutuhan akademik atau organisasi justru berpotensi menjadi jalan untuk memberikan imbalan kepada orang tertentu.

Sekali lagi, bukan berarti setiap undangan, honorarium, atau jamuan itu keliru. Ada kegiatan yang memang layak menghadirkan narasumber, ada pekerjaan yang pantas memperoleh honorarium, dan ada jamuan yang diperlukan dalam rangka kedinasan. Sepanjang memiliki dasar yang jelas, sesuai ketentuan, wajar nilainya, dan dapat dipertanggungjawabkan, tentu tidak menjadi masalah. Yang perlu kita periksa adalah niat, alasan, dan konteksnya. Apakah acara itu memang dibutuhkan, atau kita sedang mencari alasan agar seseorang bisa menerima sesuatu? Apakah honorarium diberikan karena pekerjaan yang benar-benar dilakukan, atau karena kita ingin membangun kedekatan dengan orang yang memiliki kewenangan?

Di sinilah batas profesionalisme mulai diuji. Kadang-kadang, sesuatu yang tidak kita katakan secara langsung justru dipahami bersama. Tidak ada kesepakatan tertulis, tidak ada janji yang diucapkan, tetapi masing-masing berharap hubungan baik itu kelak membawa kemudahan. Kita memberikan perhatian hari ini, dengan harapan besok mendapatkan perhatian yang sama. Kita memberikan fasilitas sekarang, dengan harapan urusan kita nanti lebih mudah. Transaksinya tidak selalu terlihat, tetapi harapannya kadang-kadang ada.

Dalam situasi seperti ini, kita perlu berhati-hati. Jangan sampai keramahan berubah menjadi strategi, penghormatan berubah menjadi investasi, dan silaturahmi diam-diam menjadi sarana untuk mendapatkan perlakuan khusus. Sebab, kalau hubungan profesional mulai dibangun dengan logika semacam itu, orang bisa kehilangan kepercayaan terhadap proses yang seharusnya objektif.

Contoh lain juga sering kita temui dalam berbagai urusan administrasi dan pelayanan. Ketika ada kegiatan evaluasi, pemeriksaan, penilaian, atau kunjungan kerja, muncul keinginan untuk memberikan fasilitas tambahan. Kadang-kadang berupa jamuan yang berlebihan, bingkisan, uang transportasi di luar ketentuan, atau berbagai bentuk pemberian yang dibungkus dengan istilah uang terima kasih. Lalu kita berkata, “Ini hanya tanda penghormatan.” Bisa jadi memang demikian. Tetapi, pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah pemberian itu tetap akan kita lakukan jika orang yang datang tidak memiliki kewenangan apa pun terhadap urusan kita?

Pertanyaan sederhana ini bisa membantu kita memeriksa diri sendiri. Sebab, keramahan yang tulus semestinya tidak terlalu bergantung pada jabatan seseorang. Kita menghormati orang bukan hanya karena ia bisa mempermudah urusan kita, melainkan karena memang sudah sepatutnya setiap orang diperlakukan dengan baik. Kalau keramahan kita menjadi sangat istimewa hanya ketika berhadapan dengan orang yang berkuasa, mungkin ada sesuatu yang perlu kita renungkan kembali.

Persoalannya bukan sekadar soal boleh atau tidak boleh memberi sesuatu. Persoalannya adalah bagaimana membangun budaya kerja yang tidak membuat orang merasa harus memberikan sesuatu agar urusannya berjalan dengan baik. Kita ingin orang dihargai karena kompetensinya, institusi diperhatikan karena kinerjanya, dan keputusan diambil berdasarkan aturan serta bukti. Jangan sampai orang yang bekerja dengan baik justru merasa kalah oleh mereka yang lebih pandai menjamu, lebih luwes memberikan fasilitas, atau lebih piawai membangun kedekatan personal.

Mungkin perlu merenungkan Surat Al-Baqarah ayat 268. Ayat ini mengingatkan bahwa setan menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan dan mendorongnya kepada perbuatan keji, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya. Ayat tersebut memang tidak secara khusus berbicara tentang gratifikasi, tetapi pesannya relevan ketika kita membicarakan rasa takut kehilangan kesempatan, keuntungan, atau kemudahan.

Kadang-kadang kita melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu karena takut kehilangan peluang. Kita khawatir jika tidak menjamu, hubungan menjadi kurang baik. Kita takut jika tidak memberikan perhatian khusus, urusan menjadi lebih sulit. Kita merasa kalau tidak mengikuti kebiasaan yang berlaku, kita justru akan tertinggal. Akhirnya, sesuatu yang semestinya bisa kita nilai dengan jernih menjadi terasa wajar hanya karena banyak orang melakukannya.

Menurut Pak Kyai, mungkin yang perlu kita benahi bukan hanya perilaku di permukaan, tetapi juga cara kita memandang rezeki dan kesempatan. Jangan sampai kita terlalu takut kehilangan kemudahan duniawi, lalu mengabaikan batas yang seharusnya dijaga. Rezeki tidak harus dicari dengan membangun utang budi, dan hubungan baik tidak harus dipelihara dengan pemberian yang menimbulkan harapan balasan. Kita tetap perlu berikhtiar, membangun jaringan, dan menjaga silaturahmi, tetapi semuanya harus berjalan di atas kejujuran dan kepatutan.

Tentu kita tidak perlu menjadi kaku. Tidak semua jamuan adalah gratifikasi, tidak semua undangan memiliki maksud tersembunyi, dan tidak semua pemberian dimaksudkan untuk memengaruhi keputusan. Yang kita perlukan adalah kepekaan untuk membedakan mana yang memang wajar dan mana yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan. Keramahan tetap penting, tetapi profesionalisme mengajarkan bahwa keramahan pun perlu memiliki batas.

Mungkin kita perlu membiasakan diri dengan sebuah pertanyaan sederhana sebelum mengadakan jamuan, memberikan sesuatu, atau membuat acara khusus: apakah ini memang diperlukan, apakah sesuai ketentuan, dan apakah kita tetap akan melakukannya jika tidak ada keuntungan apa pun yang bisa kita harapkan?

Kalau jawabannya jelas, kita bisa bekerja dengan lebih tenang. Namun, kalau kita mulai mencari-cari alasan agar sesuatu terlihat wajar, barangkali memang ada yang perlu diperiksa kembali.

Profesionalisme bukan berarti kita kehilangan keramahan. Profesionalisme justru membuat keramahan tetap tulus, hubungan tetap sehat, dan keputusan tetap objektif. Kita boleh menghormati pejabat, menyambut tamu, dan membangun silaturahmi. Tetapi, jangan sampai kita lebih sibuk memikirkan bagaimana menyenangkan orang yang datang daripada memastikan bahwa pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita benar-benar selesai dengan baik.

Institusi yang sehat bukanlah institusi yang paling pandai menjamu orang penting, melainkan institusi yang mampu bekerja dengan baik tanpa merasa perlu membeli perhatian siapa pun.

Wallahu a’lam
🙏🙏🙏

Berita Terkait

Artikel Terkait