MIU Login

Menjelajahi Ruang Informasi: Di Antara Dialektika Kelimpahan dan Eksistensi Makna

Oleh: D. Putra

Tibalah manusia pada suatu masa ketika kehidupan berlangsung di tengah kebisingan informasi. Setiap detik, layar gawai memancarkan notifikasi, berita, video pendek, komentar, dan berbagai manifestasi informasi yang terus datang silih berganti. Pagi belum sepenuhnya dimulai, tetapi sajian berita dari belahan dunia lain telah hadir di hadapan kita, bahkan tanpa diminta. Pada siang hari, arus informasi dalam percakapan digital tak kalah menyengat sedemikian teriknya sinar matahari, sementara malam ditutup dengan guliran layar yang seolah tak mengenal kata selesai. Demikianlah kehidupan manusia modern yang tergambarkan, terkepung oleh rona warna-warni pesan yang terus bergerak di hadapan panca indra.

Namun, di balik kelimpahan tersebut, muncul pertanyaan yang menghadirkan paradoks, mungkinkah di tengah kekayaan informasi justru terdapat kemiskinan makna? Fenomena ini berkelindan dengan gagasan information-rich but meaning-poor. Informasi terus bertambah, tetapi apakah kedalaman pemaknaan akan selalu mengikutinya? Seseorang mungkin mengetahui banyak hal dan mengakses beragam informasi, tetapi potensi pemaknaan serta keterhubungan antarinformasi tersebut masih diselimuti kabut tebal.

Dalam perspektif Islam, persoalan tersebut menjadi semakin menarik karena pengetahuan tidak semata-mata diukur berdasarkan seberapa banyak hal yang diketahui. Al-Qur’an memberikan perhatian besar terhadap aktivitas membaca, berpikir, mengamati, dan mengambil pelajaran. Wahyu pertama, Iqra’, dapat dipahami bukan sekadar sebagai perintah untuk memperoleh informasi, melainkan juga sebagai dorongan untuk membaca realitas dalam kesadaran akan Tuhan: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan” (QS. Al-‘Alaq: 1). Dengan demikian, aktivitas memperoleh pengetahuan dalam Islam tidak berlangsung dalam ruang yang netral, melainkan memiliki orientasi nilai dan ketuhanan.

Karena itu, sebelum membahas persoalan makna, ada baiknya kita melirik terlebih dahulu anatomi informasi. Informasi tidak pernah hadir di ruang hampa. Ia memerlukan medium atau wahana penyampai (carrier), seperti teks, suara, gambar, dan video, serta dipengaruhi oleh algoritma yang menentukan bagaimana pesan diseleksi, diprioritaskan, dan ditampilkan kepada kita. Persoalannya, manusia modern kerap lebih terpukau oleh daya tarik medium daripada substansi pesan yang dibawanya. Judul yang provokatif, visual yang menarik, atau video berdurasi singkat dapat merebut perhatian sebelum kedalaman isi dan kebenaran informasinya sempat diperiksa.

Informasi kerap menjelma menjadi narasi dan representasi visual yang memikat indra. Inilah rona yang kita tangkap. Akan tetapi, rona tersebut belum tentu merepresentasikan keseluruhan realitas. Sepotong informasi yang terlepas dari konteks ibarat kepingan puzzle yang tercerabut dari gambaran utuhnya. Latar ruang, waktu, latar belakang, dan situasi memberikan kerangka pemahaman bagi informasi. Tanpa konteks, informasi mudah disalahartikan, bahkan dapat digunakan untuk membangun kesimpulan yang menyimpang dari maksud awalnya.

Di titik inilah dimensi kesadaran dalam proses pemaknaan menjadi relevan untuk disandingkan dengan realitas informasi yang kita hadapi. Persoalan ini sebenarnya juga telah dikaji oleh Brenda Dervin melalui konsep populernya, Sense-Making, yang menjelaskan bagaimana manusia secara aktif membangun makna untuk memahami situasi dan menghadapi persoalan yang dialaminya, terutama ketika berhadapan dengan kesenjangan pemahaman atau ketidakpastian informasi. Dalam perjalanan hidupnya, manusia berulang kali menghadapi gap atau kesenjangan berupa ketidakpastian, kebingungan, persoalan, maupun keterbatasan pemahaman. Informasi hadir bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sumber daya yang membantu manusia menjembatani kesenjangan tersebut.

Informasi dapat dianalogikan sebagai batu bata. Batu bata memang penting, tetapi keberadaannya belum membentuk jembatan sebelum disusun berdasarkan rancangan dan tujuan tertentu. Manusia berperan aktif dalam menyusun, menghubungkan, dan mengarahkan informasi tersebut. Makna tidak semata-mata tersimpan di dalam informasi, tetapi terbentuk melalui proses aktif ketika manusia menghubungkannya dengan pengalaman, konteks, pertanyaan, nilai, dan tujuan hidup.

Dari sini, perjalanan kesadaran manusia dapat dipahami sebagai proses pendalaman, dari informasi menuju pengetahuan, kemudian menuju kebijaksanaan (wisdom) ketika pengetahuan telah terinternalisasi dan diwujudkan dalam pertimbangan serta tindakan. Informasi masih berupa bahan pemahaman yang diperoleh dari luar diri. Pengetahuan terbentuk ketika informasi diolah, diuji, dibandingkan, dan dipahami melalui penalaran. Kebijaksanaan tumbuh ketika pengetahuan tidak hanya dipahami, tetapi juga digunakan secara arif dalam menghadapi realitas kehidupan. Dalam proses inilah makna memperoleh kedalaman dan signifikansinya. Informasi tidak lagi sekadar menjadi rona yang datang dan pergi, tetapi menjelma menjadi sesuatu yang bernilai dan membentuk cara manusia berpikir, bersikap, serta bertindak.

Pada akhirnya, tantangan terbesar era informasi sesungguhnya bukanlah sekadar bagaimana memperoleh lebih banyak informasi, melainkan bagaimana menyediakan ruang bagi proses pemaknaan. Ada kalanya kita membutuhkan jeda, bukan untuk membatasi keingintahuan atau menjauh dari arus informasi, melainkan untuk memberi ruang bagi refleksi. Sebab, menjadi manusia yang utuh di era modern bukanlah tentang seberapa banyak rona informasi yang kita konsumsi, melainkan seberapa dalam kita mampu membangun makna dari setiap keping informasi yang kita terima.

Berita Terkait

Artikel Terkait