Oleh: Agus Mulyono
ADA SINERGI… ADA ENERGI
Ada kalimat sederhana yang menarik yang disampaikan pak Menteri Agama pagi tadi di kampus UIN Maliki Malang, untuk bahan renungan: “ada sinergi.. ada energi”.
Kampus sebenarnya penuh dengan energi. Ada energi dosen dengan ilmu dan pengalamannya, mahasiswa dengan kreativitasnya, tenaga kependidikan dengan pelayanannya, pimpinan dengan kebijakannya, alumni dengan jejaringnya, laboratorium dengan fasilitasnya, dan masyarakat dengan berbagai persoalan yang membutuhkan jawaban dari kampus. Jadi sebenarnya kita tidak kekurangan energi. Yang sering menjadi persoalan adalah bagaimana energi yang banyak itu bisa bertemu, saling menguatkan, kemudian menjadi kekuatan bersama.
Kalau kita melihatnya dari perspektif fisika, energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja. Tetapi energi yang besar belum tentu menghasilkan kerja yang besar kalau arahnya tidak tepat. Dalam konsep gaya dan vektor, dua gaya yang arahnya sama akan menghasilkan resultan yang lebih besar, sementara gaya yang berlawanan bisa saling mengurangi. Prinsip sederhana ini sangat relevan dengan kehidupan kampus. Dua orang yang sama-sama hebat belum tentu menghasilkan kekuatan besar kalau berjalan dengan arah yang berbeda. Sebaliknya, orang-orang dengan kemampuan yang berbeda justru bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa ketika memiliki tujuan yang sama.
Karena itu, sinergi bukan berarti semua orang harus sama. Justru sinergi membutuhkan perbedaan. Dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan dan pimpinan, masing-masing mempunyai fungsi dan energi yang berbeda. Yang penting adalah bagaimana semuanya bergerak dalam satu ekosistem. Seperti tubuh manusia, jantung, paru-paru, otak, darah, dan organ lainnya mempunyai fungsi yang berbeda, tetapi semuanya bekerja untuk kehidupan yang sama. Yang membuat tubuh hidup bukan karena satu organ paling hebat, tetapi karena seluruh sistemnya saling terhubung.
Begitu pula kampus. Penelitian dosen bisa menjadi ruang belajar mahasiswa. Kreativitas mahasiswa bisa dikembangkan di laboratorium. Laboratorium bisa bekerja sama dengan industri. Industri memberikan persoalan nyata yang kemudian menjadi bahan penelitian. Alumni membuka jejaring, sementara pimpinan menyediakan kebijakan dan ruang agar semuanya bisa bergerak. Kalau hubungan seperti ini terbentuk, energi tidak berhenti pada masing-masing orang atau unit, tetapi berputar menjadi energi baru. Dari penelitian lahir inovasi, dari inovasi lahir teknologi, dari teknologi lahir manfaat, dan dari manfaat lahir kepercayaan serta kerja sama baru.
Menurut Pak Kyai, hidup bersama itu bukan berarti semua orang harus melakukan pekerjaan yang sama. Justru karena berbeda kemampuan, kita membutuhkan satu sama lain. Ada yang kuat dalam gagasan, ada yang kuat dalam pelaksanaan. Ada yang senang memulai, ada yang telaten menyelesaikan. Ada yang kuat di laboratorium, ada yang kuat di lapangan. Perbedaan itu bukan masalah selama kita mempunyai tujuan yang sama.
Islam juga mengajarkan pentingnya kebersamaan dan saling menguatkan. Maka sinergi tidak hanya bisa dilihat sebagai strategi organisasi, tetapi juga sebagai bagian dari nilai bahwa kemampuan yang kita miliki sebaiknya tidak berhenti menjadi kehebatan pribadi, tetapi berubah menjadi kemanfaatan bersama.
Masalahnya, energi dalam organisasi kadang habis bukan karena pekerjaan yang terlalu banyak, tetapi karena terlalu banyak gesekan. Dalam fisika kita mengenal gaya gesek. Gesekan memang diperlukan, tetapi kalau terlalu besar, energi justru berubah menjadi panas dan gerak menjadi lambat. Dalam kampus pun demikian. Perbedaan pendapat itu sehat, tetapi ego sektoral, komunikasi yang buruk, saling curiga, dan merasa paling benar dapat menjadi gesekan yang menghabiskan energi. Energi yang seharusnya digunakan untuk penelitian, pendidikan, inovasi, dan pelayanan akhirnya habis untuk urusan yang tidak membawa kita ke mana-mana.
Karena itu, membangun sinergi bukan hanya soal menambah program. Kadang kita justru perlu melihat kembali energi yang sudah kita miliki. Kita mungkin sudah mempunyai banyak dosen hebat, tetapi belum cukup banyak kolaborasi. Sudah memiliki banyak mahasiswa kreatif, tetapi belum cukup ruang untuk bereksperimen. Sudah memiliki laboratorium, tetapi belum seluruh potensinya digunakan. Sudah memiliki alumni dan mitra, tetapi belum semuanya terhubung dengan kebutuhan kampus. Artinya, mungkin yang kita perlukan bukan selalu energi baru, tetapi cara baru untuk menghubungkan energi yang sudah ada.
Ada pelajaran sederhana dari fisika yang mungkin relevan dengan kehidupan kita: energi dapat berubah bentuk. Gagasan bisa berubah menjadi penelitian, penelitian menjadi inovasi, inovasi menjadi teknologi, dan teknologi menjadi manfaat bagi masyarakat. Begitu juga energi manusia. Ketika ilmu, kreativitas, kepercayaan, kepedulian, dan kerja bersama bertemu dalam arah yang sama, semuanya dapat berubah menjadi kekuatan perubahan.
Jadi, mungkin ketika kita berbicara tentang pengembangan kampus, pertanyaannya bukan hanya “Apa yang masih kurang?”, tetapi juga “Energi apa yang sudah kita miliki dan belum kita sinergikan?” Sebab bisa jadi kita tidak sedang kekurangan. Kita hanya perlu mengurangi gesekan, menyatukan arah, dan membuka ruang agar energi yang ada bisa saling menguatkan.
Karena…. ada energi belum tentu menjadi kekuatan, ada banyak orang belum tentu menjadi gerakan. Tetapi ketika energi bertemu dalam sinergi, lahirlah kekuatan yang jauh lebih besar. Dan ketika kekuatan itu diarahkan untuk ilmu, kemanusiaan, dan kemanfaatan, insyaallah kampus bukan hanya berkembang secara institusi, tetapi juga menjadi tempat tumbuhnya manusia yang berilmu, berakhlak, dan memberi manfaat.
Ada sinergi, pasti ada energi. Dan ketika energi itu bergerak bersama dalam visi yang sama, insyaallah kampus bukan hanya berkembang, tetapi juga memberi manfaat yang lebih luas bagi manusia dan kehidupan
Wallahu a’lam
🙏🙏🙏









