MIU Login

AI Bisa Merancang Bangunan, tetapi Bisakah Ia Menghadirkan Spiritualitas?

Belajar dari Masjid-Masjid Bersejarah Walisongo

Oleh: Aisyah Nur Handryant

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence kini dapat menghasilkan gambar bangunan hanya dalam hitungan detik. Cukup dengan menuliskan perintah seperti “rancang masjid futuristik yang ramah lingkungan”, AI dapat menyajikan beragam alternatif bentuk, fasad, interior, pencahayaan, lanskap, bahkan suasana ruang yang tampak menakjubkan.

Kemampuan AI dalam bidang arsitektur tidak lagi terbatas pada produksi gambar. Teknologi ini mulai digunakan dalam perencanaan ruang, desain generatif, pemodelan parametrik, analisis tapak, pemilihan material, simulasi lingkungan, hingga optimasi struktur dan konsumsi energi. Kajian Albukhari (2025) menunjukkan bahwa AI mampu mempercepat proses perancangan, memperluas alternatif desain, dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data.

Perkembangan ini mengubah cara arsitek bekerja. Park (2026) bahkan menyebut bahwa peran arsitek pada era AI mulai bergeser dari pencipta tunggal menjadi kurator kritis yang memilih, memeriksa, dan memberi makna pada berbagai alternatif yang dihasilkan mesin. Namun, kemajuan tersebut membawa pertanyaan yang lebih mendasar, terutama ketika AI digunakan untuk merancang masjid dan bangunan keagamaan:

“AI dapat menghasilkan bentuk bangunan, tetapi bisakah ia menghadirkan spiritualitas?”

 

Spiritualitas Bukan Gaya Visual

AI mampu mempelajari ribuan gambar masjid yang tersedia di internet. Dari data tersebut, AI dapat mengenali bahwa bangunan masjid sering memiliki kubah, menara, lengkung, kaligrafi, pola geometris, ruang simetris, dan pencahayaan dramatis. Hasilnya dapat terlihat sangat Islami. Akan tetapi, bangunan yang terlihat Islami belum tentu menghadirkan pengalaman spiritual.

Kubah yang besar tidak secara otomatis membuat seseorang lebih khusyuk. Kaligrafi yang indah tidak selalu menumbuhkan kesadaran kepada Allah. Interior yang megah dalam sebuah render belum tentu terasa tenang, teduh, aman, dan bermakna indak benar-benar dihuni. Hal ini terjadi karena spiritualitas bukan atribut visual yang dapat ditempelkan pada bangunan. Spiritualitas merupakan pengalaman batin yang berkaitan dengan pencarian makna, refleksi, keterhubungan, dan hubungan manusia dengan sesuatu yang melampaui dirinya.

Barrie dan Bermudez (2019) menjelaskan bahwa arsitektur dapat menyediakan lingkungan yang membantu manusia memahami keberadaannya, mengalami transendensi, dan mengembangkan indakan etis. Definisi tersebut tidak menempatkan arsitektur sebagai penghasil spiritualitas secara otomatis. Arsitektur lebih berperan sebagai medium yang mendukung terjadinya pengalaman spiritual. Dengan demikian, pertanyaan dalam judul tulisan ini bersifat reflektif. AI dan arsitektur tidak dapat memproduksi spiritualitas seperti menghasilkan denah, gambar, atau model tiga dimensi. Keduanya hanya dapat membantu menghadirkan kondisi yang mendukung perhatian, ketenangan, ibadah, refleksi, keterhubungan sosial, dan pembentukan makna.

Arsitektur Dialami, Bukan Hanya Dilihat

Salah satu kelemahan penggunaan AI dalam perancangan adalah kecenderungannya mengutamakan apa yang mudah direpresentasikan secara visual. Padahal, manusia tidak mengalami arsitektur hanya melalui mata. Pallasmaa (2012) mengkritik dominasi penglihatan dalam arsitektur modern. Pengalaman ruang sesungguhnya melibatkan tubuh secara utuh: pendengaran, penciuman, sentuhan, temperatur, gerak, keseimbangan, ingatan, dan emosi.

Seseorang dapat merasakan perubahan suasana ketika berpindah dari jalan yang ramai menuju halaman masjid yang teduh. Langkahnya mungkin melambat ketika melewati gerbang lama. Suara kendaraan berangsur tergantikan oleh azan, bacaan Al-Qur’an, atau percakapan pelan. Permukaan lantai yang dingin, aroma kayu tua, cahaya redup, suara langkah, dan aliran udara menjadi bagian dari pengalaman ruang.

Zumthor (2006) menyebut kesatuan pengalaman tersebut sebagai atmosfer. Atmosfer tidak hanya dibentuk oleh satu elemen, tetapi oleh perjumpaan antara cahaya, material, suara, temperatur, proporsi, benda, tubuh, dan suasana hati manusia.

AI dapat menghitung intensitas cahaya, temperatur, tingkat kebisingan, dan kecepatan angin. AI juga mampu menyimulasikan bagaimana manusia bergerak di dalam bangunan. Namun, angka-angka tersebut belum sepenuhnya menjelaskan mengapa seseorang dapat merasa tenteram, tersentuh, terharu, atau lebih dekat kepada Allah di suatu tempat. Pengalaman spiritual tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga dengan kesiapan batin orang yang mengalaminya.

Belajar dari Kompleks Masjid–Makam Walisongo

Masjid-masjid bersejarah Walisongo memberi pelajaran bahwa spiritualitas dalam arsitektur tidak hanya berada di ruang salat utama. Spiritualitas dapat berkembang melalui keseluruhan perjalanan manusia di dalam kompleks. Pada kompleks masjid–makam, perjalanan tersebut dapat dimulai dari gerbang, jalan masuk, lorong, halaman, tempat wudu, serambi, ruang salat, hingga area makam. Setiap bagian memiliki karakter fisik, atmosferik, simbolik, historis, dan sosial yang berbeda.

Barrie (2010) menggunakan istilah the sacred in-between untuk menjelaskan pentingnya ruang antara dalam arsitektur religius. Ruang transisi bukan sekadar penghubung teknis antara luar dan dalam. Ruang tersebut dapat menjadi tempat manusia mengatur langkah, menenangkan diri, menyesuaikan perilaku, dan mempersiapkan batin sebelum mendekati ruang yang dipandang lebih sakral. Bermudez (2015) juga menunjukkan bahwa pengalaman transendental tidak selalu lahir dari satu bentuk monumental. Pengalaman tersebut dapat dipicu oleh serangkaian spiritual affordances, yaitu kualitas ruang yang memberi kemungkinan bagi munculnya keheningan, refleksi, kekaguman, dan kesadaran yang lebih mendalam.

Dalam konteks Walisongo, gerbang bukan hanya pintu masuk. Gerbang dapat menandai peralihan antara kehidupan sehari-hari dan suasana ziarah. Lorong bukan hanya jalur sirkulasi, tetapi bagian dari perjalanan yang mengarahkan tubuh dan perhatian. Serambi bukan semata-mata ruang tambahan, melainkan tempat untuk berhenti, menunggu, mengamati, atau mempersiapkan diri.

Ruang salat dan makam juga tidak berdiri sebagai dua objek yang terpisah. Keduanya terhubung melalui perjalanan, ritual, sejarah, tradisi, dan pemaknaan yang hidup di tengah masyarakat. Pelajaran pentingnya adalah bahwa spiritualitas arsitektur tidak berada pada satu benda. Ia lahir dari hubungan antarruang, pergerakan tubuh, suasana, aktivitas, dan makna yang menyertainya.

Spiritualitas yang Tumbuh dari Laku Para Wali

Nilai spiritual masjid-masjid Walisongo tidak hanya dipahami berasal dari usia bangunan, keindahan arsitektur, atau kedekatannya dengan makam. Dalam keyakinan masyarakat, nilai tersebut juga berhubungan dengan sosok wali yang mendirikan, menggunakan, dan menghidupkan masjid melalui ibadah, dakwah, riyadhah, zikir, wirid, serta keteladanan hidup.

Dalam tradisi spiritual Islam, riyadhah merupakan latihan batin yang dilakukan secara sungguh-sungguh untuk mengendalikan diri dan membersihkan hati. Zikir menjadi jalan untuk menjaga kesadaran kepada Allah, sedangkan ibadah dan penyucian jiwa diarahkan untuk membangun kedekatan kepada-Nya. Masjid yang digunakan secara terus-menerus untuk laku spiritual tersebut akhirnya tidak hanya dipandang sebagai hasil pekerjaan konstruksi, tetapi juga sebagai jejak perjalanan ruhani pendirinya.

Narasi informan dalam penelitian yang telah dilakukan penulis memperlihatkan bahwa masjid wali sering dipahami sebagai tempat yang telah “diniatkan” dan “ditirakati”. Perasaan teduh, ketenteraman batin, aura, dan kedalaman pengalaman yang muncul ketika memasuki masjid dikaitkan oleh informan dengan keikhlasan, lamanya wirid, riyadhah, serta perjuangan dakwah wali yang mendirikannya. Salah seorang informan menegaskan bahwa perbedaan pengalaman antara masjid wali dan masjid lain bukan hanya ditentukan oleh bentuk bangunan, tetapi juga oleh “sosok di balik bangunan” dan laku spiritual yang menyertai proses pendiriannya.

Karamah wali juga menjadi bagian dari cara masyarakat memaknai tempat tersebut. Dalam teologi Islam, karamah bukan kekuatan mandiri yang dimiliki seseorang atau melekat secara fisik pada material bangunan. Karamah dipahami sebagai anugerah Allah kepada hamba-Nya yang saleh. Dalam keyakinan peziarah, kemuliaan wali, keberkahan perjuangannya, serta kedekatannya kepada Allah ikut memberi kedalaman makna pada masjid, makam, petilasan, dan ruang-ruang yang pernah digunakan untuk beribadah.

Oleh karena itu, spiritualitas masjid Walisongo terbentuk dari hubungan antara dua lapisan. Lapisan pertama adalah kualitas arsitektural yang dapat dialami melalui bentuk, material, cahaya, suara, temperatur, gerak, dan urutan ruang. Lapisan kedua adalah warisan tidak berwujud berupa niat, riyadhah, zikir, karamah, keteladanan, sejarah dakwah, serta memori kolektif masyarakat.

Kedua lapisan tersebut tidak dapat sepenuhnya dipisahkan. Bentuk fisik membantu menghadirkan kembali ingatan terhadap wali, sedangkan kisah, ritual, dan keyakinan masyarakat memberi makna lebih dalam kepada bentuk fisik tersebut. Masjid akhirnya tidak hanya dihargai karena apa yang terlihat, tetapi juga karena kehidupan spiritual yang diyakini pernah berlangsung dan terus diwariskan di dalamnya.

Di sinilah batas penting kemampuan AI. AI mungkin dapat meniru atap, tiang, gerbang, serambi, ukiran, dan pencahayaan masjid Walisongo. Namun, AI tidak dapat secara instan menghasilkan akumulasi riyadhah, zikir, keikhlasan, perjuangan dakwah, dan ikatan masyarakat yang terbentuk selama ratusan tahun. AI juga tidak dapat menciptakan karamah atau keberkahan, karena keduanya bukan produk desain dan bukan hasil perhitungan algoritma.

AI dapat mereproduksi rupa sebuah masjid. Spiritualitasnya tumbuh dari laku manusia, perjalanan sejarah, dan hubungan kepada Allah.

Menuju Arsitektur Ulul Albab

Integrasi sains dan Islam tidak cukup dilakukan dengan menambahkan simbol keagamaan pada hasil teknologi. Integrasi terjadi ketika pengetahuan ilmiah, kecakapan teknis, kesadaran ketuhanan, dan tanggung jawab moral hadir dalam satu proses. Konsep Ulul Albab menggambarkan manusia yang menggunakan akal sekaligus memelihara zikir dan kesadaran kepada Allah, sebagaimana dinyatakan dalam QS Ali ‘Imran ayat 190–191.

Dalam kerangka tersebut, AI dapat menjadi sarana untuk membaca data, menguji alternatif, meningkatkan kenyamanan, dan mengurangi dampak lingkungan. Namun, manusia tetap bertanggung jawab atas keputusan, makna, dan konsekuensi desainnya.  AI dapat menghasilkan masjid yang tampak indah. AI dapat mengoptimalkan struktur, cahaya, suhu, sirkulasi, dan energi. AI juga dapat membantu mendokumentasikan serta melestarikan warisan arsitektur Islam.Namun, spiritualitas tidak lahir dari algoritma saja.

Pembelajaran dari masjid-masjid bersejarah Walisongo menunjukkan bahwa spiritualitas tumbuh melalui hubungan antara ruang, tubuh, niat, ritual, sejarah, budaya, komunitas, dan kesadaran kepada Allah. Arsitektur dapat membingkai dan mendukung hubungan tersebut, tetapi tidak dapat menjamin bahwa setiap orang akan mengalami spiritualitas dengan cara yang sama. Pertanyaan terpenting bukan apakah AI dapat menggantikan arsitek dalam merancang masjid. Pertanyaannya adalah apakah manusia mampu menggunakan AI tanpa kehilangan kepekaan terhadap hal-hal yang tidak dapat sepenuhnya dihitung dan divisualisasikan.

AI dapat menjadi alat yang sangat cerdas. Kehadiran spiritualitas dalam arsitektur tetap memerlukan manusia yang berakal, berzikir, berempati, dan bertanggung jawab.

 

Referensi

Albukhari, I. N. (2025). The role of artificial intelligence (AI) in architectural design: A systematic review of emerging technologies and applications. Journal of Umm Al-Qura University for Engineering and Architecture, 16, 1457–1476. doi: 10.1007/s43995-025-00186-1.

Barrie, T. (2010). The Sacred In-Between: The Mediating Roles of Architecture. Routledge.

Barrie, T., & Bermudez, J. (2019). Spirituality and architecture. Dalam L. Zsolnai & B. Flanagan (Ed.), The Routledge International Handbook of Spirituality in Society and the Professions (hlm. 345–355). Routledge. doi: 10.4324/9781315445489-41.

Bermudez, J. (Ed.). (2015). Transcending Architecture: Contemporary Views on Sacred Space. The Catholic University of America Press.

Counted, V., & Zock, H. (2019). Place spirituality: An attachment perspective. Archive for the Psychology of Religion, 41(1), 12–25. doi: 10.1177/0084672419833448.

Mazumdar, S., & Mazumdar, S. (1993). Sacred space and place attachment. Journal of Environmental Psychology, 13(3), 231–242. doi: 10.1016/S0272-4944(05)80175-6.

Pallasmaa, J. (2012). The Eyes of the Skin: Architecture and the Senses (Edisi ke-3). Wiley.

Park, S. Y. (2026). Architectural design in the age of generative AI: Toward a balance between efficiency and responsibility. Architectural Research, 28, Article 4. doi: 10.1007/s44515-026-00006-0.

Zumthor, P. (2006). Atmospheres: Architectural Environments, Surrounding Objects. Birkhäuser.

 

Berita Terkait

Artikel Terkait