MIU 登录

Renungan Jum’at

Oleh: Agus Mulyono

 

Terlalu MengImani yang Disebut Ilmiah

Ada seseorang yang sedang terkena penyakit. Sebut saja penyakit jantung dan asam urat. Karena sejak awal memang sangat percaya kepada ilmu pengetahuan, ia kemudian pergi ke dokter. Ia diperiksa, didiagnosis, diberi obat, dan menjalani perawatan sebagaimana mestinya. Beberapa waktu kemudian kondisinya membaik. Ia pun semakin yakin bahwa dunia kedokteran adalah jalan yang benar untuk menyelesaikan persoalan kesehatan.

Wajar. kedokteran modern memang lahir dari proses panjang penelitian, pengujian, pengamatan, eksperimen, dan kerja ilmiah yang dilakukan oleh para ilmuwan di kampus, rumah sakit, dan berbagai lembaga penelitian?

Tetapi di kampung yang sama, ada seseorang yang mengalami penyakit yang kurang lebih sama. Sejak kecil ia hidup dalam tradisi keluarga yang mengenal pijat tradisional. Ketika tubuhnya terasa tidak nyaman, ia pergi kepada seorang ahli pijat yang sudah puluhan tahun dikenal masyarakat. Dipijat, badannya terasa lebih ringan, tidurnya lebih nyenyak, dan keluhannya berkurang. Ia kemudian sembuh.

Lalu ia berkata, “Saya percaya pijat. Dari dulu keluarga saya kalau sakit ya dipijat.”
Apakah keyakinan orang kedua ini salah?
Belum tentu.
Sebab di sinilah persoalan kita menjadi menarik. Orang pertama sembuh setelah mendapatkan pengobatan modern. Orang kedua sembuh setelah mendapatkan pijat tradisional. Tetapi keduanya kemudian mengambil kesimpulan yang sama: pengalaman yang membuat saya sembuh adalah sesuatu yang saya percaya.
Yang berbeda hanyalah jalan yang ditempuh.
Orang pertama mengatakan, “Ini ilmiah.”
Orang kedua mungkin tidak mengenal istilah ilmiah. Ia hanya mengatakan, “Wong wis kabukten.” Sudah terbukti.

Dan kadang-kadang, justru kalimat sederhana seperti “sudah terbukti” ini yang membuat kita perlu berhenti sebentar dan berpikir.
Sebab ilmiah dan tidak ilmiah tidak selalu sesederhana kampus dan bukan kampus.
Ada pengetahuan yang lahir dari laboratorium. Ada pula pengetahuan yang lahir dari pengalaman panjang manusia berinteraksi dengan alam. Ada yang lahir dari jurnal penelitian. Ada yang lahir dari ribuan kali percobaan yang tidak pernah ditulis dalam jurnal. Ada yang memiliki metodologi formal, ada pula yang diwariskan melalui praktik dan pengalaman dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Misalnya tentang talas jenis tertentu yang oleh masyarakat dikenal sebagai senthe.
Ada orang yang mengatakan, “Jangan dimakan. Beracun. Kalau salah mengolah, mulut, lidah dan kulit bisa terasa gatal.”
Tetapi di sebuah kampung, orang sudah lama mengolahnya. Direndam terlebih dahulu dengan air garam, kemudian diproses dengan cara tertentu, lalu digoreng menjadi keripik. Bisa dimakan. Bahkan mungkin sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Lalu kita bertanya, “Mana yang ilmiah?”
Apakah pengetahuan masyarakat itu otomatis tidak ilmiah hanya karena belum pernah diteliti oleh kampus?
Tentu tidak sesederhana itu.
Tetapi kita juga jangan buru-buru mengatakan bahwa semua pengetahuan tradisional pasti benar. Tidak. Pengetahuan masyarakat tetap perlu diuji. Kalau memang bermanfaat, mari diteliti. Kalau memang aman, mari dibuktikan. Kalau ternyata ada yang berbahaya, mari diluruskan.

Justru di sinilah kampus seharusnya hadir.
Masyarakat memiliki pengalaman. Kampus memiliki metodologi. Masyarakat memiliki pengetahuan lokal. Kampus memiliki instrumen untuk menguji. Masyarakat memiliki kearifan. Ilmuwan memiliki kemampuan menjelaskan mekanismenya.
Kalau keduanya bertemu, lahirlah ilmu yang bukan hanya benar di atas kertas, tetapi juga berguna dalam kehidupan.

Begitu pula dengan pertanian. Selama puluhan tahun kita sangat percaya kepada pupuk kimia. Nitrogen, fosfor, kalium. NPK. Semua terdengar sangat ilmiah. Ada rumusnya, ada kandungannya, ada penelitian, ada rekomendasi dosis, ada tabel, ada laboratoriumnya.
Tidak salah. Pupuk kimia memang memiliki peran besar dalam meningkatkan produktivitas pertanian.

Tetapi kemudian kita menghadapi persoalan lain. Penggunaan yang tidak tepat, berlebihan, atau terus-menerus dapat menimbulkan persoalan bagi kualitas tanah dan lingkungan. Maka hari ini kita mulai berbicara tentang pupuk organik, pertanian berkelanjutan, kesehatan tanah, mikroorganisme tanah, siklus nutrien, dan berbagai pendekatan ekologis.
Menariknya, sebagian gagasan itu sebenarnya bukan sesuatu yang sama sekali baru bagi nenek moyang kita.

Mereka menggunakan sisa tanaman, biomassa, kotoran ternak, dan berbagai bahan organik untuk mengembalikan sesuatu kepada tanah. Mereka mengenal musim. Mereka mengenal tanda-tanda alam. Mereka memiliki apa yang dalam tradisi Jawa sering disebut ilmu titen—mengamati, mengingat, membandingkan, lalu mengambil pelajaran dari pola yang berulang.
Mungkin mereka tidak mengenal istilah soil organic matter.
Mungkin mereka tidak mengenal istilah nutrient cycling.
Mungkin mereka tidak pernah membuat grafik di Excel.
Tetapi mereka tahu bahwa tanah yang terus-menerus diambil hasilnya juga harus diberi kembali.
Apakah itu tidak bernilai? Tentu bernilai.

Dan tugas ilmu pengetahuan modern bukan kemudian mengatakan, “Nenek moyang kita tidak ilmiah.”
Justru tugas ilmu pengetahuan adalah bertanya, “Apa sebenarnya yang mereka ketahui? Mengapa cara itu bekerja? Dalam kondisi apa ia bekerja? Apa mekanismenya? Bagaimana kita bisa memperbaikinya?”

Jadi kampus tidak perlu merasa lebih tinggi daripada masyarakat.
Keduanya saling membutuhkan.
Sebab ada satu penyakit lain yang mungkin sedang menjangkiti dunia akademik kita. Bukan penyakit jantung. Bukan asam urat.
Tetapi penyakit terlalu bangga dengan label ilmiah.
Kita kadang terlalu sibuk memastikan sesuatu disebut ilmiah, sampai lupa bertanya: untuk apa ilmu itu dibuat?

Penelitian selesai. Artikel terbit. Jurnal terindeks. Scopus masuk. SJR naik. H-index bertambah. Sitasi meningkat. Lalu setelah semua itu selesai, kita bertanya, “Terus, masyarakat mendapatkan apa?” Nah. Di titik ini kita perlu merenung.

Scopus penting. Publikasi ilmiah penting. Jurnal penting. Metodologi penting. Sitasi penting. Kampus memang harus menghasilkan ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Tetapi jangan sampai alat ukur prestasi akademik berubah menjadi tujuan akhir dari ilmu pengetahuan.
Jangan sampai kita menghasilkan banyak artikel tentang kemiskinan, tetapi masyarakat miskin tidak pernah kita datangi.
Jangan sampai kita meneliti pertanian berkelanjutan, tetapi petani tidak pernah merasakan manfaatnya.
Jangan sampai kita meneliti kesehatan masyarakat, tetapi masyarakat tetap bingung ketika menghadapi persoalan kesehatan.

Jangan sampai kita sangat sibuk mengejar publish or perish, sementara masyarakat justru mengalami research or perish… diteliti terus, tetapi tidak pernah benar-benar dibantu.
Menurut Pak Kyai, ilmu itu seharusnya membuat manusia semakin dekat kepada kemaslahatan. Sebab dalam Islam, ilmu bukan sekadar membuat kita tahu lebih banyak, tetapi seharusnya membuat kita menjadi manusia yang lebih bermanfaat.
Bukankah ada ungkapan yang sangat kita kenal, “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”?

Maka ukuran keberhasilan ilmu seharusnya tidak berhenti pada berapa banyak artikel yang kita terbitkan.
Tetapi juga: berapa banyak persoalan yang berhasil kita selesaikan.
Berapa banyak petani yang terbantu.
Berapa banyak pasien yang menjadi lebih baik.
Berapa banyak lingkungan yang terselamatkan.
Berapa banyak teknologi yang benar-benar digunakan.
Berapa banyak masyarakat yang kehidupannya menjadi lebih mudah.
Dan berapa banyak manusia yang setelah mendapatkan ilmu justru menjadi semakin rendah hati.

Kampus memang tempat ilmu dikembangkan. Tetapi kehidupan juga merupakan laboratorium yang sangat besar. Masyarakat adalah bagian dari laboratorium itu. Alam adalah laboratorium itu. Pengalaman manusia selama ratusan bahkan ribuan tahun juga menyimpan data yang tidak sedikit.

Ilmu tidak hanya berjalan dari kampus menuju masyarakat.
Ilmu juga bisa berjalan dari masyarakat menuju kampus.
Dan mungkin inilah saatnya kita mengubah pertanyaan.
Bukan lagi hanya:
“Apakah ini ilmiah?”
Tetapi juga:
“Untuk siapa ilmu ini?”
“Apa manfaatnya?”
“Siapa yang terbantu?”
“Apakah ilmu ini menyelesaikan masalah atau justru menambah masalah?”
Dan yang paling penting:
“Apakah ilmu yang kita banggakan ini membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik?”
Karena pada akhirnya, ilmu bukan untuk gagah-gagahan.
Bukan semata-mata untuk mengejar indeks.
Bukan hanya untuk menambah Scopus. Bukan hanya untuk menaikkan H-index.
Ilmu adalah amanah.
Dan kalau ilmu sudah menjadi amanah, maka ia harus kembali kepada manusia, kepada alam, dan kepada kemaslahatan.

Wallahu a’lam
🙏🙏🙏

相关新闻

Artikel Terkait