Oleh: Agus Mulyono
Teknologi Menghubungkan, Keheningan Menjauh
Ada satu hal yang menarik di zaman sekarang. Kita hidup pada masa yang mungkin tidak pernah dibayangkan oleh generasi sebelumnya. Dengan sebuah telepon genggam di tangan, kita bisa berbicara dengan orang di benua lain, mengetahui peristiwa di berbagai negara, bahkan bertanya apa saja kepada kecerdasan buatan dan memperoleh jawaban hanya dalam hitungan detik.
Semuanya cepat. Semuanya mudah.
Tetapi justru di tengah semua kemudahan itu, ada sesuatu yang pelan-pelan hilang dari kehidupan kita.. yaitu keheningan.
Ketika kita perhatikan. Dulu, orang menunggu bus, ya menunggu. Duduk, diam, melihat jalan, memandang pepohonan, kadang berbincang dengan orang di sebelahnya.
Sekarang, baru duduk beberapa detik, tangan kita otomatis merogoh saku. Mengambil ponsel. Membuka layar. Menggeser demi menggeser. Seolah-olah diam selama satu menit saja sudah terasa tidak nyaman.
Kita mulai takut pada keheningan.
Padahal, keheningan itu bukan kekosongan. Keheningan justru ruang pertemuan dengan diri sendiri.
Kadang terpikir, mungkin yang membuat banyak orang merasa lelah bukan karena terlalu banyak bekerja. Tetapi karena terlalu jarang diam.
Pikiran kita terus dipenuhi informasi. Mata terus dibanjiri gambar. Telinga terus dijejali suara. Hati terus ditarik ke sana dan ke sini.
Kita tidak pernah benar-benar berhenti.
Akibatnya, kita mengenal banyak hal, tetapi tidak sempat mengenal diri sendiri.
Kita tahu kabar orang lain, tetapi tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam hati kita.
Kita tahu siapa yang sedang viral, tetapi tidak tahu mengapa kita akhir-akhir ini mudah marah, mudah cemas, atau merasa kosong tanpa sebab yang jelas.
Padahal, ada banyak persoalan hidup yang tidak bisa diselesaikan dengan menambah informasi. Justru persoalan itu membutuhkan jeda.
Membutuhkan diam.
Karena sering kali jawaban terbesar dalam hidup lahir bukan ketika kita sedang berbicara, melainkan ketika kita sedang mendengarkan.
Mendengarkan diri sendiri.
Mendengarkan suara hati.
Mendengarkan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini kita hindari.
Saya ini sebenarnya sedang mengejar apa?
Mengapa saya bekerja sekeras ini?
Mengapa saya ingin diakui?
Mengapa saya mudah tersinggung?
Apa yang sebenarnya sedang kurang di dalam diri saya?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak muncul di tengah keramaian. Ia lahir dalam keheningan.
Menurut Pak Kyai, manusia itu sesungguhnya memiliki kemampuan untuk membaca dirinya sendiri. Tetapi kemampuan itu hanya muncul ketika hatinya tenang.
Makanya dalam Islam, ada banyak ibadah yang mengajarkan kita untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia.
Salat mengajak kita berhenti beberapa menit dari kesibukan.
Puasa mengajarkan pengendalian diri.
Zikir melatih kita untuk kembali mengingat sesuatu yang lebih besar daripada sesuatu disekitar kita.
Bahkan para ulama sejak dahulu sangat menghargai momen khalwat, momen menyendiri sejenak untuk melakukan perenungan.
Bukan karena membenci dunia. Tetapi karena mereka sadar, manusia yang terus-menerus berada dalam keramaian bisa kehilangan arah.
Karena ternyata tidak semua keterhubungan membuat kita semakin dekat.
Hari ini kita bisa mengirim pesan ke siapa saja dalam beberapa detik. Tetapi belum tentu kita dekat dengan orang-orang di sekitar kita.
Kita bisa mengikuti kehidupan ratusan orang di media sosial. Tetapi belum tentu memahami perasaan pasangan kita.
Kita bisa berbincang dengan teknologi yang sangat canggih. Tetapi belum tentu pernah duduk tenang dan berdialog dengan diri sendiri.
Ini paradoks zaman kita.
Kita semakin terhubung, tetapi semakin kesepian.
Semakin banyak berkomunikasi, tetapi semakin sedikit percakapan yang mendalam.
Semakin banyak berbicara, tetapi semakin sedikit mendengar.
Mungkin karena itu, sesekali kita perlu belajar untuk tidak segera mengisi setiap kekosongan.
Tidak semua waktu senggang harus diisi dengan layar.
Tidak semua kesunyian harus dibunuh dengan suara.
Tidak semua pertanyaan harus segera dijawab.
Ada kalanya kita cukup duduk, diam, lalu membiarkan hati berbicara.
Memandang langit beberapa menit.
Menikmati secangkir kopi tanpa memegang ponsel.
Berjalan sebentar tanpa earphone.
Duduk setelah salat dan tidak buru-buru berdiri.
Karena bisa jadi, di momen momen sederhana itulah kita menemukan sesuatu yang selama ini kita cari.
Yaitu diri kita sendiri.
Sebab pada akhirnya, kemajuan teknologi adalah anugerah. Ia mempermudah pekerjaan, mempercepat komunikasi, dan membuka banyak peluang kebaikan.
Tetapi jangan sampai teknologi membuat kita kehilangan kemampuan yang paling mendasar sebagai manusia: kemampuan untuk diam, merenung, dan mendengarkan hati.
Karena manusia tidak hanya membutuhkan koneksi internet. Manusia juga membutuhkan koneksi dengan dirinya sendiri.
Dan mungkin, di zaman yang begitu ramai ini, keheningan justru menjadi kemewahan yang paling langka.
Kita hidup di zaman yang serba terhubung, tetapi belum tentu terhubung dengan diri sendiri. Dan ketika dialog dengan batin terputus, kita mudah kehilangan arah, karena jalan menuju ketenangan selalu bermula dari perjumpaan dengan diri sendiri.
Kita mampu tersambung dengan jutaan manusia melalui layar, tetapi belum tentu hadir bagi diri sendiri. Karena ketenangan tidak lahir dari banyaknya koneksi, melainkan dari kemampuan pulang ke dalam diri dan berdamai dengan apa yang ada di sana.
Wallahu a’lam
🙏🙏🙏





