MIU 登录

Matahari Tidak Mengejar Bulan: Tentang Bergerak Tanpa Berlomba

Oleh: Khadijah Fahmi Hayati Holle, S.Kom., M.Kom.

 

Ada momen ketika pencapaian orang lain tiba-tiba membuat kita mempertanyakan perjalanan sendiri.

Melihat seorang teman lulus lebih dulu, kita mulai bertanya, “Kok saya belum?” Ketika seorang kolega memperoleh jabatan akademik, publikasinya bertambah, atau penelitiannya mendapat pengakuan, pertanyaan serupa muncul lagi. Di luar kampus pun demikian. Ada yang sudah menikah, memiliki anak, membeli rumah, atau terlihat lebih mapan secara ekonomi.

Padahal beberapa menit sebelumnya, hidup kita mungkin baik-baik saja.

Yang menarik, objek perbandingan itu seperti tidak pernah benar-benar habis. Setelah satu hal tercapai, muncul ukuran yang baru. Sudah lulus, mengapa belum bekerja? Sudah bekerja, mengapa karier belum naik? Sudah menikah, kapan punya anak? Sudah punya rumah, mengapa belum seperti rumah orang lain?

Kalau begitu, sampai kapan kita akan merasa cukup?

Barangkali persoalannya bukan semata-mata karena perjalanan kita lambat. Bisa jadi kita lelah karena terlalu sering menggunakan perjalanan orang lain sebagai alat ukur untuk membaca kehidupan sendiri.

Al-Qur’an mengajak manusia memperhatikan langit. Dalam QS Yasin ayat 40, Allah berfirman:

“Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.”

Ayat ini tentu bukan sedang berbicara tentang timeline karier, usia pernikahan, atau kapan seseorang seharusnya mencapai keberhasilan. Ayat tersebut berbicara tentang tanda-tanda kekuasaan Allah melalui keteraturan ciptaan-Nya. Matahari, bulan, malam, dan siang berjalan menurut ketetapan yang telah Allah tentukan. Para mufassir, termasuk Ibn Kathir, menjelaskan bahwa masing-masing berjalan pada batas dan perjalanan yang telah ditetapkan baginya.

Dari keteraturan itu, kita bisa mengambil sebuah ibrah.

Matahari tidak perlu menjadi bulan agar keberadaannya berarti. Bulan pun tidak kehilangan tempatnya hanya karena matahari bersinar lebih terang. Masing-masing menjalankan bagian dalam keteraturan yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri.

Manusia tentu tidak sama dengan benda-benda langit. Kita memiliki kehendak, tanggung jawab, pilihan, dan kewajiban untuk berikhtiar. Namun ada satu hal yang menarik untuk direnungkan: bergerak tidak selalu berarti sedang berlomba dengan orang lain.

Di lingkungan akademik, hal ini mudah terlupakan. Mahasiswa melihat temannya sudah seminar hasil sementara skripsinya masih berhadapan dengan revisi. Seorang dosen membaca kabar koleganya memperoleh hibah atau publikasi baru, lalu capaian sendiri mendadak terasa kecil. Seorang peneliti melihat sitasi, konferensi, atau rekam jejak peneliti lain dan mulai merasa berjalan terlalu pelan.

Perbandingan sebenarnya tidak selalu buruk. Kadang ia membantu kita mengevaluasi diri dan belajar dari orang lain. Masalah muncul ketika pembanding itu tidak lagi kita gunakan untuk belajar, tetapi untuk menentukan nilai diri.

Kita kemudian berlari bukan karena tahu ke mana hendak menuju, tetapi karena takut didahului.

Padahal ilmu pengetahuan sendiri mengajarkan bahwa tidak setiap proses bergerak dengan kecepatan yang sama. Ada eksperimen yang berhasil pada percobaan pertama, ada yang harus berkali-kali gagal sebelum menghasilkan temuan. Ada penelitian yang selesai relatif cepat, ada yang membutuhkan waktu panjang karena persoalannya memang lebih rumit.

Lambat tidak selalu berarti salah arah. Cepat pun tidak selalu berarti sudah sampai pada tujuan yang benar.

Maka mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan, “Mengapa saya belum seperti dia?”

Melainkan, “Apakah saya masih bergerak ke arah yang benar?”

Kita tetap perlu belajar lebih baik, bekerja lebih sungguh-sungguh, memperbaiki kekurangan, dan tidak menjadikan takdir sebagai alasan untuk berhenti berusaha. Namun semua itu dapat dilakukan tanpa harus terus-menerus menoleh ke samping.

Sebab terlalu sibuk melihat siapa yang sudah berada di depan kadang membuat kita lupa memperhatikan jalan yang sedang kita pijak.

Dan boleh jadi, setelah sekian lama merasa tertinggal, kita akhirnya menyadari bahwa yang membuat perjalanan ini terasa begitu melelahkan bukan karena langkah kita terlalu pelan.

Kita hanya terlalu sering mengukurnya dengan lintasan orang lain.

相关新闻

Artikel Terkait