MIU 登录

Renungan Jum’at

Oleh: Agus Mulyono

Kembali ke Fitrah… Fitrah Gula

Tulisan saya beberapa waktu lalu tentang “gunakan garam alami” di FB agus mulyono sempat beredar luas .. 17 RIBU lebih dibagikan dan hampir 4 RIBU komentar. Saya merasa ini tanda baik: bahwa ada kegelisahan kolektif di masyarakat kita. Ada semacam kerinduan diam-diam untuk kembali pada yang sederhana… yang tidak berlebihan… yang lebih dekat dengan fitrah.

Dan ternyata, kegelisahan itu tidak berhenti di garam. Ia merembet ke dapur, ke piring makan, ke secangkir kopi atau teh di pagi atau malam hari. Kita mulai bertanya ulang: apa yang sebenarnya kita konsumsi setiap hari?
Termasuk… gula.

Selama ini, hampir semua masakan kita.. dari yang sederhana sampai yang mewah.. bertumpu pada gula putih. Gula pasir. Ia hadir tanpa kita pertanyakan. Sudah seperti default. Seolah-olah tidak ada pilihan lain.

Padahal kalau kita sedikit membuka lapisan di baliknya, ada proses panjang yang tidak sederhana.
Menurut seorang “dokter gula”, Pak Hari Murtanto.. kebetulan masih kerabat saya sendiri, yang sehari-hari bertanggung jawab mengontrol proses produksi di salah satu pabrik gula di Malang, perjalanan tebu menjadi gula pasir itu melibatkan banyak tahapan… dan juga banyak “intervensi”.

Ada Sulphur Dioxide, Phosphoric Acid, Calcium Hydroxide, Carbon Active… dan beberapa zat lainnya. Kurang lebih belasan jenis bahan yang digunakan dalam proses pembersihan, pengendapan, pemisahan, hingga kristalisasi.

Saya tidak sedang mengatakan itu semua jahat. Tidak. Itu bagian dari teknologi. Bagian dari upaya manusia menciptakan sesuatu yang seragam, bersih secara visual, dan tahan lama.
Tapi… di situ juga ada sesuatu yang hilang.

Yang awalnya dari tebu membawa mineral alami seperti kalsium, zat besi, magnesium, potassium, dan fosfor… perlahan tersaring, tereduksi, bahkan hilang dalam proses itu.
Yang tersisa… adalah manis.
Murni manis. Tapi kosong.

Di titik ini, kita mulai paham… bahwa tidak semua yang tampak “bersih” itu benar-benar utuh.
Di sisi lain, ada kehidupan yang berjalan lebih pelan. Lebih hening. Tapi justru di situlah kita bisa belajar.

Pak Duki, petani siwalan. Setiap pagi ia memanjat pohon, menyadap nira. Tidak ada mesin besar. Tidak ada laboratorium. Hanya pisau, bambu, dan kesabaran.
Nira itu kemudian dibawa pulang. Istrinya menyalakan tungku. Kayu bakar menyala pelan. Nira dimasak, diaduk terus menerus… sampai mengental. Sampai berubah warna. Sampai aroma khas itu keluar, aroma yang kalau kita cium, entah kenapa terasa “hangat”.
Lalu dituangkan ke cetakan sederhana dari tempurung kelapa. Jadilah gula merah.

Pak Karman, petani kelapa, melakukan hal yang hampir sama. Ritmenya sama. Kesederhanaannya sama. Tidak ada yang disembunyikan dalam prosesnya. Semua transparan.
Pak Darno, petani tebu, bahkan bisa membuat gula merah dari tebunya sendiri. Air tebu diperas, dimasak, diaduk… sampai jadi. Kalau ingin lebih halus, diaduk terus sampai menjadi gula semut.
Sederhana.

Bisa dilakukan siapa saja. Tidak eksklusif.
Di sini kita melihat sesuatu yang sering kita lupakan: kemandirian.

Berbeda dengan gula putih. Tidak semua orang bisa membuatnya. Ia butuh pabrik besar. Modal besar. Teknologi besar. Dan pada akhirnya… distribusi kekuasaan yang juga besar.
Dari sini muncul ketergantungan. Petani menanam, tapi tidak mengolah. Harga ditentukan oleh sistem yang jauh dari mereka. Dan tanpa kita sadari, kita ikut menjadi bagian dari rantai itu.

Bukan berarti salah. Tapi layak direnungkan.
Menurut pak kyai, dalam hidup ini ada prinsip sederhana: sesuatu yang semakin dekat dengan fitrah, biasanya semakin membawa keberkahan. Bukan hanya pada tubuh, tapi juga pada cara hidup.
Gula merah itu bukan sekadar soal rasa. Ia adalah cara pandang.
Ia lahir dari alam, diproses dengan kesabaran, dan dikonsumsi tanpa banyak manipulasi. Ada kejujuran di situ.

Menariknya, justru dunia luar mulai melirik apa yang kita anggap biasa. Gula kelapa, gula siwalan.. yang dulu identik dengan pasar tradisional.. sekarang masuk ke pasar modern di berbagai negara. Singapura, Australia, Jepang, bahkan Eropa dan Timur Tengah.

Kadang kita memang perlu orang luar untuk menyadarkan kita bahwa yang kita miliki itu berharga.
Padahal ini warisan nenek moyang. Ini kearifan lokal. Ini bentuk kecerdasan masa lalu dalam menjawab kebutuhan: bagaimana membuat sesuatu yang manis… tanpa merusak keseimbangan alam dan tubuh.

Bahkan dalam hal rasa pun, kita sebenarnya tahu. Dawet dengan gula merah terasa lebih “hidup” dibandingkan dengan gula pasir. Ada kedalaman rasa. Ada aroma. Ada karakter.
Sementara gula putih… ya hanya manis.

Maka mungkin ini bukan sekadar ajakan mengganti bahan dapur. Ini ajakan untuk pelan-pelan menggeser cara berpikir.
Dari yang instan ke yang proses.
Dari yang seragam ke yang alami.
Dari yang bergantung ke yang mandiri.

Tidak harus ekstrem. Tidak harus langsung berubah total. Tapi mulai sadar… itu sudah langkah besar.
Menurut pak kyai, hidup yang baik itu bukan yang paling modern, tapi yang paling selaras. Selaras dengan tubuh, selaras dengan alam, dan selaras dengan nilai-nilai yang kita yakini.
Dan dalam hal gula… mungkin jawabannya sederhana:
kembali ke yang tidak banyak diubah.
kembali ke yang tidak kehilangan jati dirinya.
Kembali ke fitrah.
gunakan gula merah…
karena gula yang paling jujur… adalah gula yang masih dekat dengan asalnya.

Wallahu a’lam
🙏🙏

相关新闻

Artikel Terkait