MIU Login

Renungan Jum’at

Oleh: Agus Mulyono (Dekan Fakultas Sains dan Teknologi)


SANTRI: Tentang Ilmu, Adab, dan cara menjalani kehidupan

Apa sih sebenarnya perbedaan santri dengan mereka yang bukan santri? Apakah perbedaannya hanya terletak pada tempat belajarnya? Santri belajar dan tinggal di pesantren, sementara yang lain tidak. Bisa jadi. Apakah perbedaannya terletak pada apa yang dipelajari? Santri belajar agama, sementara yang lain lebih banyak belajar ilmu umum. Bisa jadi juga. Atau, apakah perbedaannya terletak pada kemampuan membaca kitab kuning, hafalan ayat, dan penguasaan ilmu-ilmu keislaman? Mungkin saja. Tetapi, kalau kita mau sedikit merenung, ternyata persoalan santri tidak sesederhana itu. Sebab, ada orang yang pernah mondok, tetapi setelah keluar dari pesantren justru semakin jauh dari nilai-nilai yang dipelajarinya. Sebaliknya, ada orang yang tidak pernah mondok, tetapi perilaku, kejujuran, dan kepeduliannya mencerminkan nilai-nilai Islam. Lalu, sebenarnya, apa yang membuat seseorang disebut santri?

Barangkali, jawaban atas pertanyaan itu tidak cukup dicari dari apa yang tampak di luar. Sebab, santri bukan hanya tentang sarung, peci, kitab kuning, atau kenangan hidup di pesantren. Semua itu memang bagian dari tradisi yang membentuk identitas kesantrian, tetapi ada sesuatu yang lebih mendasar, yaitu proses belajar untuk memahami agama sekaligus belajar menempatkan diri dalam kehidupan. Santri belajar mengenal Allah, tetapi pada saat yang sama juga belajar mengenali dirinya sendiri. Santri belajar tentang halal dan haram, tetapi juga belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, dan bagaimana memperlakukan orang lain dengan baik. Dengan kata lain, menjadi santri bukan hanya soal apa yang diketahui, melainkan juga bagaimana pengetahuan itu tumbuh menjadi sikap dan perilaku.

Di lingkungan pesantren, kita mengenal istilah ta’lim, proses belajar dan mengajarkan ilmu, serta ta’dib, pembentukan adab. Keduanya mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak cukup hanya membuat seseorang semakin pintar. Ilmu perlu berjalan bersama adab, sebab kepintaran tanpa adab bisa membuat seseorang merasa paling benar, sementara adab tanpa ilmu dapat membuat seseorang kesulitan memahami persoalan secara utuh.

Menurut Pak Kyai, orang yang berilmu itu seharusnya semakin tahu bahwa masih banyak hal yang belum diketahuinya. Semakin dalam seseorang belajar, semestinya semakin terbuka pikirannya, semakin terjaga lisannya, dan semakin berhati-hati ketika menilai orang lain.

Kalau sudah belajar agama bertahun-tahun, tetapi masih mudah mencela, gemar merendahkan, dan merasa dirinya paling suci, mungkin bukan ilmunya yang kurang banyak, melainkan ada pelajaran yang belum benar-benar masuk ke dalam hati.

Dari sinilah kita memahami bahwa kehidupan santri sesungguhnya merupakan proses panjang untuk membangun diri. Di pesantren, seorang santri tidak hanya belajar dari kitab yang dibacanya, tetapi juga dari kebiasaan hidup bersama. Ia belajar bangun ketika masih banyak orang terlelap, belajar antre ketika ingin mendapatkan sesuatu, belajar menerima aturan meskipun kadang tidak sesuai dengan keinginannya, belajar berbagi ruang dengan teman yang berbeda kebiasaan, dan belajar menyelesaikan persoalan tanpa selalu bergantung kepada orang tua. Hal-hal seperti ini mungkin tampak sederhana, bahkan kadang dianggap sebagai rutinitas biasa. Namun, justru dari rutinitas itulah karakter perlahan-lahan dibentuk. Sebab, manusia tidak menjadi baik hanya karena mendengarkan nasihat tentang kebaikan. Ia menjadi baik ketika terus berlatih melakukan kebaikan, bahkan ketika tidak ada orang yang mengawasi.

Karena itu, kehidupan pesantren sebenarnya mengajarkan sesuatu yang sangat penting, yaitu bahwa belajar tidak selalu harus berlangsung dalam suasana formal. Ada ilmu yang diperoleh melalui penjelasan guru, ada pemahaman yang tumbuh melalui diskusi, dan ada pelajaran yang baru terasa maknanya setelah seseorang mengalami sendiri kehidupan yang tidak selalu mudah.

Santri belajar sabar bukan hanya dari kitab yang menjelaskan keutamaan kesabaran, tetapi juga ketika harus menahan keinginan, menghadapi perbedaan, atau menerima keadaan yang tidak menyenangkan. Santri belajar ikhlas bukan hanya dari ceramah tentang keikhlasan, tetapi ketika melakukan sesuatu tanpa selalu menunggu pujian. Santri belajar menghormati guru bukan hanya dengan mencium tangan, tetapi juga dengan menjaga nilai-nilai ilmu yang telah diajarkan.

Pada akhirnya, yang penting bukan sekadar seberapa lama seseorang tinggal di pesantren, melainkan seberapa banyak pelajaran kehidupan yang berhasil dibawanya setelah meninggalkan pesantren.

Lalu, bagaimana dengan santri pada zaman sekarang? Tentu, zaman telah berubah. Santri hari ini hidup di tengah perkembangan teknologi digital, media sosial, kecerdasan buatan, dan arus informasi yang nyaris tidak mengenal batas. Kalau dahulu seorang santri perlu berjalan untuk mencari guru dan memperoleh pengetahuan, sekarang berbagai penjelasan tentang agama bisa ditemukan hanya melalui telepon genggam. Kalau dahulu seseorang harus membuka banyak kitab untuk mendapatkan referensi, sekarang mesin pencari dan kecerdasan buatan dapat membantu menemukan informasi dalam waktu singkat. Kemudahan ini tentu patut disyukuri. Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak otomatis membuat seseorang semakin memahami kebenaran. Kita bisa menemukan banyak penjelasan agama dalam hitungan detik, tetapi tetap perlu belajar membedakan mana penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan dan mana yang sekadar menarik perhatian.

Kita bisa membaca berbagai pendapat, tetapi tetap perlu belajar menghormati perbedaan. Bahkan, kita bisa menggunakan teknologi untuk membuat tulisan yang tampak sangat meyakinkan, tetapi tetap harus memastikan bahwa apa yang kita sampaikan benar dan tidak merugikan orang lain.

Di sinilah karakter santri diuji. Apakah santri hanya akan menjadi pengguna teknologi seperti kebanyakan orang, atau mampu menggunakan teknologi dengan bekal ilmu, adab, dan tanggung jawab? Apakah media sosial akan digunakan untuk menyebarkan pengetahuan dan kebaikan, atau justru menjadi tempat berlomba-lomba menunjukkan siapa yang paling benar? Apakah kemudahan berbicara akan membuat kita semakin bijaksana, atau malah semakin mudah menghakimi orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting, sebab semangat kesantrian tidak boleh berhenti ketika seseorang keluar dari gerbang pesantren. Justru ketika berada di tengah masyarakat yang semakin terbuka dan kompleks, nilai-nilai yang dipelajari di pesantren perlu semakin terlihat dalam tindakan nyata.

Santri yang sesungguhnya bukan berarti santri yang harus selalu berbicara tentang agama dalam setiap kesempatan. Ia juga tidak harus selalu tampil dengan simbol-simbol kesalehan. Kesantrian justru bisa terlihat dari hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika dipercaya memegang uang, ia tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya. Ketika menjadi pemimpin, ia tidak menggunakan jabatan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Ketika berbeda pendapat, ia tetap menjaga kehormatan orang lain. Ketika mendapatkan informasi yang belum jelas kebenarannya, ia tidak buru-buru menyebarkannya. Ketika melihat lingkungan kotor, ia tidak sekadar menyalahkan orang lain, tetapi bersedia ikut membersihkannya. Dan ketika memiliki kemampuan lebih, ia tidak merasa lebih tinggi daripada orang yang belum memiliki kesempatan yang sama. Hal-hal seperti inilah yang membuat nilai-nilai agama terasa hidup, bukan hanya terdengar indah ketika disampaikan.

Menurut Pak Kyai, agama itu bukan hanya urusan hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga bagaimana manusia menjalankan amanahnya di tengah kehidupan. Ibadah membentuk kesadaran bahwa kita adalah hamba Allah, sedangkan akhlak mengingatkan bahwa kita hidup bersama orang lain dan berbagi bumi dengan makhluk lainnya. Maka, semakin baik pemahaman agama seseorang, seharusnya semakin besar pula tanggung jawabnya terhadap kehidupan. Santri yang belajar tentang amanah perlu menjadi orang yang dapat dipercaya. Santri yang belajar tentang keadilan perlu berani bersikap adil. Santri yang belajar tentang rahmat perlu menghadirkan ketenteraman, bukan menambah permusuhan. Dan santri yang memahami bahwa manusia adalah khalifah di bumi perlu menyadari bahwa alam bukan sekadar sesuatu yang boleh dimanfaatkan sesuka hati, melainkan amanah yang harus dijaga.

Pemahaman seperti ini juga penting ketika santri memasuki berbagai bidang kehidupan. Santri yang menjadi pedagang tidak cukup hanya mengetahui hukum jual beli, tetapi juga perlu menjaga kejujuran dan tidak mengambil keuntungan dengan menipu. Santri yang menjadi guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga perlu mendidik dengan kesabaran dan memberikan keteladanan. Santri yang menjadi ilmuwan tidak cukup hanya menghasilkan penelitian, tetapi juga perlu memikirkan manfaat dan dampak penelitiannya bagi masyarakat. Santri yang menjadi pejabat tidak cukup hanya pandai berbicara tentang pengabdian, tetapi harus mampu menunjukkan bahwa amanah benar-benar dijalankan. Bahkan, santri yang menjadi pengembang teknologi perlu memikirkan bagaimana teknologi itu membantu manusia, bukan sekadar bagaimana teknologi tersebut membuat dirinya atau perusahaannya semakin besar. Dengan demikian, nilai kesantrian dapat tumbuh dalam berbagai profesi, tanpa harus membuat semua orang menjalani pekerjaan yang sama.

Di sinilah pesantren memiliki tanggung jawab yang tidak ringan. Pesantren bukan hanya tempat untuk menghasilkan orang yang menguasai ilmu agama, tetapi juga tempat untuk menumbuhkan pribadi yang siap menjalani kehidupan dengan bekal ilmu dan akhlak. Tentu, setiap pesantren memiliki tradisi, metode, dan keunggulannya masing-masing. Namun, apa pun pendekatannya, semangat pendidikan pesantren perlu terus dijaga agar tidak terjebak pada rutinitas yang hanya mengejar banyaknya materi yang diselesaikan atau banyaknya hafalan yang dikuasai. Hafalan tetap penting, penguasaan kitab tetap penting, dan kedisiplinan tetap penting. Tetapi, semua itu akan semakin bermakna ketika melahirkan pribadi yang jujur, mandiri, rendah hati, tangguh, dan bermanfaat bagi sesama. Pesantren akan semakin kuat bukan hanya ketika alumninya dikenal luas, tetapi ketika masyarakat merasakan manfaat dari kehadiran mereka.

Menjadi santri adalah tentang kesediaan untuk terus belajar. Belajar ketika masih berada di pesantren, belajar ketika sudah kembali ke rumah, belajar ketika memasuki perguruan tinggi, belajar ketika bekerja, bahkan belajar ketika sudah menjadi orang yang dihormati. Sebab, kehidupan selalu menghadirkan persoalan baru, sementara ilmu dan pengalaman kita selalu memiliki batas. Santri tidak boleh merasa bahwa setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren, seluruh persoalan kehidupan sudah dipahaminya. Justru bekal yang diperoleh dari pesantren seharusnya membuatnya lebih siap untuk terus belajar, lebih terbuka dalam menghadapi perubahan, dan lebih teguh dalam menjaga prinsip-prinsip kebaikan.

Maka, barangkali pertanyaan yang lebih penting bukan lagi apakah seseorang pernah mondok atau tidak, melainkan apakah nilai-nilai yang dipelajarinya benar-benar hidup dalam dirinya. Bukan sekadar apakah ia mampu membaca kitab, tetapi apakah ia juga berusaha membaca keadaan. Bukan hanya apakah ia pandai menjelaskan ajaran agama, tetapi apakah ia mampu menghadirkan kebaikan melalui perilakunya. Dan bukan hanya apakah ia bangga menyebut dirinya santri, tetapi apakah orang-orang di sekitarnya merasakan manfaat dari kesantrian itu.

Selamat Hari Santri.
Wallahu a’lam
🙏🙏🙏

Related News

Artikel Terkait