Oleh: M. Agus Budianto, S.Th.I, M.Ag
Tulisan ini dibuat dari hasil perenungan atas fenomena perilaku manusia hari-hari ini yang seolah menyimpang dari kodratnya sebagai mahluk yang mengedepankan akhlakul karimah, mendayagunakan akal yang baik, santun, soleh, penuh kasih, berbuat kemaslahatan untuk manusia dan lingkungannya, serta senantiasa mendekatkan diri kepada sang Khaliqnya. Penyimpangan itu ditandai dengan rusaknya moral para pemimpin negara, pejabat mulai dari level atas hingga bawah, kaum elit hingga rakyat biasa. Pemimpin dan pejabat yang tidak amanah, tidak jujur, tidak adil, kasus korupsi di mana-mana, penyalahgunakan wewenang dan jabatan, kebijakan yang tidak memihak rakyat, guru dan tokoh agama yang menjadikan murid atau santri sebagai objek penyimpangan seksual, pemerasan dan kekerasan, rakyat yang berebut hak lahan dan mengabaikan hak orang lain, dsb.
Disela perenungan sambil menyeruput kopi panas dalam hening malam, seketika berkelebat dibenak penulis suatu istilah yang sudah tidak asing bagi kita, yaitu: “Al-Insanu Hayawanun Natiq”. Istilah ini kemudian memuculkan pertanyaan-pertanyaan: apakah istilah ini relevan untuk melihat fenomena ini? Jika relevan, apa serusak itu moral manusia hari ini? Dalam bahasa ironi, sehewan/sebinatang itukah manusia hari ini? Benarkah derajat manusia saat ini sudah setara hewan atau bahkan lebih rendah? Melalui perenungan ini penulis berupaya menggali dan mengajak kita semua mendedah istilah “Al-Insanu Hayawanun Natiq” perspektif Imam Al-Ghazali: Renungan Akademis Hakikat Manusia dalam Tradisi Filsafat dan Tasawuf.
“Al-Insanu Hayawanun Natiq”
Istilah “Al-Insanu Hayawanun Natiq” secara harfiah berarti “manusia adalah hewan yang berbicara”. Dalam kajian filsafat dan logika (mantiq), kata “Hayawan” menunjukkan bahwa sejatinya manusia memiliki kesamaan unsur biologi dengan hewan, seperti memiliki tubuh, tumbuh dan berkembang, bergerak dan memiliki kebutuhan biologis (makan dan memiliki keturunan). Sementara kata “Natiq” tidak hanya berarti berbicara, melainkan juga berakal, berfikir logis-rasional, bernalar, memilah baik dan buruk, menyusun dan memahami konsep-konsep, menghasilkan ilmu-ilmu pengetahuan, serta mengenali hakikat sesuatu.
Penggunaan istilah “Al-Insanu Hayawanun Natiq” ini bermula dari tradisi filsafat Yunani dengan tokohnya Aristoteles yang mendefinisikan manusia sebagai animal rational atau hewan yang mampu berfikir rasional. Definisi manusia perspektif Aristoteles ini kemudian diterima dan diterjemahkan dalam bahasa arab oleh para filosofof muslim awal seperti Al-Kindi, Al-Farabi dan Ibnu Sina pada proyek penerjemahan besar-besaran buku-buku filsafat Yunani pada masa kekhalifahan Abbasiyah era Harun Al-Rasyid dengan Bayt al-Hikmahnya.
Pemaknaan dasar manusia secara filosofis ini juga diterima Imam Al-Ghozali, namun beliau menekankan bahwa hakikat manusia tidak hanya sebagai mahluk yang berfikir dan berbicara (al-Aql), lebih dari itu manusia juga dibekali Allah al-Qalb, an-Nafs dan al-Ruh. Di mana keempat bekal itu diharapkan mampu membawa manusia kepada hakikat yang sebenarnya yaitu menjadi insanul kamil.
Untuk membahas renungan ini, penulis membatasi kepada dua dari unsur dari empat unsur utama manusi, yaitu al-aql dan al-Qalb.
Al-Aql
Al-Ghazali memaknai kata Natiq dalam istilah al-Insanu Hayawanun Natiq sebagai Akal (al-Aql). Dalam kitabnya, Mizan al-Amal, Al-Ghazali menegaskan bahwa keberadaan akal pada manusia menjadikannya sebagai mahluk yang mulia dibanding dengan mahluk lainnya:
العقل أشرف صفات الإنسان
“Akal adalah sifat manusia yang paling mulia.”
Akal membuat manusia mampu untuk mengenali dirinya, memahami akibat perbuatannya, membedakan hak dan batil serta mampu menerima wahyu (Nabi dan Rasul). Karena itu menurut al-Ghazali, akal (natiq) dipahami sebagai daya intelektual manusia yang mampu menangkap makna-makna universal.
Al-Qalb
Selain akal, unsur kedua yang utama dari manusia adalah Hati (al-Qalb), dalam kitabnya, Ihya’ Ulumuddin, al-Ghazali menulis:
اعلم أن أشرف ما في الإنسان قلبه
“Ketahuilah bahwa bagian yang paling mulia dalam diri manusia adalah hatinya.”
Pernyataan ini sangat penting, jika filsafat mengatakan bahwa manusia adalah makhluk rsional, maka al-Ghazali menambahkan kemuliaan manusia tidak terletak pada tubuhnya, tetapi pada pusat kesadarannya, yaitu pada hatinya al-qalb. Menurutya, akal memang membedakan manusia dari hewan, tetapi hati yang yang tercerahkan membedakan manusia dari sekedar mahluk rasional lainnya.
Dalam ihya ulumuddin juga, Al-Ghazali juga mengatakan bahwa dengan adanya hati pada diri manusia membuatnya mudah mengenali Allah:
فالقلب هو العالم بالله، وهو العامل لله، وهو الساعي إلى الله
“Hati adalah yang mengenal Allah, yang beramal untuk Allah, dan yang berjalan menuju Allah.”
Menurut al-Ghazali, manusia yang hanya menggunakan akalnya untuk kepentingan syahwat belum mencapai kesempurnaan kemanusiaannya. Ia masih berada pada tingkat hewan yang cerdas saja. Kesempurnaan manusia terjadi ketika keduanya (akal dan hati) sama-sama menuju dan berjalan kepada Allah SWT.
Selain empat unsur utama pada diri manusia di atas. Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin juga menjelaskan bahwa manusia terhimpun dari berbagai sifat yang dimiliki mahluk lain. Beliau menulis:
ففي الإنسان صفات البهائم والسباع والشياطين والملائكة
“Dalam diri manusia terdapat sifat-sifat hewan ternak, binatang buas, setan, dan malaikat.”
Manusia memiliki:
Sifat hewani berupa syahwat, sifat buas berupa amarah, sifat setan berupa tipu daya dan kesombongannya, dan sifat malaikat yang berupa pengetahuan dan kedekatan kepada Allah SAW.
Dari teks di atas diketahui bahwa dalam diri dan kehidupan manusia terjadi pertempuran keempat sifat tersebut, antara sifat hewaniyah, sifat buas/liar, sifat setan dan sifat malaikatnya.
Al-ghazali juga mengutip al-Quran surat al-’Araf ayat 79:
أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ
“Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi.”
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia dapat kehilangan keistimewaaan natiqnya ketika akal tidak lagi digunakan untuk mencari kebenaran, manusia akan dikuasai unsur ḥayawān dalam dirinya. Bahkan lebih rendah daripada hewan itu sendiri, sebab hewan tidak diberi tanggung jawab moral.
Renungan Tasawuf Al-Ghazali
Dari perspektif tasawuf Al-Ghazali definisi “Al-Insanu Hayawanun Natiq” sesungguhnya bukan sekadar rumusan logika. Ia adalah cermin perjalanan spiritual manusia.
Kita lahir membawa tubuh yang memiliki kebutuhan-kebutuhan hewani. Kita juga dianugerahi akal yang memungkinkan kita memahami dunia. Akan tetapi, kemanusiaan yang sejati baru terwujud ketika akal menuntun hati menuju ma’rifat kepada Allah.
Dengan demikian, menurut Al-Ghazali manusia bukan mulia karena ia makan, bergerak, atau berbicara. Manusia juga bukan mulia semata-mata karena ia berpikir. Kemuliaannya terletak pada kemampuannya mengubah akal menjadi cahaya yang menerangi hati.
Dalam bahasa tasawuf, manusia adalah makhluk yang berdiri di antara bumi dan langit: tubuhnya berasal dari tanah, tetapi ruhnya mengarah kepada Tuhan. Selama hidupnya, ia terus menjawab satu pertanyaan mendasar: apakah ia akan mengikuti unsur “hayawan” yang menariknya ke bawah, atau unsur “natiq” yang mengangkatnya menuju kesempurnaan insani dan ma‘rifat Ilahi.
Di situlah makna terdalam dari ungkapan “Al-Insanu Hayawanun Natiq” dalam horizon pemikiran Imam al-Ghazālī: manusia adalah makhluk yang memiliki naluri seperti hewan, tetapi dianugerahi akal dan hati agar mampu melampaui kebinatangannya dan mendekat kepada Allah SWT. Wallahu alam.





