تسجيل الدخول إلى MIU

Ketika Algoritma Bertemu Perpustakaan: Habitus, Modal Budaya, dan Budaya Informasi di Era Digital

Oleh: Ach. Nizam Rifqi, M.A.

 

Bayangkan seorang mahasiswa yang ingin mencari informasi untuk tugas kuliahnya. Dahulu, ia mungkin datang ke perpustakaan, membuka katalog, mencari buku atau jurnal, kemudian membaca beberapa sumber. Kini, proses tersebut dapat dilakukan dalam hitungan detik melalui mesin pencari, Google Scholar, media sosial, atau kecerdasan artifisial (AI).

Perubahan ini bukan sekadar perkembangan teknologi. Cara manusia mencari informasi sekaligus cara manusia berhubungan dengan pengetahuan juga ikut berubah. Pengetahuan kini hadir melalui buku, jurnal elektronik, repositori digital, media sosial, video, podcast, mesin pencari, hingga AI.

Dalam kondisi tersebut, perpustakaan tidak lagi cukup dipahami sebagai tempat menyimpan dan menyediakan informasi. Perpustakaan juga merupakan ruang budaya tempat manusia membangun kebiasaan, kemampuan, dan cara berpikir dalam berhubungan dengan pengetahuan.

Dari Rak Buku ke Algoritma

Teknologi digital membuat informasi semakin mudah ditemukan. Namun, informasi yang muncul di hadapan kita tidak selalu merupakan seluruh informasi yang tersedia. Ketika seseorang menggunakan mesin pencari atau media sosial, informasi telah melalui proses pemilihan dan pengurutan oleh algoritma. Akibatnya, hubungan manusia dengan informasi tidak lagi hanya melibatkan pengguna dan sumber informasi, tetapi juga platform dan algoritma. Pertanyaan yang dahulu cukup sederhana, “Di mana saya menemukan informasi?”, kini berkembang menjadi pertanyaan yang lebih kritis: “Mengapa informasi ini yang muncul di hadapan saya?”

Pertanyaan tersebut penting karena teknologi tidak hanya membantu menemukan informasi, tetapi juga dapat memengaruhi apa yang kita lihat, baca, dan anggap penting. Karena itu, literasi informasi tidak cukup hanya mengajarkan cara menemukan sumber. Pengguna juga perlu memahami bagaimana lingkungan digital membentuk pengalaman informasinya.

Membaca Budaya Informasi melalui Bourdieu

Pemikiran Pierre Bourdieu menawarkan perspektif menarik untuk memahami perubahan tersebut. Bourdieu menjelaskan kehidupan sosial melalui hubungan antara habitus, modal, dan arena.

Habitus dapat dipahami sebagai kecenderungan atau kebiasaan yang terbentuk melalui pengalaman sosial. Dalam konteks informasi, kita dapat melihat adanya habitus informasi, yaitu kebiasaan seseorang dalam mencari, memilih, membaca, mempercayai, dan menggunakan informasi.

Setiap orang memiliki habitus informasi yang berbeda. Ada mahasiswa yang terbiasa membaca buku dan jurnal ilmiah, ada yang lebih nyaman memperoleh informasi melalui video, dan ada pula yang terbiasa langsung bertanya kepada mesin pencari atau AI. Perbedaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga terbentuk melalui pengalaman pendidikan, keluarga, lingkungan sosial, dan budaya. Karena itu, ketika dua mahasiswa menggunakan database perpustakaan yang sama, hasil yang mereka peroleh belum tentu sama. Mereka mungkin memiliki akses yang sama, tetapi kemampuan yang berbeda dalam memanfaatkan akses tersebut. Di sinilah konsep modal budaya (cultural capital) menjadi penting. Modal budaya dapat berupa pengetahuan, pendidikan, keterampilan, bahasa, kebiasaan, dan kompetensi yang diperoleh melalui pengalaman sosial dan pendidikan.

Dalam konteks perpustakaan, modal budaya terlihat dari kemampuan menggunakan katalog, menentukan kata kunci, menelusur database, memahami artikel ilmiah, mengevaluasi kredibilitas sumber, dan menggunakan informasi secara tepat. Dengan demikian, akses informasi tidak otomatis menghasilkan kemampuan informasi yang sama. Perpustakaan memiliki peran penting bukan hanya dalam menyediakan akses, tetapi juga membantu pengguna membangun kemampuan dan modal budaya tersebut.

Perpustakaan sebagai Arena Budaya

Konsep lain dari Bourdieu adalah arena (field), yaitu ruang sosial tempat individu dan kelompok berinteraksi dengan aturan, nilai, dan sumber daya tertentu. Perpustakaan dapat dilihat sebagai bagian dari arena pendidikan dan produksi pengetahuan. Di dalamnya terdapat mahasiswa, dosen, pustakawan, peneliti, penerbit, database, teknologi, dan kini sistem berbasis AI.

Buku, jurnal, database, ruang belajar, layanan referensi, serta kegiatan literasi bukan sekadar fasilitas. Semua itu merupakan sumber daya yang membantu seseorang membangun kemampuan dan modal budaya. Dengan perspektif ini, perpustakaan bukan hanya tempat menyediakan koleksi. Perpustakaan merupakan arena budaya tempat pengetahuan diakses, dipelajari, dipertukarkan, dan diproduksi.

Dari Pemustaka ke Partisipan

Budaya digital juga mengubah posisi pengguna informasi. Masyarakat tidak lagi hanya menjadi konsumen informasi. Mahasiswa, misalnya, dapat membaca artikel ilmiah sekaligus membuat podcast akademik, video edukasi, tulisan, dokumentasi digital, atau konten literasi informasi. Henry Jenkins menyebut fenomena tersebut sebagai participatory culture atau budaya partisipatif. Perspektif ini membuka peluang bagi perpustakaan untuk melibatkan pemustaka bukan hanya sebagai pengguna koleksi, tetapi juga sebagai partisipan dalam produksi pengetahuan.

Perpustakaan dapat menjadi ruang untuk mengembangkan podcast akademik, digital storytelling, dokumentasi sejarah lokal, pameran digital, arsip komunitas, maupun konten literasi informasi. Dengan demikian, perpustakaan tidak hanya menyediakan akses terhadap pengetahuan, tetapi juga mendorong masyarakat untuk memproduksi dan membagikannya.

Ketika AI Masuk ke Dunia Informasi

Kehadiran AI membuat perubahan tersebut semakin kompleks. Pengguna kini dapat memperoleh jawaban, ringkasan, terjemahan, ide, dan bantuan pencarian informasi dalam hitungan detik. Namun, kecepatan tidak selalu berarti kebenaran. Jawaban AI tetap perlu diverifikasi, sumber harus diperiksa, dan konteks harus dipahami. Karena itu, kemampuan menggunakan AI perlu berjalan bersama kemampuan mengevaluasi informasi.

Dalam situasi ini, pustakawan tidak harus bersaing dengan AI dalam memberikan jawaban tercepat. Peran yang semakin penting justru membantu pengguna memahami dari mana informasi berasal, bagaimana memeriksa kebenarannya, dan bagaimana menggunakannya secara bertanggung jawab.

Masa Depan Perpustakaan

Apakah teknologi akan membuat perpustakaan kehilangan relevansinya? Tidak harus demikian. Teknologi justru dapat menjadi momentum untuk memperkuat kembali fungsi sosial perpustakaan. Persoalannya bukan lagi pertarungan antara buku dan teknologi, tetapi bagaimana perpustakaan membantu manusia tetap mampu memahami dan menilai informasi di tengah lingkungan digital yang semakin kompleks. Teknologi dapat memberikan akses yang luas, tetapi akses yang sama tidak selalu menghasilkan kemampuan yang sama. Seseorang mungkin memiliki smartphone dan akses internet, tetapi belum tentu mampu mengevaluasi informasi. Seseorang mungkin dapat menggunakan AI, tetapi belum tentu mampu memeriksa kebenaran jawabannya.

Di sinilah perspektif Bourdieu menjadi relevan. Perpustakaan dapat menjadi arena yang membantu masyarakat membangun modal budaya dan habitus informasi. Sementara perspektif Jenkins menunjukkan bahwa perpustakaan juga dapat menjadi ruang partisipasi, tempat pengguna tidak hanya menerima pengetahuan tetapi turut memproduksinya.

Pada akhirnya, masa depan perpustakaan bukan tentang apakah buku akan digantikan AI. Pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana perpustakaan membantu manusia tetap menjadi subjek yang kritis ketika pencarian dan produksi pengetahuan semakin dimediasi oleh algoritma? Ketika teknologi semakin pintar, kemampuan manusia untuk bertanya, memeriksa, memahami, dan memberi makna terhadap informasi justru menjadi semakin penting. Di situlah perpustakaan tetap memiliki masa depan.

أخبار ذات صلة

Artikel Terkait