Oleh: Anindya Gita Puspita
Suatu sore, Dimas duduk di depan laptop dengan sebuah buku tebal di sampingnya. Besok pagi ia harus mempresentasikan buku tersebut di kelas, tetapi baru sekitar dua puluh halaman yang berhasil dibaca. Tangannya kemudian meraih ponsel. Beberapa menit menonton video pendek berubah menjadi hampir satu jam. Ketika sadar waktu sudah berlalu, Dimas menemukan solusi yang menurutnya praktis: meminta bantuan AI untuk merangkum buku tersebut. Dalam hitungan detik, ringkasan lengkap sudah tersedia. “Untuk apa membaca 300 halaman kalau bisa diringkas menjadi tiga halaman?” pikirnya.
Pertanyaan Dimas sebenarnya cukup masuk akal di zaman sekarang. Kita hidup ketika informasi dapat diperoleh dengan sangat cepat. AI mampu merangkum buku, menjelaskan teori, menerjemahkan artikel, bahkan menjawab pertanyaan yang dahulu membutuhkan berjam-jam pencarian. Di tengah kesibukan mahasiswa, pelajar, akademisi, dan masyarakat umum, teknologi semacam ini tentu sangat membantu. Namun, ada pertanyaan yang lebih mendasar:
“apakah membaca buku hanya bertujuan untuk mendapatkan informasi?”
Jika membaca hanya untuk mengetahui isi, mungkin ringkasan AI sudah cukup. Namun, membaca buku sesungguhnya adalah proses yang jauh lebih panjang. Ketika membaca, kita tidak hanya mengumpulkan informasi, tetapi mengikuti cara berpikir penulis. Kita bertemu dengan gagasan, mempertanyakan argumen, menghubungkan informasi dengan pengalaman sendiri, bahkan terkadang menemukan pandangan yang berbeda dari apa yang selama ini kita yakini. Karena itu, membaca bukan sekadar mengambil informasi dari halaman, melainkan sebuah dialog antara pikiran pembaca dan pikiran penulis.
Persoalannya, kehidupan digital membuat kita semakin terbiasa dengan informasi yang singkat dan cepat. Berita cukup dibaca judulnya, isu rumit dijelaskan dalam video satu menit, dan sebuah buku dapat diringkas menjadi beberapa paragraf. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Masalah muncul ketika otak kita kehilangan kebiasaan untuk bertahan bersama sebuah gagasan yang panjang dan kompleks. Membaca buku membutuhkan kesabaran. Kita harus mengikuti argumen dari awal sampai akhir, memahami konteks, mengulang bagian yang sulit, dan menahan keinginan untuk berpindah ke informasi lain. Justru proses yang terasa lambat inilah yang melatih konsentrasi dan ketajaman berpikir.
Dalam tradisi Islam, membaca memiliki kedudukan yang sangat penting. Wahyu pertama dimulai dengan perintah “Iqra’”, yang sering diterjemahkan sebagai “bacalah”. Membaca dalam konteks ini tidak sekadar aktivitas melihat tulisan, tetapi juga proses memahami, memikirkan, dan mencari pengetahuan. Di era AI, semangat tersebut menjadi semakin relevan. Ketika mesin dapat memberikan jawaban dengan cepat, manusia justru perlu memiliki kemampuan untuk membaca lebih dalam, memeriksa informasi, dan merenungkan maknanya.
Karena itu, AI sebenarnya tidak harus menjadi lawan buku. Keduanya dapat saling melengkapi. AI dapat membantu kita memahami istilah yang sulit, menemukan konteks, membuat pertanyaan awal, atau memberikan gambaran umum sebuah buku. Tetapi setelah itu, sebaiknya kita tetap kembali kepada buku aslinya. Jangan sampai AI hanya membuat kita lebih cepat mengetahui, tetapi semakin jarang memahami.
Membaca buku di era AI pada akhirnya bukan soal mempertahankan kebiasaan lama melawan teknologi baru. Ini adalah soal menjaga kemampuan manusia untuk berkonsentrasi, berpikir kritis, berimajinasi, dan berdialog dengan gagasan. Ketika mesin semakin cepat memberikan jawaban, manusia justru perlu belajar untuk tidak selalu terburu-buru.
Seperti yang dikatakan Karlina Supeni:
“Membaca buku itu tidak bisa disamakan dengan TikTok dan menonton film. Karena kerja otak hanya bisa dilatih tajam kalau otak berdialog (dengan membaca buku).”









