MIU 登录

Renungan Jum’at

Oleh: Agus Mulyono (Dekan Fakultas Sains dan Teknologi)

 

Semua Terhubung, Semua Bergantung

Kadang kita ini agak kurang pas melihat dunia. Kita merasa bahwa segala sesuatu bisa dipahami kalau sudah dibongkar menjadi bagian-bagian kecil. Kalau ingin memahami sebuah mobil, pelajari mesinnya, rodanya, sistem transmisinya, dan komponen lainnya. Kalau ingin memahami tubuh manusia, pelajari organ-organ, jaringan, sampai sel-selnya. Pokoknya, bongkar dulu, pelajari satu per satu, nanti kita akan tahu bagaimana keseluruhannya bekerja.

Cara berpikir seperti ini memang sudah lama menjadi andalan ilmu pengetahuan. Dan harus diakui, banyak kemajuan teknologi lahir dari cara berpikir tersebut. Tetapi, ternyata alam semesta punya cerita yang sedikit berbeda. Ketika para fisikawan mulai masuk ke dunia atom dan partikel-partikel yang jauh lebih kecil, mereka menemukan sesuatu yang cukup menarik. Alam ternyata tidak selalu bisa dipahami dengan cara memisahkan segala sesuatu dari lingkungannya.

Dalam dunia kuantum, sebuah partikel tidak selalu bisa diperlakukan seperti benda kecil yang memiliki sifat tetap, lalu kita tinggal mengamatinya. Apa yang tampak dari sebuah partikel bisa bergantung pada bagaimana ia berinteraksi dan bagaimana eksperimen dilakukan. Ada konteks, ada hubungan, ada interaksi. Jadi, kalau kita hanya melihat partikelnya saja tanpa memperhatikan sistem yang lebih luas, bisa jadi kita justru kehilangan sebagian penting dari ceritanya.

Menariknya, dari sini muncul cara pandang yang berbeda tentang alam semesta. Semesta bukan sekadar kumpulan benda yang masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri. Semesta lebih menyerupai jaringan keterhubungan. Bagian dan keseluruhan saling mempengaruhi. Bagian membentuk keseluruhan, tetapi keseluruhan juga ikut menentukan perilaku bagian-bagiannya.

Kalau dipikir-pikir, kehidupan kita sehari-hari sebenarnya juga begitu. Kita sering merasa bahwa diri kita ini berdiri sendiri. Apa yang kita lakukan ya urusan kita. Apa yang kita pikirkan ya urusan kita. Bahkan kadang kita merasa bahwa keberhasilan yang kita capai sepenuhnya merupakan hasil kerja keras kita sendiri. Padahal, coba kita tengok sedikit ke belakang. Ada orang tua yang membesarkan kita, guru yang mengajari kita, teman yang membantu kita, lingkungan yang membentuk kita, dan begitu banyak orang yang mungkin tidak pernah kita hitung kontribusinya.
Kita ini ternyata tidak sesendiri yang kita bayangkan.

Coba lihat persoalan lingkungan yang belakangan terus menjadi perhatian. Karhutla.. Kebakaran hutan dan lahan, misalnya. Ada orang yang mungkin berpikir bahwa membakar sedikit lahan di suatu tempat tidak akan berdampak apa-apa bagi orang lain. Toh, yang terbakar bukan rumahnya, bukan kebunnya, dan bukan pula lingkungan tempat tinggalnya. Tetapi asap tidak mengenal batas administrasi. Ia bisa bergerak jauh, masuk ke kota-kota, mengganggu pernapasan, mengurangi kualitas udara, bahkan melintasi batas negara.

Sesuatu yang terjadi jauh dari kita ternyata bisa menjadi persoalan kita juga. Begitu pula perubahan iklim, pencemaran sungai, kerusakan laut, dan berbagai persoalan lingkungan lainnya. Alam seperti sedang mengingatkan bahwa kita semua berada dalam satu rumah besar yang sama. Kita boleh tinggal di kamar yang berbeda, punya halaman masing-masing, bahkan pagar yang tinggi, tetapi kalau rumahnya bocor, semuanya ikut merasakan akibatnya.

Sayangnya, dalam kehidupan modern, kita kadang justru semakin pintar membuat batas. Batas kelompok, batas kepentingan, batas golongan, bahkan batas pertemanan. Media sosial juga kadang membuat kita merasa hidup dalam dunia yang hanya berisi orang-orang yang sepemikiran dengan kita. Yang berbeda pendapat dianggap lawan, yang tidak sejalan dianggap mengganggu. Padahal, dunia ini jauh lebih luas daripada lingkaran kecil yang kita bangun sendiri.

Kita lupa bahwa kehidupan bukan hanya tentang siapa yang paling hebat, siapa yang paling kaya, siapa yang paling berkuasa, atau siapa yang paling banyak pengikutnya. Ada hubungan- hubungan yang jauh lebih mendasar yang membuat kita bisa hidup dengan baik. Tidak mungkin seseorang tumbuh sendirian, tidak mungkin sebuah masyarakat menjadi sehat kalau setiap orang hanya memikirkan dirinya sendiri, dan tidak mungkin manusia hidup nyaman kalau alam yang menopangnya justru dirusak.

Menurut Pak Kyai, di sinilah kita bisa belajar memahami tauhid secara lebih luas. Tauhid memang berarti mengesakan Allah, tetapi kesadaran terhadap keesaan Allah semestinya juga membuat kita memahami bahwa seluruh alam ini berada dalam satu kesatuan ciptaan-Nya. Tidak ada satu pun yang benar-benar mandiri. Semuanya memiliki keterkaitan dan semuanya bergantung kepada Allah.

Dalam Surah Al-Ikhlas, kita mengenal Allah sebagai Ahad, Yang Maha Esa, dan Ash-Shamad, tempat bergantung segala sesuatu. Jadi, kalau kita merasa sangat mandiri, sangat hebat, dan merasa bisa melakukan apa saja tanpa membutuhkan siapa pun, mungkin sesekali kita perlu melihat kembali posisi kita di tengah alam semesta ini.

Kita ini hanya manusia kecil di tengah alam yang begitu luas. Bumi yang kita tinggali saja hanya salah satu planet kecil di antara miliaran benda langit. Apalagi kalau kita berbicara tentang atom, partikel, dan dunia kuantum yang begitu rumit. Semakin jauh ilmu pengetahuan membawa kita memahami alam, semakin banyak pula hal yang membuat kita harus mengakui keterbatasan pengetahuan sendiri.

Tetapi, justru di situlah keindahannya. Sains mengajak kita untuk terus bertanya, sementara iman mengajak kita untuk tidak kehilangan arah ketika menemukan jawabannya. Kita boleh semakin pintar memahami bagaimana alam bekerja, tetapi jangan sampai lupa siapa yang menciptakan dan mengatur seluruh keteraturan itu.

Ada pelajaran filosofis yang bisa kita renungkan. Bahwa alam tidak sesederhana yang kita lihat, bahwa sesuatu tidak selalu bisa dipahami secara terpisah, dan bahwa keterhubungan merupakan bagian penting dari kehidupan semesta.

Maka, mungkin kita perlu sedikit mengubah cara memandang diri sendiri. Jangan terlalu merasa menjadi pusat dunia. Jangan terlalu sibuk membangun kehebatan pribadi sampai lupa bahwa ada orang lain yang ikut menopang kehidupan kita. Jangan merasa bahwa sesuatu yang kecil tidak penting, sebab dalam sebuah jaringan kehidupan, sesuatu yang kecil pun bisa membawa pengaruh besar.

Sebuah sel kecil bisa menentukan kesehatan tubuh. Setetes air bisa menjadi bagian dari sungai. Satu pohon bisa menjadi tempat hidup bagi banyak makhluk. Bahkan, satu kalimat baik yang kita ucapkan hari ini mungkin bisa mengubah suasana hati seseorang yang sedang menghadapi persoalan berat.

Jadi, kalau ada yang bertanya apa pelajaran sederhana dari alam semesta, mungkin jawabannya begini: jangan pernah merasa bahwa kita bisa hidup sendirian. Kita terhubung dengan sesama manusia, dengan alam, dengan seluruh ciptaan, dengan Sang Pencipta.

Kita boleh berbeda, tetapi jangan merasa terpisah. Kita boleh menjadi bagian yang kecil, tetapi jangan kehilangan kesadaran tentang keseluruhan. Dan semakin jauh kita mengenal alam semesta, semestinya semakin dekat pula kesadaran kita kepada Allah.
Kesadaran bahwa semua yang ada ini bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Semuanya ada karena Allah, bergantung kepada Allah, dan berada dalam kekuasaan Allah.

Wallahu a’lam
🙏🙏🙏

相关新闻

Artikel Terkait