MIU 登录

Ketika Algoritma Membaca Pola: Mendialogkan PCA-Clustering dengan Al-Qur’an

Oleh: Dr. Agung Teguh Wibowo Almais, M.T

 

Bisakah mesin “membaca” keragaman sebagaimana manusia mengenali pola dan kelompok? Pertanyaan ini menjadi menarik ketika perkembangan Artificial Intelligence (AI) dan data science dipertemukan dengan salah satu gagasan yang banyak dijumpai dalam Al-Qur’an: realitas tidak selalu hadir secara seragam. Ada perbedaan, keteraturan, kategori, dan kelompok.

Salah satu pendekatan yang menarik adalah PCA-Clustering, sebagaimana dikembangkan dalam penelitian Principal Component Analysis-Based Data Clustering for Labeling of Level Damage Sector in Post-Natural Disasters. Penelitian tersebut menggunakan Principal Component Analysis (PCA) bukan hanya untuk mereduksi dimensi data, tetapi juga untuk membantu membentuk label pada data unsupervised. 

Penelitian tersebut mengolah 216 data kerusakan sektor pascabencana. Data memiliki lima kriteria yang kemudian dianalisis untuk menemukan pola dominan. Melalui PCA, data diproyeksikan ke dalam komponen utama, kemudian dikelompokkan berdasarkan distribusi koordinatnya. Hasilnya membentuk tiga kelompok yang berkaitan dengan kategori kerusakan ringan, sedang, dan berat. 

Secara sederhana, PCA-Clustering bergerak dari keragaman data, menemukan karakteristik dominan, mengenali kemiripan, membentuk kelompok, lalu memberikan label.

Menariknya, jauh dari dunia komputer dan algoritma, Al-Qur’an juga menggunakan bahasa pengelompokan ketika menggambarkan manusia. QS Al-Waqi’ah [56]:7 menyatakan:

وَكُنتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةً
“Dan kamu menjadi tiga golongan.”

Ayat berikutnya menjelaskan tiga golongan manusia: ashḥāb al-maimanah, ashḥāb al-masy’amah, dan al-sābiqūn.

Apakah ini berarti Al-Qur’an sedang menjelaskan algoritma clustering? Tentu tidak sesederhana itu.

PCA-Clustering bekerja dalam wilayah matematika dan komputasi. Sementara Al-Qur’an berbicara mengenai manusia dan kehidupan dalam horizon teologis dan moral. Karena itu, ayat tersebut tidak tepat digunakan sebagai “dalil” bahwa PCA atau clustering telah dijelaskan Al-Qur’an.

Namun, keduanya dapat didialogkan secara konseptual. Dalam data science, sekumpulan objek yang beragam dianalisis berdasarkan karakteristiknya untuk menemukan pola dan kelompok. Dalam Al-Qur’an, pengelompokan hadir dalam berbagai konteks untuk menunjukkan adanya perbedaan karakteristik, keadaan, maupun konsekuensi.

Di sinilah integrasi Islam dan sains memperoleh ruang yang lebih produktif. Perguruan tinggi Islam tidak perlu memaksakan setiap algoritma agar memiliki padanan ayat. Yang lebih penting adalah membangun tradisi keilmuan yang mempertemukan ketelitian sains dengan kedalaman nilai.

PCA-Clustering bekerja dengan angka, koordinat, dan pola. Al-Qur’an berbicara tentang manusia, kehidupan, dan makna. Keduanya tidak perlu dianggap sebagai hal yang sama. Namun, keduanya dapat ditempatkan dalam percakapan intelektual tentang bagaimana keragaman dikenali, pola ditemukan, dan pengetahuan digunakan.

Sebab, teknologi yang mampu menemukan pola belum tentu mampu menentukan makna. Manusialah yang harus memastikan bahwa pola yang ditemukan oleh mesin berakhir pada kemaslahatan.

相关新闻

Artikel Terkait