MIU 登录

Renungan Jum’at

Oleh: Agus Mulyono

Bisikan Kemiskinan

Pak Kyai membuka pengajian bakda magrib itu dengan pertanyaan yang sederhana, tapi seperti biasa… tidak pernah benar-benar sederhana.
“Coba jujur… siapa di antara kalian yang takut miskin?”
Beberapa santri saling pandang. Ada yang tersenyum tipis. Ada yang langsung menunduk. Pertanyaan itu seperti cermin.. memantulkan sesuatu yang sering kita sembunyikan, bahkan dari diri sendiri.
Pak Kyai lalu membaca ayat dari surat Al Baqoroh 268
“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan; sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dan karunia…”

Beliau tidak langsung menjelaskan. Hanya diam sejenak.
“Perhatikan baik-baik… yang menakut-nakuti itu siapa, dan yang menjanjikan itu siapa.”

Menurut Pak Kyai, hidup manusia seringkali bukan dikendalikan oleh kenyataan, tapi oleh rasa takut.
Dan salah satu rasa takut yang paling halus… tapi paling kuat… adalah takut miskin.
Bukan hanya takut tidak punya uang. Tapi takut tidak cukup. Takut tertinggal. Takut tidak dianggap.
“Dan menariknya,” kata beliau, “rasa ini bisa dimiliki siapa saja. Yang tidak punya, takut miskin. Yang sudah punya pun… juga takut miskin.”

Beliau lalu memberi contoh yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Seorang karyawan, misalnya.
Gajinya sebenarnya cukup. Bisa makan, bisa bayar cicilan, bisa menabung sedikit. Hidupnya tidak mewah, tapi juga tidak kekurangan.
Tapi suatu hari ia melihat teman sekantornya naik mobil baru.
Besoknya, ia melihat yang lain liburan ke luar negeri.
Lalu tanpa sadar muncul satu bisikan kecil:
“Aku ketinggalan…”
Dari situ, rasa cukup mulai retak.
Ia mulai berpikir, “Gajiku segini-segini saja. Kapan bisa seperti mereka?”
Lalu datang tawaran kecil. Tidak besar. Tidak terlalu mencolok. Tapi jelas bukan sesuatu yang sepenuhnya bersih.
Awalnya ragu.
Tapi karena ada rasa takut: “Kalau tidak ambil kesempatan ini, kapan lagi?”… akhirnya diambil juga.

Menurut Pak Kyai, banyak keputusan besar dalam hidup manusia, sering dimulai dari bisikan kecil seperti itu.

Contoh lain, di dunia usaha.
Ada pedagang yang awalnya jujur. Ia bangun usahanya dari nol. Pelan-pelan. Sabar.
Pelanggan percaya karena kejujurannya.
Tapi suatu saat, ia melihat pesaingnya berkembang lebih cepat. Lebih ramai. Lebih besar.
Lalu muncul rasa khawatir:
“Kalau aku tetap seperti ini… nanti kalah.”
Dari situ mulai ada perubahan kecil.
Mengurangi kualitas sedikit.
Menambah harga diam-diam.
Atau memainkan cerita agar barangnya terlihat lebih bagus dari aslinya.
Tidak langsung besar. Tapi pelan-pelan.

Menurut Pak Kyai, syaitan tidak selalu menyuruh langsung korupsi besar. Kadang cukup menggeser sedikit saja… tapi terus-menerus.

Beliau juga menyinggung fenomena yang sering terjadi di sekitar kita.
Karena takut miskin…
Orang rela menyuap agar dapat pekerjaan.
Rela menyogok agar naik jabatan.
Rela menjilat demi posisi.
Rela mengorbankan prinsip demi “keamanan masa depan”.

Bahkan dalam lingkup yang lebih kecil…
Ada yang takut tidak cukup, akhirnya jadi pelit berlebihan.
Takut berbagi. Takut memberi.
Padahal yang ditahan belum tentu membawa tenang.

Pak Kyai kemudian tersenyum, lalu berkata pelan:
“ yang berbahaya itu bukan miskinnya. Tapi takutnya.”
Karena miskin itu kondisi. Bisa datang, bisa pergi.
Tapi takut miskin… itu penyakit hati. Kalau sudah masuk, bisa merusak cara berpikir, cara merasa, bahkan cara mengambil keputusan.

Beliau lalu mengingatkan doa Nabi: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, dari kekurangan, dan dari kehinaan…”
Menurut Pak Kyai, “kefakiran di sini bukan hanya tidak punya. Tapi kondisi hati yang selalu merasa kurang, selalu takut tidak cukup.”
Dan ketika hati seperti itu…
Orang tidak lagi bertanya: “Ini benar atau tidak?”
Tapi berubah menjadi: “Ini aman atau tidak?”
Bukan lagi soal halal atau haram,
Tapi soal untung atau rugi.

Pak Kyai kemudian mengajak santri melihat lebih dalam.
“Kenapa syaitan menakut-nakuti dengan kemiskinan?”
Karena, kata beliau, rasa takut itu membuat manusia mudah dikendalikan.

Kalau seseorang sudah takut miskin, ia akan mudah diarahkan:
Untuk serakah, Untuk curang,
Untuk menghalalkan cara.
Dan yang lebih halus lagi,
Ia akan kehilangan rasa percaya kepada Allah.
Padahal dalam ayat itu jelas:
Yang satu menakut-nakuti.
Yang satu menjanjikan.
“Pertanyaannya,” kata Pak Kyai, “kita lebih sering mendengarkan yang mana?”

suasana mulai hening..
Pak Kyai menutup dengan pesan yang sederhana, tapi dalam.
“Jadilah orang yang berusaha. Bekerja keras. Bahkan kalau bisa, jadilah orang kaya.”
Beberapa santri tersenyum.
“Tapi…” beliau melanjutkan, “jangan pernah memelihara rasa takut miskin.”
Karena kalau hati sudah tidak takut miskin…Orang akan lebih berani jujur. Lebih mudah bersyukur.
Lebih ringan berbagi.
Dan lebih tenang menjalani hidup.

Kadang kita merasa hidup ini berat karena penghasilan kurang.
Padahal kalau ditelusuri lebih dalam…
Yang membuat sesak bukan angka yang sedikit, tapi rasa takut yang berlebihan.
Takut tidak cukup.
Takut kalah.
Takut masa depan gelap.
Padahal bisa jadi…
Yang perlu kita perbaiki bukan hanya usaha kita,
tapi juga keyakinan kita.
Bahwa rezeki bukan semata hasil hitungan manusia.
Dan bahwa ketenangan… tidak selalu datang dari banyaknya yang kita miliki,
tapi dari sedikitnya yang kita khawatirkan.

Pak Kyai menutup pengajian dengan satu kalimat yang pelan,
“Kalau kamu ingin hidup tenang… jangan hanya memperbesar penghasilan. Tapi kecilkan rasa takut kehilangan.”
Dan mungkin, di situlah awal dari keberkahan.

Wallahu a’lam
🙏🙏🙏

相关新闻

Artikel Terkait