MIU Login

Renungan Jum’at

Oleh: Agus Mulyono


Berjuang, Berkorban dan Berdo’a

Menjadi perhatian bersama, apa yang disampaikan oleh Prof. Imam Suprayogo dalam acara Halal Bi Halal kemarin… yang jika disarikan ada tiga kata yang perlu terus dihidupi dan diimplementasikan: “berjuang, berkorban, dan berdo’a”. Tiga kata ini bukan sekedar pesan moral, tetapi fondasi dalam membangun kebersamaan di lingkungan kampus

Dalam konteks itu, membangun kampus tidak bisa dipahami sebagai kerja individu atau kelompok tertentu saja. Tapi perlu keterlibatan semua pihak, dalam semangat kebersamaan yang nyata.. bukan sekedar wacana. Karena tanpa perjuangan, pengorbanan, dan doa yang hadir dari banyak hati, kerja besar ini mudah berhenti pada niat, tanpa pernah benar-benar menjadi gerakan.

Kampus tidak akan pernah benar-benar “menjadi besar” hanya karena gedungnya tinggi, jumlah mahasiswanya banyak, atau akreditasinya unggul. Itu penting, iya. Tapi bukan itu yang membuatnya berdampak.

Yang membuat kampus berdampak… adalah orang-orang di dalamnya.
Dosen yang tidak sekedar mengajar, tapi benar-benar mendidik.
Mahasiswa yang tidak sekedar kuliah, tapi mau bertumbuh.
Tenaga kependidikan yang tidak sekedar bekerja, tapi merasa memiliki.
Dan pimpinan yang tidak sekedar mengatur, tapi memberi arah dan teladan.

Kembali pada 3 kata yg disampaikan Prof Imam.. Berjuang, berkorban, dan berdo’a.

Tiga kata ini sederhana. Tapi maknanya dalam sekali.
Perjuangan itu artinya bergerak. Tidak menunggu. Tidak hanya mengeluh. Tidak sibuk menyalahkan keadaan. Kampus tidak akan berubah hanya karena rapat demi rapat. Ia berubah karena ada orang-orang yang diam-diam bekerja lebih dari yang diminta.

Ada dosen yang tetap membimbing meski tidak dihitung jamnya.
Ada mahasiswa yang berinisiatif membuat kegiatan tanpa disuruh.
Ada pegawai yang memastikan sistem tetap berjalan, meski sering tidak terlihat. Dll

Lalu pengorbanan.
Ini bagian yang biasanya tidak populer. Karena semua orang ingin berkembang, tapi tidak semua orang siap berkorban. Kita ingin kampus maju, tapi kadang masih terlalu perhitungan: “Saya dapat apa?”

Dalam sejarah manapun… tidak ada lembaga besar yang lahir tanpa pengorbanan. Waktu yang dikorbankan. Tenaga yang dikorbankan. Kadang bahkan ego yang harus dikorbankan.

Kalau banyak orang masih mempertahankan egonya masing-masing… maka yang besar bukan kampusnya, tapi mungkin konflik di dalamnya.”

Kadang yang menghambat kampus bukan kurangnya potensi… tapi terlalu banyak ego yang tidak mau diturunkan.
Semua merasa benar.
Semua merasa penting.
Tapi lupa… bahwa tujuan kita sama.

Di titik ini, pengorbanan bukan lagi soal materi atau waktu. Tapi soal kerelaan untuk tidak selalu menang sendiri.

Dan yang terakhir… doa.
Ini yang sering dianggap pelengkap, padahal justru penentu. Kita bisa merancang strategi terbaik, membuat program paling rapi, menyusun target paling ambisius… tapi kalau tidak ada doa, seringkali hasilnya terasa kosong.

Menurut pak kyai, “Doa itu bukan sekedar meminta hasil. Tapi menyadari bahwa kita ini terbatas.
Kampus, sebesar apapun nanti, tetap dibangun oleh manusia yang penuh keterbatasan. Maka doa menjadi cara untuk menyambungkan keterbatasan itu dengan pertolongan Sang Maha.

Doa dosen agar ilmunya berkah.
Doa mahasiswa agar ilmunya bermanfaat.
Doa pimpinan agar keputusannya tepat.
Dan doa seluruh komponen kampus… agar semua yang dilakukan tidak hanya berhasil, tapi juga bernilai.

Karena pada akhirnya… kampus yang besar itu bukan hanya yang dikenal banyak orang. Tapi yang benar-benar memberi dampak.
Dampak bagi mahasiswanya.
Dampak bagi masyarakat.
Dan dampak bagi peradaban.
Dan itu tidak akan lahir dari satu dua orang saja.
Ia lahir ketika semua komponen kampus merasa… “ini bukan sekedar tempat saya bekerja atau belajar… ini bagian dari perjuangan saya.”

Maka mungkin kita perlu mulai dari hal yang sederhana. Bekerja lebih sungguh-sungguh.
Mengurangi sedikit keluhan.
Menurunkan sedikit ego.
Dan menambah doa.
Karena bisa jadi… kampus yang besar itu bukan dimulai dari langkah yang besar. Tapi dari kesadaran kecil yang dilakukan bersama-sama.
Pelan… tapi pasti.

Wallahu a’lam
🙏🙏🙏

Related News

Artikel Terkait