Oleh: Agus Mulyono (Dekan Fakultas Sains dan Teknologi)
JANGAN HANYA PANDAI MENJELASKAN LAUT, BELAJARLAH BERENANG
Renungan untuk Calon Wisudawan (disampaikan pada acara yudisium FST)
Alkisah, seorang profesor yang terkenal karena kecerdasannya sedang menyeberangi lautan dengan sebuah perahu kecil yang dikemudikan oleh seorang pelaut tua. Sang profesor membawa buku-buku, teori, dan berbagai pengetahuan yang dipelajarinya selama bertahun-tahun. Sementara itu, sang pelaut hanya membawa pengalaman panjangnya menghadapi angin, ombak, dan perubahan cuaca.
Di tengah perjalanan, profesor mulai bertanya, “Pak Tua, apakah selama puluhan tahun bekerja sebagai pelaut, Anda pernah mempelajari filsafat?” Pelaut itu menjawab, “Tidak, Tuan. Saya hanya belajar memahami laut dan menjaga perahu agar tetap selamat.”
Profesor tersenyum kecil. “Sayang sekali, berarti sebagian hidup Anda telah terbuang. Filsafat mengajarkan kita memahami hakikat kehidupan.”
Tidak lama kemudian, ia bertanya lagi, “Apakah Anda pernah belajar matematika?” Pelaut menjawab bahwa ia tidak pernah mempelajarinya secara formal. Profesor kembali berkata, “Lebih disayangkan lagi. Matematika adalah bahasa ilmu pengetahuan. Tanpa matematika, bagaimana Anda memahami keteraturan alam?” Pelaut itu hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
Namun, tidak lama kemudian, langit berubah gelap. Angin bertiup kencang, ombak meninggi, dan perahu kecil itu mulai terombang-ambing. Sang pelaut segera mengendalikan kemudi dan mengamankan perahu, sedangkan profesor mulai panik karena tidak terbiasa menghadapi keadaan seperti itu.
Di tengah badai, pelaut bertanya, “Tuan Profesor, apakah Tuan bisa berenang?” Dengan wajah pucat, profesor menjawab, “Tidak, saya tidak bisa berenang.” Pelaut itu pun berkata, “Tuan, kalau perahu ini tenggelam, mungkin sebagian besar pengetahuan Tuan tidak akan banyak membantu. Dalam keadaan seperti ini, kemampuan berenang justru menjadi sangat penting.”
Kisah ini tentu bukan untuk merendahkan profesor atau menganggap buku dan teori tidak berguna. Filsafat penting, matematika penting, ilmu pengetahuan penting. Namun, ada satu pelajaran sederhana yang kadang kita lupakan: mengetahui sesuatu tidak selalu sama dengan mampu melakukannya.
Kita bisa sangat pandai menjelaskan laut, tetapi belum tentu mampu berenang ketika benar-benar berada di dalamnya.
Saudara-saudara calon wisudawan yang berbahagia, kisah ini terasa relevan ketika kita berdiri di hadapan sebuah gerbang baru bernama kehidupan setelah kampus. Hari ini, kita boleh berbangga karena telah menyelesaikan perjalanan akademik. Ada gelar yang akan disematkan, ada ijazah yang akan dibawa pulang, ada orang tua yang tersenyum haru, dan ada keluarga yang merasa perjuangannya tidak sia-sia. Semua itu layak disyukuri.
Akan tetapi, wisuda bukanlah tanda bahwa seluruh persoalan kehidupan telah selesai. Justru setelah wisuda, kita akan memasuki ruang belajar yang jauh lebih luas, dengan persoalan yang tidak selalu tersedia jawabannya di dalam buku teks, tidak selalu dapat diselesaikan dengan rumus, dan tidak selalu memiliki pilihan ganda A, B, C, atau D.
Di kampus, kita belajar menjelaskan banyak hal. Kita belajar tentang teori, konsep, metode, dan berbagai pendekatan ilmiah. Kita belajar menyusun argumen, mengolah data, mengerjakan tugas, dan mempertahankan pendapat. Semua itu merupakan bekal penting.
Namun, kehidupan kelak akan menguji hal-hal yang tidak selalu muncul dalam soal ujian. Apakah kita mampu bekerja sama dengan orang yang berbeda pandangan? Apakah kita tetap jujur ketika kejujuran terasa merugikan? Apakah kita sanggup bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan? Apakah kita tetap rendah hati ketika memiliki kelebihan, dan tetap bersemangat ketika menghadapi kegagalan?
Sebab, di dunia nyata, persoalannya bukan hanya siapa yang paling banyak mengetahui sesuatu, melainkan siapa yang mampu menggunakan pengetahuannya untuk menghadirkan manfaat.
Kita bisa pandai menjelaskan pentingnya integritas, tetapi integritas sesungguhnya terlihat ketika tidak ada orang yang mengawasi. Kita bisa berbicara panjang lebar tentang kedisiplinan, tetapi kedisiplinan diuji ketika tidak ada dosen yang mengingatkan, tidak ada atasan yang menegur, dan tidak ada penghargaan yang menanti.
Kita bisa menjelaskan pentingnya kepedulian sosial, tetapi kepedulian baru terasa ketika kita bersedia meluangkan waktu, tenaga, bahkan sebagian kepentingan pribadi untuk membantu orang lain.
Dengan kata lain, kehidupan tidak hanya membutuhkan orang yang pandai menerangkan kebaikan, tetapi juga orang yang mau mengerjakan kebaikan itu sendiri.
Menurut Pak Kyai, ilmu itu seharusnya membuat manusia semakin mengenal batas dirinya, semakin baik akhlaknya, dan semakin besar manfaatnya bagi sesama. Ilmu bukan sekadar sesuatu yang membuat kita tampak lebih pintar daripada orang lain, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Dalam Islam, kita mengenal ajaran bahwa Allah tidak hanya melihat apa yang kita ucapkan, tetapi juga apa yang kita kerjakan. Pengetahuan tentang kejujuran, misalnya, tentu baik. Namun, pengetahuan itu menemukan maknanya ketika kita memilih untuk tidak berbohong meskipun ada kesempatan.
Pengetahuan tentang keadilan juga penting, tetapi nilainya terasa ketika kita berani memperlakukan orang lain secara adil, termasuk ketika orang itu tidak memiliki kedudukan atau kekuasaan yang dapat menguntungkan kita.
Karena itu, kepada para calon wisudawan, jangan merasa bahwa setelah menerima gelar, tugas belajar telah selesai. Gelar akademik memang menunjukkan bahwa kita telah menempuh suatu tahapan pendidikan, tetapi bukan jaminan bahwa kita selalu lebih bijaksana daripada orang yang tidak memiliki gelar serupa.
Ada banyak pelajaran kehidupan yang dapat kita temukan dari seorang petani yang tekun, seorang pedagang yang jujur, seorang pekerja yang bertanggung jawab, atau seorang ibu yang setiap hari merawat keluarganya dengan penuh kesabaran.
Mereka mungkin tidak fasih menjelaskan teori kepemimpinan, tetapi mampu memberi teladan tentang tanggung jawab.
Mereka mungkin tidak mengutip banyak buku tentang pengabdian, tetapi menjalankan pengabdian itu setiap hari.
Di sinilah kita belajar bahwa ilmu dapat ditemukan dalam banyak bentuk, dan kebijaksanaan tidak selalu datang bersama gelar.
Tentu saja, kita tidak perlu mempertentangkan ilmu dan pengalaman, teori dan praktik, atau kecerdasan dan akhlak. Kita justru membutuhkan semuanya. Dunia memerlukan ilmuwan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga jujur; pemimpin yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga berani bertanggung jawab; tenaga profesional yang tidak hanya menguasai keterampilan, tetapi juga memahami dampak pekerjaannya bagi manusia dan lingkungan.
Pengetahuan memberi kita arah, keterampilan membantu kita melangkah, sedangkan integritas menjaga agar langkah kita tidak kehilangan tujuan. Ketiganya perlu berjalan bersama.
Maka, ketika kelak anda memasuki dunia kerja, membangun usaha, melanjutkan studi, atau mengabdi kepada masyarakat, bawalah ilmu dari kampus dengan penuh percaya diri, tetapi jangan tinggalkan kerendahan hati. Jangan malu belajar dari orang yang lebih berpengalaman, jangan merasa hina ketika harus memulai dari bawah, dan jangan menganggap kegagalan sebagai akhir perjalanan.
Ada kalanya kita harus mengakui bahwa kita belum tahu. Ada kalanya kita harus mengulang dari awal. Ada kalanya kenyataan tidak berjalan sesuai rencana. Semua itu bukan berarti ilmu yang kita pelajari sia-sia, melainkan kesempatan untuk menguji, memperbaiki, dan mengembangkan diri.
Kehidupan memang seperti lautan. Kadang tenang, kadang berombak, dan sesekali menghadirkan badai yang tidak pernah kita perkirakan. Kita tidak selalu dapat memilih cuaca, tetapi kita dapat mempersiapkan diri, belajar membaca keadaan, memperbaiki kemampuan, dan menjaga arah perjalanan.
Jangan hanya sibuk mengumpulkan pengetahuan tentang laut, tetapi belajarlah berenang. Jangan hanya pandai berbicara tentang keberhasilan, tetapi belajarlah menghadapi kegagalan. Jangan hanya pandai menjelaskan kebaikan, tetapi berusahalah menjadi manusia yang baik.
Kehidupan bukan sekadar tentang seberapa banyak yang mampu kita jelaskan, melainkan seberapa bijaksana kita menjalani dan seberapa besar manfaat yang dapat kita tinggalkan.
Selamat menyongsong kehidupan baru, para calon wisudawan. Semoga ilmu yang anda peroleh menjadi cahaya bagi perjalanan, akhlak menjadi penuntun dalam mengambil keputusan, dan pengabdian menjadi bukti bahwa pendidikan tidak berhenti pada selembar ijazah.
Semoga anda tidak hanya menjadi orang yang pandai menjelaskan kehidupan, tetapi juga menjadi manusia yang mampu menjalaninya dengan baik. Karena laut kehidupan tidak cukup hanya dipahami dari tepian. Ada saatnya kita harus berani turun, belajar berenang, menghadapi ombak, dan melanjutkan perjalanan dengan tetap menjaga arah.
Selamat berjuang. Semoga Allah membimbing langkah kita semua.
Wallahu a”lam
🙏🙏🙏









