تسجيل الدخول إلى MIU

Renungan Jum’at

Oleh: Agus Mulyono

 

Dari partikel menuju keperenungan: Kita Tidak Sepenuhnya Mengerti Realitas

Ada satu eksperimen dalam fisika yang sampai hari ini masih menarik untuk dibicarakan, bukan hanya oleh para fisikawan, tetapi juga oleh para filsuf, pemikir, dan mereka yang sedang mencari makna kehidupan. Namanya double-slit experiment, atau eksperimen celah ganda.

Eksperimen ini sederhana. Kita memiliki sumber partikel, misalnya elektron atau foton, kemudian di depannya dipasang sebuah penghalang yang memiliki dua celah. Di belakangnya terdapat layar untuk menangkap partikel yang lewat. Kalau kita berpikir menggunakan logika sehari-hari, mestinya partikel akan melewati salah satu celah, lalu membentuk dua kelompok pola pada layar. Sederhana, seperti orang berjalan melewati dua pintu.

Tetapi dunia kuantum tidak selalu bekerja seperti yang kita bayangkan.
Ketika kedua celah dibuka dan partikel dikirim satu per satu, pola yang terbentuk pada layar, setelah banyak partikel terkumpul, dapat menunjukkan pola interferensi. Seolah-olah partikel tersebut berperilaku seperti gelombang yang melewati kedua celah dan berinterferensi.
Nah, di sinilah fisika mulai mengganggu kenyamanan pikiran kita.

Sebab, ketika dilakukan pengukuran untuk mengetahui partikel melewati celah yang mana, pola interferensi itu berubah atau tidak lagi terbentuk dalam kondisi pengukuran jalur yang membedakan kedua celah. Seolah-olah tindakan pengukuran memiliki hubungan dengan hasil yang kita amati.

Lalu muncullah pertanyaan yang menarik: Apakah realitas berubah karena kita mengamatinya? Apakah pengamat mempunyai peran dalam membentuk kenyataan?
Pertanyaan ini kemudian dibawa ke mana-mana. Ada yang menghubungkannya dengan kesadaran, pikiran, energi, spiritualitas, bahkan dengan hubungan manusia dan Tuhan.
Namun, menurut saya, justru di sinilah kita perlu berhenti sebentar. agar kita tidak terlalu cepat menjadikan eksperimen laboratorium sebagai pembenaran bagi semua keyakinan yang ingin kita bangun.

Menurut Pak Kyai, orang yang baru melihat satu jendela tidak lantas boleh mengaku sudah memahami seluruh isi rumah.

Ketika Pengamatan Mengubah Apa yang Kita Ketahui
Dalam fisika klasik, kita terbiasa membayangkan bahwa benda memiliki sifat yang sudah jelas, kemudian kita tinggal mengukurnya. Bola ada di suatu tempat, kecepatannya sekian, dan pengamatan hanya membantu kita mengetahui keadaan tersebut.

Dalam fisika kuantum, gambaran itu menjadi lebih rumit. Sistem kuantum dijelaskan melalui keadaan kuantum, dan pengukuran tertentu dapat menghasilkan hasil yang berbeda dari perilaku interferensi ketika informasi jalur tidak tersedia. Interaksi pengukuran dengan sistem merupakan bagian penting dalam menjelaskan fenomena tersebut.
Observer effect dalam eksperimen celah ganda bukan bukti bahwa pikiran manusia secara ajaib menciptakan seluruh realitas. Perubahan hasil eksperimen berkaitan dengan interaksi fisik yang memungkinkan informasi jalur diperoleh. Bahkan, interferensi dapat hilang ketika informasi jalur tersedia melalui interaksi dengan alat atau lingkungan, meskipun tidak ada manusia yang secara sadar melihat hasilnya.

Kalau begitu, apakah eksperimen ini tidak memiliki hubungan dengan spiritualitas?
Justru memiliki ruang refleksi yang sangat luas.
Hanya saja, hubungan itu berada pada wilayah filsafat, cara kita memahami pengetahuan, keterbatasan manusia, dan cara kita memandang keberadaan. Bukan pada klaim bahwa fisika kuantum telah membuktikan seluruh ajaran spiritual.

Surat Qaf Ayat 16: Tuhan Lebih Dekat daripada yang Kita Bayangkan
Allah berfirman dalam Surat Qaf ayat 16:
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
Ayat ini sering kita dengar dalam pengajian. Allah mengetahui apa yang tersembunyi dalam diri manusia, bahkan sesuatu yang belum terucapkan.
Kalau kita hubungkan secara reflektif dengan fisika kuantum, ada satu kesadaran yang menarik: apa yang kita ketahui tentang realitas tidak pernah identik dengan keseluruhan realitas itu sendiri.

Fisika mengajarkan kepada kita bahwa cara pengukuran, jenis interaksi, dan kondisi eksperimen memengaruhi informasi yang dapat kita peroleh. Sementara ayat ini mengingatkan bahwa pengetahuan Allah tidak terbatas sebagaimana pengetahuan manusia.

Kedekatan Allah adalah bagian dari keyakinan teologis, sedangkan eksperimen kuantum adalah penyelidikan ilmiah terhadap fenomena alam.
Keduanya dapat kita dialogkan dalam perenungan, tanpa mencampuradukkan dasar pembuktiannya.

Menurut Pak Kyai, manusia sering merasa sudah memahami dunia hanya karena memiliki sedikit pengetahuan. Padahal, semakin dalam seseorang menyelami ilmu, semestinya semakin sadar bahwa yang belum diketahui jauh lebih luas.

Seorang profesor bisa memahami persamaan Schrödinger, tetapi belum tentu memahami seluruh rahasia keberadaan dirinya sendiri. Seorang ahli biologi bisa mengamati sel, tetapi tidak otomatis memahami seluruh makna kehidupan. Dan seseorang yang rajin beribadah pun tetap perlu rendah hati, karena pengakuan terhadap Tuhan bukan lisensi untuk menganggap dirinya mengetahui segala sesuatu

Surat Al-Hadid Ayat 4
Dalam Surat Al-Hadid ayat 4, Allah berfirman:
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Fisika kuantum berbicara tentang korelasi dan keadaan sistem fisik. Sementara hubungan Allah dengan makhluk adalah persoalan teologi yang jauh melampaui model matematis sebuah eksperimen.

Di sinilah ada perenungan
Allah bersama kita. Artinya, dalam keyakinan keagamaan, manusia tidak pernah berada di luar pengetahuan dan pengawasan-Nya. Kita boleh berada di laboratorium, di masjid, di kantor, di rumah, bahkan di tempat yang tidak diketahui oleh siapa pun. Tidak ada ruang yang membuat kita luput dari pengetahuan Allah.

Lalu, apa implikasinya bagi kehidupan?
Seorang dosen yang mengajar di ruang kelas yang sepi tetap memiliki tanggung jawab. Seorang pegawai yang tidak diawasi atasannya tetap dituntut jujur. Seorang peneliti yang memiliki kesempatan memanipulasi data tetap harus menjaga integritas.
Sebab, spiritualitas bukan hanya merasa bahwa Tuhan dekat ketika sedang berdoa. Spiritualitas juga berarti menyadari bahwa kedekatan itu seharusnya memengaruhi perilaku kita ketika tidak ada manusia yang melihat.

Kalau fisika mengajarkan bahwa pengamatan ilmiah memiliki konsekuensi terhadap apa yang dapat kita ketahui, agama mengajak kita merenungkan bahwa seluruh tindakan kita berada dalam pengetahuan Allah. Tetapi sekali lagi, ini adalah analogi reflektif, bukan persamaan ilmiah antara pengamatan kuantum dan pengawasan Tuhan.

Surat Al-Baqarah Ayat 115:
Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 115:
“Dan milik Allah timur dan barat. Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah. Sungguh, Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”
Ayat ini mengajak kita keluar dari cara pandang yang terlalu sempit terhadap kehadiran Tuhan. Allah tidak dibatasi oleh arah, ruang, atau batas-batas ciptaan-Nya.

Dalam pengalaman sehari-hari, manusia sering merasa bahwa Tuhan hanya hadir di tempat-tempat tertentu. Seolah-olah masjid adalah tempat Allah dekat, sementara laboratorium, ruang kuliah, pasar, atau tempat kerja adalah ruang yang terpisah dari spiritualitas.

Padahal, bukankah alam semesta yang kita teliti juga merupakan ciptaan Allah?
Ketika seorang fisikawan meneliti foton, ia sedang mempelajari bagian dari alam yang diciptakan Allah. Ketika seorang biolog mengamati sel, ia sedang menyelidiki keteraturan kehidupan. Ketika seorang mahasiswa mengerjakan penelitian dengan jujur, ia sedang menjalankan tanggung jawab intelektual yang semestinya tidak terpisah dari nilai-nilai agama.

Menurut Pak Kyai, masalahnya bukan apakah ilmu pengetahuan itu spiritual atau tidak spiritual. Masalahnya adalah apakah orang yang berilmu mampu membawa kesadaran ketuhanan ke dalam cara ia menggunakan ilmunya.

Sebab, ilmu yang hebat tanpa tanggung jawab dapat menjadi alat kerusakan. Sebaliknya, ilmu yang dipandu oleh etika, kejujuran, dan kasih sayang dapat menjadi jalan kemanfaatan.
Jangan sampai kita sibuk membicarakan Tuhan di ruang seminar, tetapi lupa menjaga kebersihan ruang laboratorium. Jangan sampai kita berdiskusi tentang hakikat alam semesta, tetapi masih memalsukan data penelitian. Jangan sampai kita mengutip ayat tentang kebersamaan Allah, tetapi merasa bebas berbuat curang ketika tidak ada manusia yang mengetahui.

Surat An-Nisa Ayat 126
Dalam Surat An-Nisa ayat 126, Allah berfirman:
“Dan milik Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Meliputi segala sesuatu.”
Ayat ini membawa kita kepada kesadaran tentang keterbatasan posisi manusia. Kita meneliti alam, menyusun teori, membangun teknologi, lalu kadang-kadang merasa seolah-olah sudah menjadi penguasa penuh atas kenyataan.

Padahal, kita hanya mengenali sebagian kecil dari alam yang begitu luas.
Kita bisa meneliti materi hingga skala kuantum, memanfaatkan teknologi laser, membangun komputer, dan mengembangkan kecerdasan buatan. Tetapi semua pencapaian itu tidak mengubah kenyataan bahwa manusia tetap makhluk yang terbatas.

Dalam perspektif spiritual, ilmu pengetahuan seharusnya tidak hanya menghasilkan kemampuan mengendalikan sesuatu. Ilmu juga semestinya menghasilkan kesadaran tentang tanggung jawab.

Kalau kita memahami bahwa alam bukan sekadar benda mati yang bebas dieksploitasi, maka cara kita memperlakukan lingkungan seharusnya berubah. Kalau kita menyadari bahwa kehidupan tidak hanya bernilai karena bisa dihitung secara ekonomi, maka penelitian dan teknologi seharusnya diarahkan untuk kemaslahatan.
Dan kalau kita menyadari bahwa pengetahuan manusia selalu memiliki batas, maka kita tidak perlu malu mengatakan, “Saya belum tahu.”
Kalimat saya belum tahu bukan tanda kelemahan seorang ilmuwan. Justru, sering kali itulah awal dari penelitian yang jujur.

Kita Tidak Harus Menjadi Penguasa Realitas
Tetapi eksperimen tersebut bisa menjadi pintu untuk mengoreksi cara kita memandang diri sendiri.
Kita sering menganggap apa yang kita lihat sebagai satu-satunya kenyataan. Kita menganggap pendapat kita paling benar, pengalaman kita paling penting, dan keinginan kita harus menjadi pusat segala sesuatu.
Padahal, realitas tidak tunduk kepada kesombongan pengetahuan kita.

Kita bukan penguasa mutlak atas alam. Kita adalah bagian dari alam, makhluk yang bergantung, yang belajar melalui keterbatasan indra, bahasa, alat, dan kemampuan berpikir.

Dalam pemahaman spiritual yang mendalam, kesadaran tentang kefanaan tidak harus berarti menyangkal keberadaan manusia secara fisik. Kita tetap memiliki tanggung jawab, tubuh, kehendak, dan konsekuensi moral. Namun, kita dapat menyadari bahwa keberadaan kita bukan keberadaan yang mandiri dan mutlak.

Kita ada sebagai makhluk yang bergantung kepada Allah.
Kita sadar untuk mengakui bahwa kenyataan lebih luas daripada pemahaman kita, dan bahwa pengetahuan semestinya membawa manusia kepada kerendahan hati.

Menurut Pak Kyai, orang yang memahami ilmu tetapi tidak memiliki kerendahan hati akan mudah menjadikan pengetahuannya sebagai alat untuk meninggikan diri. Sebaliknya, orang yang mendalami ilmu sekaligus menyadari keterbatasannya dapat melihat bahwa belajar bukan sekadar mengumpulkan jawaban, tetapi juga memperbaiki cara kita hidup.

Maka, ketika kita kembali melihat eksperimen celah ganda, mari kita tidak hanya bertanya, “Bagaimana partikel berperilaku?”
Tanyakan pula: “Bagaimana saya memperlakukan keterbatasan pengetahuan saya? Bagaimana saya menggunakan ilmu? Dan apakah semakin luas pengetahuan saya, semakin jujur, semakin bertanggung jawab, dan semakin sadar bahwa saya adalah makhluk yang bergantung kepada Allah?”

Karena mungkin, spiritualitas yang paling matang bukanlah ketika kita merasa telah menemukan seluruh rahasia alam semesta.
Melainkan ketika kita tetap bersedia mencari, terus belajar, dan dengan rendah hati mengakui:
Yang kita ketahui hanyalah sebagian kecil dari kenyataan. Dan di hadapan keluasan ciptaan Allah, manusia tidak pernah selesai belajar.

Wallahu a’lam
🙏🙏🙏

أخبار ذات صلة

Artikel Terkait