Oleh: Aisyah, M.Ars., GP
Seratus tahun yang lalu, kita tidak ada di dunia ini, begitu pula di seratus tahun yang akan datang. Pertanyaan pentingnya adalah: seperti apa bumi yang kita tinggalkan nantinya? Apakah kualitas udara dan airnya masih sama? Apakah tumbuhan-tumbuhan dan hewan-hewan masih beraneka ragam? Apakah bahan bakar dan sumber daya alamnya masih tersedia? Dan, apakah kehidupan kita hari ini membawa kebaikan bagi generasi setelah kita, atau justru meninggalkan beban yang harus mereka tanggung?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi inti dari keberlanjutan. Keberlanjutan atau sustainability adalah gagasan tentang bagaimana kebutuhan generasi saat ini dapat dipenuhi tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam konteks perguruan tinggi, keberlanjutan tidak hanya berbicara tentang ruang hijau, pepohonan, atau penghematan energi. Lebih dari itu, keberlanjutan mencakup tata kelola, kebijakan, pendidikan, riset, pengelolaan sampah, air, transportasi, infrastruktur, hingga kebiasaan sehari-hari seluruh sivitas akademika.
Kampus, dalam hal ini, memiliki peran yang sangat penting. Perguruan tinggi bukan hanya tempat belajar dan mengajar, melainkan juga ruang pembentukan kesadaran, budaya, dan perilaku. Jika kampus mampu menghadirkan lingkungan yang sehat, hemat energi, rendah emisi, ramah pejalan kaki, dan peduli terhadap lingkungan, maka kampus juga sedang mendidik generasi masa depan untuk hidup dengan lebih bertanggung jawab.
Salah satu instrumen yang digunakan untuk menilai komitmen keberlanjutan perguruan tinggi adalah UI GreenMetric World University Rankings. Pemeringkatan ini menilai sejauh mana sebuah universitas menerapkan prinsip kampus berkelanjutan melalui berbagai indikator yang terukur. Di era saat ini, kualitas sebuah lembaga tidak lagi cukup dinilai secara subjektif. Diperlukan indikator kinerja atau Key Performance Indicators (KPI) yang dapat menunjukkan sejauh mana sebuah institusi telah bergerak menuju tujuan yang ingin dicapai. Dalam konteks kampus berkelanjutan, UI GreenMetric menjadi salah satu alat refleksi untuk melihat capaian, kekuatan, dan ruang perbaikan sebuah universitas.
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang telah mengikuti UI GreenMetric sejak tahun 2023. Pada tahun tersebut, UIN Malang meraih peringkat 93 nasional dan memperoleh anugerah UI GreenMetric untuk kategori The Most Sustainability Improved University. Pada tahun 2024, peringkat UIN Malang meningkat ke urutan 59 nasional. Capaian ini menunjukkan bahwa upaya menuju kampus berkelanjutan telah berjalan dan mulai menunjukkan hasil. Pada tahun 2026, UIN Malang kembali berpartisipasi dalam pemeringkatan ini sebagai bagian dari komitmen untuk terus memperkuat tata kelola keberlanjutan kampus.
Namun, GreenMetric sebaiknya tidak hanya dipahami sebagai pemeringkatan. Lebih dari itu, GreenMetric adalah cermin. Ia membantu kampus melihat apa yang sudah baik, apa yang perlu diperbaiki, dan strategi apa yang harus dibangun ke depan. Peringkat memang penting sebagai bentuk pengakuan, tetapi substansi yang lebih penting adalah perubahan nyata dalam kebijakan, fasilitas, budaya, dan perilaku warga kampus.
Secara umum, UI GreenMetric menilai kampus melalui beberapa kategori utama, yaitu Setting and Infrastructure, Energy and Climate Change, Waste, Water, Transportation, serta Education and Research. Pada tahun 2026, terdapat kategori tambahan yaitu tata kelola dan digitalisasi. Hal ini menunjukkan bahwa kampus berkelanjutan tidak cukup hanya diwujudkan melalui fasilitas fisik, tetapi juga melalui kepemimpinan, transparansi, kebijakan, integritas, dan sistem digital yang mendukung efisiensi kerja.
Pada kategori Setting and Infrastructure, UIN Malang memiliki kekuatan dalam ketersediaan area kampus, area terbuka, ruang hijau, serta area konservasi flora dan fauna, khususnya pada kampus 3 dan 4. UIN Malang juga terus mengembangkan kampus dengan memperhatikan kebutuhan ruang akademik, ruang sosial, serta lingkungan hijau. Pada penilaian sebelumnya, kategori ini memperoleh 975 dari maksimum 1500 poin atau sekitar 65%. Capaian ini menunjukkan fondasi infrastruktur yang cukup baik. Ke depan, penguatan dapat dilakukan pada fasilitas keamanan, infrastruktur kesehatan, serta fasilitas pendukung kenyamanan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan.
Pada aspek Energy and Climate Change, UIN Malang telah memiliki berbagai inisiatif penghematan energi dan pemanfaatan energi terbarukan. Beberapa fasilitas yang telah tersedia antara lain berupa 442 unit panel surya, dua unit turbin angin, penggunaan lampu dan peralatan hemat energi, serta penerapan teknologi bangunan cerdas seperti sistem alarm, sistem smart lock, sistem keamanan dan kebakaran, serta manajemen energi. Pada kategori ini, UIN Malang memperoleh 1400 dari maksimum 2100 poin atau sekitar 66%. Tantangan ke depan adalah untuk memperluas pemanfaatan energi terbarukan dan memastikan bahwa teknologi hemat energi tidak hanya hadir pada sebagian bangunan, tetapi semakin merata di kampus 1, 2 dan 3.
Aspek Waste atau pengelolaan sampah merupakan salah satu tantangan penting bagi banyak kampus. UIN Malang telah melaksanakan program 3R, yaitu reduce, reuse, و recycle, serta program pengurangan penggunaan kertas dan plastik. Pada kategori ini, UIN Malang memperoleh 900 dari maksimum 1800 poin atau sekitar 50%. Capaian ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah harus terus diperkuat, terutama dalam pengelolaan limbah berbahaya dari aktivitas laboratorium.
Selain sampah, pengelolaan air juga menjadi indikator penting dalam keberlanjutan. Kategori Water menilai sumber air yang digunakan, usaha konservasi air, daur ulang air, serta perlindungan habitat dan ekosistem air. UIN Malang memperoleh 500 dari total 1000 poin atau sekitar 50% pada kategori ini. Kampus 1 memiliki aliran sungai di area depan rektorat yang menjadi bagian dari ruang terbuka kampus. Kampus 3 juga memiliki embung untuk menampung air hujan. Selain itu, beberapa bangunan telah menggunakan peralatan hemat air seperti kran sensor dan toilet dual flush. Ke depan, upaya konservasi air, pemantauan penggunaan air, pemanfaatan air hujan, dan kemungkinan penggunaan air daur ulang perlu terus dikembangkan agar pengelolaan air kampus menjadi lebih berkelanjutan.
Aspek transportasi juga menjadi perhatian besar karena berkaitan langsung dengan emisi kendaraan, kualitas udara, kenyamanan ruang luar, dan mobilitas harian sivitas akademika. Pada kategori Transportation, UIN Malang memperoleh 1225 dari maksimum 1800 poin atau sekitar 68%. Salah satu kekuatan UIN Malang adalah keberadaan ma’had atau asrama mahasiswa. Dengan adanya kewajiban tinggal di ma’had bagi mahasiswa tahun pertama, sebagian mahasiswa dapat mengakses gedung perkuliahan dengan berjalan kaki dalam jarak yang nyaman. Hal ini secara tidak langsung mengurangi kebutuhan penggunaan kendaraan bermotor.
Selain itu, UIN Malang juga menyediakan layanan shuttle antar-kampus, menyediakan zero-emission vehicle berupa golf cart listrik, serta menyediakan 20 unit sepeda listrik di kampus 1 yang dapat digunakan oleh sivitas akademika. Fasilitas pejalan kaki juga terus ditingkatkan melalui perbaikan fasilitas jalur pedestrian. Namun, tantangan transportasi masih cukup besar, terutama dalam pengelolaan area parkir, peningkatan kualitas jalur pejalan kaki, penambahan unit sepeda listrik, pengadaan shuttle yang lebih ramah lingkungan, serta pengendalian jumlah kendaraan yang masuk dan keluar kampus. Kampus 1, misalnya, memiliki kondisi yang cukup unik. Lokasinya yang memiliki akses dari dua jalan utama membuat sebagian kendaraan menggunakan area kampus sebagai jalur pintas. Di satu sisi kondisi ini menunjukkan hubungan sosial antara kampus dengan lingkungan sekitarnya, namun di sisi lain, tingginya arus kendaraan menyebabkan peningkatan polusi udara, kebisingan, serta padatnya jalanan kampus.
Kategori dengan capaian tertinggi UIN Malang adalah Education and Research. Pada aspek ini, UIN Malang memperoleh 1450 dari maksimum 1800 poin atau sekitar 80%. Hal ini menunjukkan bahwa isu keberlanjutan telah hadir dalam program studi, mata kuliah, riset, pengabdian kepada masyarakat, serta aktivitas akademik lainnya. Kekuatan ini sangat penting khususnya pada lembaga perguruan tinggi. Melalui pendidikan dan riset, isu keberlanjutan tidak hanya menjadi program fisik, tetapi juga menjadi bagian dari kesadaran intelektual dan budaya akademik.
Dalam perkembangan terbaru, aspek tata kelola dan digitalisasi juga semakin penting. Kampus berkelanjutan membutuhkan sistem yang transparan, akuntabel, dan efisien. Beberapa indikator yang relevan antara lain persentase anggaran untuk program keberlanjutan, penggunaan teknologi digital dalam sistem administrasi dan layanan, keterlibatan perempuan dalam kepemimpinan, serta kebijakan integritas dan antikorupsi. Hal ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak hanya urusan lingkungan fisik, tetapi juga berkaitan dengan kualitas tata kelola institusi.
Dari seluruh capaian dan tantangan tersebut, pertanyaan yang kemudian muncul adalah: sebagai warga kampus, apa yang dapat kita lakukan?
Jawabannya dapat dimulai dari hal-hal yang sangat sederhana. Kita dapat memilih berjalan kaki untuk mobilitas antar gedung, menggunakan sepeda, sepeda listrik, atau kendaraan rendah emisi ke kampus jika memungkinkan. Kita dapat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, terutama untuk perjalanan yang sebenarnya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Kita dapat membawa tumbler atau menggunakan gelas untuk mengurangi sampah kemasan di kampus. Kita dapat membiasakan diri tidak menyisakan makanan. Kita dapat mematikan lampu, komputer, AC, dan alat elektronik ketika tidak digunakan. Kita dapat menghemat air, termasuk saat berwudhu, dengan membuka kran secukupnya. Kita dapat memilih naik tangga untuk lantai yang masih terjangkau daripada selalu menggunakan lift. Kita juga dapat membantu menjaga kebersihan, memilah sampah serta menggunakan fasilitas kampus dengan bertanggung jawab.
Perubahan besar sering kali dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten. Kampus berkelanjutan bukan hanya dibangun oleh kebijakan institusi, dokumen pemeringkatan, atau fasilitas fisik. Kampus berkelanjutan juga dibangun oleh kebiasaan harian mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan seluruh warga kampusnya.
Artikel ini juga dibuat sebagai pengingat untuk penulis yang masih menggunakan kendaraan bermotor ke kampus, serta masih sering mengkonsumsi air mineral kemasan saat rapat. Perubahan menuju keberlanjutan tidaklah menuntut kesempurnaan seketika, tetapi konsistensi dari waktu ke waktu. Mari kita mulai dari diri sendiri, dari sekarang juga, dan dari yang paling kecil!
Referensi:
- UI GreenMetric. (2026). UI GreenMetric World University Rankings 2026 guideline. UI GreenMetric World University Rankings.
- UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. (2023). Sustainability report UIN Maulana Malik Ibrahim Malang 2023. Green Campus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
- UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. (2024). Sustainability report UIN Maulana Malik Ibrahim Malang 2024. Green Campus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
- World Commission on Environment and Development. (1987). Our common future: Report of the World Commission on Environment and Development. United Nations.





