Oleh: TIM Dosen Arsitektur
Penelitian terhadap kawasan Masjid Sunan Ampel, Masjid Sunan Giri, dan Masjid Sendang Duwur menunjukkan bahwa masjid bersejarah bukan sekadar bangunan tua. Di balik bentuk, ruang, dan perubahan fisiknya, tersimpan jejak perjalanan masyarakat yang terus hidup hingga kini. Ketika berbicara tentang masjid bersejarah, yang terbayang mungkin adalah bangunan tua dengan atap khas, tiang kayu, ornamen tradisional, atau kawasan makam yang ramai dikunjungi para peziarah. Namun, bagaimana jika bangunan tersebut tidak hanya dilihat sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai sebuah “rekaman” perjalanan waktu?
Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu dasar penelitian yang berjudul “Dokumentasi Masjid-masjid Bersejarah di Jawa Timur: Analisis Tipo-Morfologi, Spasialitas, dan Temporalitas Arsitektur” yang telah dilakukan oleh Dr. Yulia Eka Putrie dkk, dari prodi Teknik Arsitektur UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Penelitian yang mendapatkan pendanaan dari Litapdimas Kemenag tahun 2022 ini mengkaji tiga kawasan bersejarah, yaitu Kawasan Masjid dan Makam Sunan Ampel di Surabaya, Kawasan Masjid dan Makam Sunan Giri di Gresik, serta Kawasan Masjid dan Makam Sendang Duwur di Lamongan. Ketiganya dipilih karena masih mempertahankan sebagian bentuk, elemen arsitektur, maupun tata ruang dan kawasan yang memiliki nilai sejarah. Ketiga kawasan tersebut juga berada di wilayah pesisir utara provinsi Jawa Timur yang sejak masa lalu memiliki peran penting dalam perdagangan, kebudayaan, politik, dan penyebaran Islam di Nusantara. Jejak dakwah para wali kemudian membentuk kawasan yang tidak hanya memiliki nilai keagamaan, tetapi juga nilai sejarah dan budaya.
Mendokumentasikan Sebelum Terlambat
Salah satu tantangan dalam mempelajari bangunan bersejarah adalah perubahan. Bangunan yang masih digunakan tentu tidak selalu dapat dipertahankan dalam kondisi yang sama. Renovasi, penambahan ruang, perubahan fungsi, maupun perkembangan kawasan di sekitarnya dapat mengubah wajah bangunan secara bertahap. Karena itu, penelitian ini tidak berhenti pada dokumentasi foto. Tim peneliti menggunakan berbagai teknik untuk merekam objek, mulai dari pengukuran bangunan, measured drawing, fotografi, sketsa arsitektur, videografi, kamera 360°, pemodelan tiga dimensi, hingga wawancara dan studi literatur.
Proses dokumentasi juga dilakukan secara berulang. Untuk measured drawing dan pemodelan tiga dimensi, misalnya, kunjungan lapangan dilakukan untuk mengukur bangunan dan kemudian memeriksa kembali hasil pengukuran tersebut. Pendekatan ini menunjukkan bahwa dokumentasi arsitektur membutuhkan ketelitian dan tidak sekadar menghasilkan gambar yang menarik. Hasil dokumentasi kemudian dikembangkan dalam bentuk database berbasis web. Informasi yang disajikan meliputi sejarah dan perkembangan masjid, kawasan dan tata massa, denah dan tata ruang, struktur dan konstruksi, bentuk dan tampilan, ragam hias, animasi 3D, hingga virtual tour.
Bagi mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi, bagian ini menjadi contoh bagaimana teknologi dapat digunakan untuk mendukung pelestarian budaya. Kamera 360°, pemodelan 3D, pengolahan data, dan media digital bukan hanya digunakan untuk menghasilkan produk visual, tetapi juga untuk menyimpan pengetahuan tentang bangunan yang terus mengalami perubahan.
Tiga Masjid, Tiga Perjalanan
Meskipun sama-sama memiliki hubungan erat dengan sejarah penyebaran Islam, ketiga masjid tersebut berkembang dengan karakter yang berbeda. Masjid Sunan Ampel sejak awal merupakan masjid yang melayani kegiatan ibadah dan syiar Islam dalam skala luas. Kawasan ini kemudian mengalami beberapa tahap perluasan. Sementara itu, Masjid Sunan Giri pada awalnya berukuran relatif kecil dan berada di sisi timur kawasan makam. Masjid tersebut melayani kebutuhan ibadah peziarah dan masyarakat setempat. Pada masa Sunan Giri, pusat kegiatan ibadah dan dakwah berada di Giri Kedaton. Kawasan masjid dan makam berkembang lebih jauh setelah Sunan Giri wafat dan dimakamkan di sana, seiring meningkatnya aktivitas peziarah dan interaksi dengan masyarakat. Adapun Masjid Sendang Duwur memiliki skala bangunan yang lebih kecil dibandingkan Sunan Ampel dan Sunan Giri. Perkembangannya lebih bersifat lokal dan menyesuaikan kebutuhan lingkungan.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan masjid bersejarah tidak mengikuti satu pola yang seragam. Faktor sejarah, budaya, kebutuhan masyarakat, kondisi tapak, ketersediaan lahan, dan biaya ikut menentukan perubahan arsitektur masing-masing masjid.

Gambar 1. Peta Kawasan Masjid Sunan Ampel

Gambar 2. Peta kawasan Masjid Sunan Giri Gresik

Gambar 3. Peta kawasan Masjid Sendang Duwur
Bentuk Tradisional yang Terus Beradaptasi
Dari kajian tipo-morfologi, penelitian menemukan sejumlah kesamaan karakter pada ketiga masjid. Arsitektur bangunan masih memperlihatkan ciri masjid tradisional Jawa, terutama melalui penggunaan atap tajug bertumpang dan struktur soko guru berbahan kayu. Orientasi bangunan juga berkaitan dengan arah kiblat.
Bentuk dasar masjid awal, umumnya berupa bujur sangkar. Namun, ketika kebutuhan ruang meningkat, bangunan mengalami perluasan. Bentuk akhirnya menjadi kombinasi beberapa ruang yang bertambah secara organik, tergantung pada kebutuhan, ketersediaan lahan, dan biaya. Masjid Sunan Ampel mengalami perluasan ke arah barat dan utara. Masjid Sunan Giri berkembang ke arah selatan, utara, dan timur, sedangkan Masjid Sendang Duwur mengalami perluasan ke arah selatan. Meskipun mengalami perubahan, elemen penting dari arsitektur awal tetap dipertahankan.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa bangunan bersejarah sebenarnya terus bernegosiasi dengan kebutuhan zaman. Ia tidak sepenuhnya mempertahankan masa lalu, tetapi juga tidak sepenuhnya meninggalkannya.
Membaca Sejarah Lewat Pengalaman Ruang
Penelitian ini juga melihat masjid melalui aspek spasialitas dan temporalitas. Bahasa sederhananya, peneliti tidak hanya bertanya “seperti apa bentuk bangunan?”, tetapi juga “bagaimana ruang tersebut dialami manusia?” dan “jejak waktu apa yang dapat dibaca dari ruang tersebut?”
Pada kawasan Masjid Sunan Ampel misalnya, terdapat perbedaan karakter aktivitas antara area sekitar masjid dan ruang yang dianggap lebih suci. Jalan di sekitar kawasan dipenuhi aktivitas
jual beli, makan, beristirahat, dan bersuci. Sementara itu, area makam Sunan Ampel dan ruang utama masjid menghadirkan suasana yang lebih khidmat dengan aktivitas seperti salat, berdoa, berdzikir, dan mengaji. Serambi menjadi ruang perantara. Di sana aktivitas ibadah dapat berlangsung bersamaan dengan aktivitas yang lebih santai, seperti duduk, mengobrol, menunggu, atau menjaga anak. Pengalaman ruang juga dipengaruhi oleh ukuran, proporsi, skala, posisi bukaan, dan intensitas cahaya alami. Ruang utama masjid awal, area perluasan utara, dan area perluasan barat menghadirkan pengalaman yang berbeda sekaligus menunjukkan lapisan pembangunan dari masa yang berbeda.
Sementara di kawasan Masjid Sunan Giri, pengalaman ruang dimulai bahkan sebelum seseorang memasuki masjid. Gerbang utama berada di puncak bukit dan dicapai melalui tangga panjang dari tepi jalan. Perjalanan menuju masjid menjadi bagian dari pengalaman arsitektur itu sendiri. Di kawasan Sendang Duwur, masjid menjadi dominan bukan karena ukurannya, tetapi karena posisinya yang berada di tempat lebih tinggi. Pengunjung harus melewati tiga rangkaian tangga untuk mencapainya. Kawasan masjid dan makam juga tidak dipisahkan dari permukiman sekitar dengan tembok masif sehingga bangunan masih dapat terlihat dari kejauhan.
Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa fungsi masjid mengalami perkembangan. Pada masa awal, masjid berfungsi sebagai tempat ibadah sekaligus pembelajaran agama. Setelah para wali wafat dan dimakamkan di kawasan tersebut, fungsi kawasan berkembang menjadi tempat ziarah. Namun, fungsi pendidikan tidak hilang. Masjid Sunan Ampel berkembang dengan lembaga pendidikan bahasa Arab dan dakwah, sedangkan Sunan Giri memiliki Taman Pendidikan Al-Qur’an, mini museum, dan perpustakaan.
Hal ini memperlihatkan bahwa masjid bersejarah bukanlah monumen yang berhenti berfungsi setelah masa pendirinya berakhir. Sebaliknya, bangunan terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat. Di sekitar kawasan juga tumbuh aktivitas perdagangan dan ekonomi. Pada satu sisi, perkembangan tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Namun, pada sisi lain, perkembangan yang cepat juga menghadirkan tantangan bagi pelestarian kawasan.
Dari Heritage Menjadi Living Heritage
Karena terus digunakan dan memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat, ketiga kawasan tersebut lebih tepat dipahami sebagai living heritage atau warisan budaya yang hidup. Nilai kawasan tidak hanya terletak pada bangunan dan benda fisiknya. Tradisi, aktivitas keagamaan, interaksi masyarakat, dan kegiatan ziarah ikut menjaga keberlanjutan makna kawasan.
Di Masjid Sunan Ampel terdapat Haul Agung Sunan Ampel. Di Masjid Sunan Giri terdapat Haul Kanjeng Sunan Giri. Sementara di Masjid Sendang Duwur berlangsung berbagai kegiatan seperti Ruwahan, ziarah, khataman Al-Qur’an, tahlil, istighotsah, dan kegiatan keagamaan lainnya. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa warisan budaya tidak hanya diwariskan melalui bangunan, tetapi juga melalui pengalaman dan praktik sosial masyarakat. Karena itu, pelestarian tidak dapat berarti menghentikan semua perubahan. Penelitian ini melihat pelestarian sebagai management of change, yaitu mengelola perubahan agar nilai penting kawasan tetap terjaga.
Teknologi untuk Menjaga Ingatan
Pada akhirnya, penelitian ini memperlihatkan bahwa teknologi dan pelestarian budaya dapat berjalan beriringan. Kita membayangkan, peneliti datang ke sebuah masjid bersejarah bukan hanya membawa kamera, tetapi juga perangkat untuk mengukur bangunan, membuat gambar terukur, mengambil dokumentasi 360°, hingga membangun model tiga dimensi. Bahkan, pengumpulan data tidak cukup dilakukan satu kali. Untuk measured drawing dan pemodelan tiga
dimensi, misalnya, diperlukan setidaknya dua kali kunjungan lapangan. Kunjungan pertama digunakan untuk melakukan pengukuran, sedangkan kunjungan berikutnya digunakan untuk memeriksa kembali hasil gambar dan pemodelan. Artinya, teknologi di sini bukan sekadar alat untuk menghasilkan gambar yang menarik. Teknologi juga dapat digunakan untuk merekam, memahami, dan menjaga sesuatu yang telah diwariskan dari masa lalu.
Lebih jauh, penelitian ini menunjukkan bahwa arsitektur tidak dapat dipisahkan dari manusia. Bentuk bangunan dipengaruhi kebutuhan, ruang dipengaruhi aktivitas, dan perubahan fisik berkaitan dengan perkembangan sosial dan budaya. Karena itu, ketika melihat sebuah masjid bersejarah, kita sebenarnya sedang melihat lebih dari sekadar bangunan. Kita sedang melihat lapisan waktu. Ada masa ketika masjid menjadi tempat dakwah dan pendidikan. Ada masa ketika kawasan berkembang menjadi tempat ziarah. Ada proses perluasan dan penyesuaian bangunan. Ada tradisi yang terus dipertahankan. Dan ada masyarakat yang sampai sekarang masih menjadikan kawasan tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka. Masjid-masjid bersejarah itu pada akhirnya bukan bangunan yang diam. Mereka terus hidup, berubah, dan bercerita. Dan dengan bantuan teknologi, cerita tersebut dapat direkam agar tidak hilang bersama berjalannya waktu.

Link Virtual Tour: https://sites.google.com/view/masjidbersejarahjatim/home?authuser=0











