{"id":14860,"date":"2026-09-23T08:36:57","date_gmt":"2026-09-23T01:36:57","guid":{"rendered":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/?p=14860"},"modified":"2026-09-23T08:36:58","modified_gmt":"2026-09-23T01:36:58","slug":"ketika-algoritma-membaca-pola-mendialogkan-pca-clustering-dengan-al-quran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/zh\/ketika-algoritma-membaca-pola-mendialogkan-pca-clustering-dengan-al-quran\/","title":{"rendered":"Ketika Algoritma Membaca Pola: Mendialogkan PCA-Clustering dengan Al-Qur\u2019an"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"14860\" class=\"elementor elementor-14860\" data-elementor-post-type=\"post\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-c39a5ed e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"c39a5ed\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-a5cb47c elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"a5cb47c\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p style=\"text-align: center;\">Oleh: Dr. Agung Teguh Wibowo Almais, M.T<\/p><p>\u00a0<\/p><p>Bisakah mesin \u201cmembaca\u201d keragaman sebagaimana manusia mengenali pola dan kelompok? Pertanyaan ini menjadi menarik ketika perkembangan <em>Artificial Intelligence <\/em>(AI) dan <em>data science<\/em> dipertemukan dengan salah satu gagasan yang banyak dijumpai dalam Al-Qur\u2019an: realitas tidak selalu hadir secara seragam. Ada perbedaan, keteraturan, kategori, dan kelompok.<\/p><p>Salah satu pendekatan yang menarik adalah <strong>PCA-<em>Clustering<\/em><\/strong>, sebagaimana dikembangkan dalam penelitian <em>Principal Component Analysis-Based Data Clustering for Labeling of Level Damage Sector in Post-Natural Disasters<\/em>. Penelitian tersebut menggunakan <em>Principal Component Analysis<\/em> (PCA) bukan hanya untuk mereduksi dimensi data, tetapi juga untuk membantu membentuk label pada data <em>unsupervised<\/em>.\u00a0<\/p><p>Penelitian tersebut mengolah 216 data kerusakan sektor pascabencana. Data memiliki lima kriteria yang kemudian dianalisis untuk menemukan pola dominan. Melalui PCA, data diproyeksikan ke dalam komponen utama, kemudian dikelompokkan berdasarkan distribusi koordinatnya. Hasilnya membentuk tiga kelompok yang berkaitan dengan kategori kerusakan ringan, sedang, dan berat.\u00a0<\/p><p>Secara sederhana, PCA-<em>Clustering<\/em> bergerak dari <strong>keragaman data, menemukan karakteristik dominan, mengenali kemiripan, membentuk kelompok, lalu memberikan label<\/strong>.<\/p><p>Menariknya, jauh dari dunia komputer dan algoritma, Al-Qur\u2019an juga menggunakan bahasa pengelompokan ketika menggambarkan manusia. QS Al-Waqi\u2019ah [56]:7 menyatakan:<\/p><p><strong>\u0648\u064e\u0643\u064f\u0646\u062a\u064f\u0645\u0652 \u0623\u064e\u0632\u0652\u0648\u064e\u0627\u062c\u064b\u0627 \u062b\u064e\u0644\u064e\u0627\u062b\u064e\u0629\u064b<\/strong><br \/><em>\u201c<\/em><em>Dan kamu menjadi tiga golongan<\/em><em>.\u201d<\/em><\/p><p>Ayat berikutnya menjelaskan tiga golongan manusia: <em>ash\u1e25\u0101b al-maimanah<\/em>, <em>ash\u1e25\u0101b al-masy\u2019amah<\/em>, dan <em>al-s\u0101biq\u016bn<\/em>.<\/p><p>Apakah ini berarti Al-Qur\u2019an sedang menjelaskan algoritma <em>clustering<\/em>? <strong>Tentu tidak sesederhana itu.<\/strong><\/p><p>PCA-<em>Clustering<\/em> bekerja dalam wilayah matematika dan komputasi. Sementara Al-Qur\u2019an berbicara mengenai manusia dan kehidupan dalam horizon teologis dan moral. Karena itu, ayat tersebut tidak tepat digunakan sebagai \u201cdalil\u201d bahwa PCA atau <em>clustering<\/em> telah dijelaskan Al-Qur\u2019an.<\/p><p>Namun, keduanya dapat <strong>didialogkan secara konseptual<\/strong>. Dalam <em>data science<\/em>, sekumpulan objek yang beragam dianalisis berdasarkan karakteristiknya untuk menemukan pola dan kelompok. Dalam Al-Qur\u2019an, pengelompokan hadir dalam berbagai konteks untuk menunjukkan adanya perbedaan karakteristik, keadaan, maupun konsekuensi.<\/p><p>Di sinilah integrasi Islam dan sains memperoleh ruang yang lebih produktif. Perguruan tinggi Islam tidak perlu memaksakan setiap algoritma agar memiliki padanan ayat. Yang lebih penting adalah membangun tradisi keilmuan yang mempertemukan <strong>ketelitian sains dengan kedalaman nilai<\/strong>.<\/p><p>PCA-<em>Clustering<\/em> bekerja dengan angka, koordinat, dan pola. Al-Qur\u2019an berbicara tentang manusia, kehidupan, dan makna. Keduanya tidak perlu dianggap sebagai hal yang sama. Namun, keduanya dapat ditempatkan dalam percakapan intelektual tentang bagaimana keragaman dikenali, pola ditemukan, dan pengetahuan digunakan.<\/p><p>Sebab, teknologi yang mampu menemukan pola belum tentu mampu menentukan makna. <strong>Manusialah yang harus memastikan bahwa pola yang ditemukan oleh mesin berakhir pada kemaslahatan.<\/strong><\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Dr. Agung Teguh Wibowo Almais, M.T \u00a0 Bisakah mesin \u201cmembaca\u201d keragaman sebagaimana manusia mengenali pola dan kelompok? Pertanyaan ini menjadi menarik ketika perkembangan Artificial Intelligence (AI) dan data science dipertemukan dengan salah satu gagasan yang banyak dijumpai dalam Al-Qur\u2019an: realitas tidak selalu hadir secara seragam. Ada perbedaan, keteraturan, kategori, dan kelompok. Salah satu pendekatan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":14861,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[71],"tags":[],"class_list":["post-14860","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14860","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14860"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14860\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14864,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14860\/revisions\/14864"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14861"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14860"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14860"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14860"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}