{"id":14164,"date":"2026-07-27T10:00:16","date_gmt":"2026-07-27T03:00:16","guid":{"rendered":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/?p=14164"},"modified":"2026-07-27T10:38:40","modified_gmt":"2026-07-27T03:38:40","slug":"rumah-yang-memberi-ruang-bagi-alam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/zh\/rumah-yang-memberi-ruang-bagi-alam\/","title":{"rendered":"Rumah yang Memberi Ruang bagi Alam"},"content":{"rendered":"<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"14164\" class=\"elementor elementor-14164\" data-elementor-post-type=\"post\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-b0a472d e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"b0a472d\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-afc4a81 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"afc4a81\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p style=\"text-align: center;\">Oleh: Prima Kurniawaty<\/p><p>Belakangan ini rasanya rumah-rumah di perkotaan semakin bergantung pada AC. Saya sendiri juga mengalaminya. Salah satu ruang di rumah menggunakan bukaan kaca yang cukup besar menghadap matahari dengan desain atap tanpa plafon. Ruangannya memang terasa lebih lega, tetapi ketika siang hari panasnya juga cukup terasa. Akhirnya, AC menjadi pertolongan cepat untuk menurunkan suhu.<\/p><p>Pengalaman tersebut membuat saya membuka kembali salah satu jurnal yang pernah saya tulis beberapa tahun lalu. Saya penasaran, apakah hasil penelitian saat itu masih relevan dengan kondisi sekarang.<\/p><p>Sepertinya, masih.<\/p><p>Dalam penelitian tersebut saya mengkaji konsep desain taman dan rumah tinggal hemat energi. Awalnya saya mengira bahwa desain bangunan menjadi faktor yang paling menentukan.<\/p><p>Namun hasilnya justru menunjukkan hal yang berbeda. Penataan tapak (<em>site design<\/em>) memberikan pengaruh yang lebih besar dibandingkan desain bangunan. Bahkan, vegetasi menjadi komponen yang paling dominan dalam mendukung konsep rumah hemat energi.<\/p><p>Membaca ulang hasil penelitian itu membuat saya berpikir bahwa selama ini perhatian kita sering tertuju pada bangunannya. Kita cukup akrab dengan istilah fasad, material, atau interior. Sementara halaman sering kali menjadi bagian yang dikerjakan belakangan, bahkan tidak jarang dihilangkan karena keterbatasan lahan.<\/p><p>Padahal, halaman bukan sekadar ruang sisa. Pohon peneduh, tanaman, arah datangnya matahari, dan sirkulasi angin ikut mempengaruhi kenyamanan sebuah rumah. Sebelum panas masuk ke dalam bangunan, lingkungan di sekitarnya sebenarnya sudah lebih dulu bekerja.<\/p><p>Belakangan ini kondisi tersebut terasa semakin relevan. Cuaca di kawasan perkotaan terasa semakin panas, sementara ruang hijau semakin berkurang. Di sisi lain, penggunaan AC<\/p><p>menjadi sesuatu yang hampir tidak bisa dipisahkan dari rumah tinggal. Saya sendiri tentu masih menggunakannya. Namun pengalaman tersebut membuat saya bertanya, apakah sejak awal rumah yang kita bangun sudah memberi kesempatan kepada alam untuk membantu menciptakan kenyamanan?<\/p><p>Saya juga teringat salah satu diskusi arsitek Indonesia, Yusing, yang mengajak kita melihat rumah bukan hanya sebagai bangunan, tetapi juga sebagai ruang hidup yang dibentuk oleh lingkungan di sekitarnya. Menurut saya, cara pandang ini menarik. Ketika mengingat rumah masa kecil, yang sering muncul dalam ingatan justru halaman, pohon peneduh, atau teras tempat berkumpul bersama keluarga.<\/p><p>Sebagai seorang muslim, saya juga meyakini bahwa menjaga keseimbangan alam merupakan bagian dari amanah manusia sebagai <em>khalifah fil ardh<\/em>. Nilai tersebut tidak selalu diwujudkan melalui hal-hal yang besar. Memberi ruang bagi pohon untuk tumbuh atau tetap mempertahankan area hijau di sekitar rumah juga merupakan bentuk ikhtiar untuk menjaga keseimbangan tersebut.<\/p><p>Tulisan ini tentu bukan untuk mengatakan bahwa semua rumah harus memiliki halaman yang luas atau tidak lagi menggunakan AC. Kondisi setiap rumah berbeda-beda. Saya sendiri pun masih belajar dari pengalaman di rumah.<\/p><p>Namun setidaknya, membuka kembali penelitian lama membuat saya kembali diingatkan bahwa halaman ternyata bukan sekadar pelengkap. Bisa jadi, kenyamanan sebuah rumah sudah mulai dibentuk bahkan sebelum kita melangkah masuk ke dalamnya.<\/p><p>\u00a0<\/p><p><strong>Artikel ini diadaptasi dari hasil penelitian:<\/strong><\/p><p>Kurniawaty, P., Gunawan, A., &amp; Surjokusumo, S. (2012). <em>Kajian Konsep Desain Taman dan<\/em><\/p><p><em>Rumah Tinggal Hemat Energi<\/em>. Jurnal Lanskap Indonesia, 4(1). Tautan jurnal: <a href=\"https:\/\/journal.ipb.ac.id\/jli\/article\/view\/5766\/4462\"><u>https:\/\/journal.ipb.ac.id\/jli\/article\/view\/5766\/4462 <\/u><\/a><\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Prima Kurniawaty Belakangan ini rasanya rumah-rumah di perkotaan semakin bergantung pada AC. Saya sendiri juga mengalaminya. Salah satu ruang di rumah menggunakan bukaan kaca yang cukup besar menghadap matahari dengan desain atap tanpa plafon. Ruangannya memang terasa lebih lega, tetapi ketika siang hari panasnya juga cukup terasa. Akhirnya, AC menjadi pertolongan cepat untuk menurunkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[71],"tags":[],"class_list":["post-14164","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14164","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14164"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14164\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14167,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14164\/revisions\/14167"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14164"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14164"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14164"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}