{"id":14291,"date":"2026-08-14T14:38:09","date_gmt":"2026-08-14T07:38:09","guid":{"rendered":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/?p=14291"},"modified":"2026-08-14T14:38:49","modified_gmt":"2026-08-14T07:38:49","slug":"renungan-jumat-26","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/renungan-jumat-26\/","title":{"rendered":"Renungan Jum&#8217;at"},"content":{"rendered":"<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"14291\" class=\"elementor elementor-14291\" data-elementor-post-type=\"post\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-df97d4f e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"df97d4f\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-0a961c3 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"0a961c3\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p style=\"text-align: center;\">Oleh: Agus Mulyono<\/p><p>Agustusan Bukan untuk Pejabat Pemerintah<\/p><p>Setiap bulan Agustus, ada pemandangan yang selalu membuat hati terasa hangat.<br \/>Masuk ke kampung, ada umbul-umbul merah putih berkibar. Masuk ke gang-gang perumahan, pagar rumah dihiasi pita merah putih. Ada bendera kecil dipasang berjajar. Ada gapura sederhana yang dicat ulang. Ada lampion merah putih. Ada anak-anak berlarian mempersiapkan lomba. Ada ibu-ibu sibuk menyiapkan konsumsi. Ada bapak-bapak yang sejak sore memasang lampu dan menghias jalan.<\/p><p>Kadang dekorasinya tidak rapi. Kadang catnya terlalu tebal. Kadang benderanya tidak sama ukuran. Tetapi justru di situlah keindahannya.<br \/>Sebab kemerdekaan memang tidak selalu harus dirayakan dengan sesuatu yang megah.<br \/>Kadang cukup dengan selembar bendera merah putih yang dipasang di depan rumah.<br \/>Cukup dengan umbul-umbul yang dibuat dari kain seadanya.<br \/>Cukup dengan anak-anak yang berlari membawa bendera kecil.<br \/>Dan cukup dengan hati yang masih mau mengingat bahwa kemerdekaan ini pernah diperjuangkan dengan darah dan air mata.<\/p><p>Masyarakat tetap begitu bersemangat merayakan Agustusan?<br \/>Padahal mereka tahu, pemerintah berganti. Pejabat berganti. Menteri berganti. Bupati berganti. Wali kota berganti. Presiden berganti.<br \/>Tetapi merah putih tetap dipasang.<\/p><p>Lomba makan kerupuk tetap ada. Balap karung tetap digelar. Panjat pinang tetap dilakukan.<br \/>Anak-anak tetap tertawa.<br \/>Bapak-bapak tetap berkumpul.<br \/>Ibu-ibu tetap sibuk menyiapkan makanan.<br \/>Seolah-olah masyarakat sedang mengatakan sesuatu yang sederhana, tetapi sebenarnya sangat dalam.<br \/>\u201cAgustusan ini bukan untuk pejabat pemerintah.\u201d<br \/>Agustusan ini untuk mengenang para pejuang. Para pejuang yang dahulu berjuang tanpa bertanya, nanti saya dapat apa?<br \/>Mereka berjuang tanpa menghitung berapa keuntungan yang akan diperoleh.<br \/>Mereka tidak bertanya, setelah Indonesia merdeka, saya akan menjadi apa?<\/p><p>Mereka hanya tahu satu hal: Indonesia harus merdeka.<br \/>Ada sesuatu yang menarik dari cara masyarakat mengenang kemerdekaan.<br \/>Mereka tidak selalu mengenang kemerdekaan dengan pidato panjang. Mereka mengenangnya dengan cara sederhana.<\/p><p>Memasang bendera. Membersihkan kampung. Menghias gang. Mengadakan lomba. Mengumpulkan anak-anak. Makan bersama. Tertawa bersama.<\/p><p>Disana Ada orang tua yang bercerita tentang zaman dahulu.<br \/>Tentang sulitnya hidup. Tentang perjuangan.<br \/>Tentang orang-orang yang pergi berperang dan tidak pernah kembali.<br \/>Tentang kemerdekaan yang ternyata tidak jatuh dari langit.<br \/>Kemerdekaan itu dibayar mahal. Dengan keringat. Dengan darah. Dengan kehilangan.<br \/>Dengan air mata.<\/p><p>Karena itu, ketika melihat bendera merah putih berkibar di gang sempit, sebenarnya kita sedang melihat sesuatu yang jauh lebih besar daripada selembar kain.<br \/>Kita sedang melihat ingatan. Ingatan kolektif sebuah bangsa.<br \/>Dan mungkin itulah sebabnya masyarakat tetap merayakan Agustusan meskipun kadang kecewa dengan perilaku sebagian pejabat.<\/p><p>Mereka kecewa dengan MBG, Kecewa dengan Koperasi Merah putih, Kecewa dengan kebijakan Vaksin, kecewa dg pejabat yg korupsi dll.<br \/>Mereka bisa kecewa kepada pemerintah, tetapi tidak kecewa kepada Indonesia.<br \/>Ini dua hal yang berbeda. Pemerintah adalah institusi. Pejabat adalah manusia.<br \/>Indonesia adalah rumah bersama.<\/p><p>Kalau ada pejabat yang mengecewakan, jangan sampai rasa kecewa kepada pejabat membuat kita kehilangan cinta kepada negeri.<br \/>Kalau ada pejabat yang hanya memikirkan dirinya sendiri, jangan sampai kita ikut menjadi orang yang hanya memikirkan diri sendiri.<br \/>Kalau ada yang lupa kepada rakyat, jangan sampai rakyat lupa kepada sejarah.<\/p><p>Sebab bangsa yang lupa sejarah biasanya mudah kehilangan arah.<br \/>Menurut Pak Kyai, mencintai negeri itu tidak harus selalu dengan kata-kata besar.<br \/>Kadang mencintai negeri adalah menjaga apa yang sudah diwariskan oleh para pendahulu.<br \/>Menjaga kerukunan. Menjaga kejujuran. Menjaga lingkungan. Menjaga tetangga.<br \/>Menolong orang yang kesusahan.<br \/>Dan tentu saja, menjaga agar kemerdekaan tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar terasa dalam kehidupan masyarakat.<\/p><p>Pak Kyai pernah mengatakan, jangan sampai kita menikmati hasil perjuangan orang lain, tetapi tidak pernah merasa punya kewajiban meneruskan perjuangannya.<br \/>Kalimat itu sederhana.<br \/>Tetapi kalau direnungkan, dalam sekali. Sebab perjuangan memang belum selesai.<br \/>Dulu para pejuang melawan penjajahan. Sekarang kita menghadapi bentuk penjajahan yang berbeda.<br \/>Kebodohan. Kemiskinan. Korupsi.<br \/>Keserakahan. Ketidakadilan. Kebencian. Dan egoisme.<\/p><p>Dulu musuhnya mungkin terlihat jelas. Sekarang musuh itu kadang justru bersembunyi di dalam diri kita sendiri.<br \/>Keinginan untuk mendapatkan lebih banyak.<br \/>Keinginan untuk berkuasa.<br \/>Keinginan untuk dihormati.<br \/>Keinginan untuk menang sendiri.<\/p><p>Karena itu, ketika masyarakat memasang merah putih di depan rumahnya, jangan anggap itu sekadar tradisi tahunan.<br \/>Di balik bendera itu ada pesan moral.<br \/>Bahwa negeri ini dibangun oleh orang-orang yang mau berkorban.<br \/>Maka jangan bangun negeri ini hanya untuk kepentingan diri sendiri.<\/p><p>Ironis memang.<br \/>Para pejuang dahulu rela kehilangan nyawa demi masa depan anak cucunya.<br \/>Sementara hari ini, ada orang yang justru menggunakan jabatan untuk memperkaya diri sendiri.<\/p><p>Dulu orang berjuang agar Indonesia menjadi milik bersama.<br \/>Sekarang masih ada yang berpikir Indonesia adalah milik kelompoknya.<\/p><p>Dulu perjuangan melawan penjajah. Sekarang kita kadang harus melawan keserakahan yang ada dalam diri sendiri.<\/p><p>Maka dg melihat semangat Agustusan di kampung-kampung.<br \/>di sana nasionalisme terasa lebih jujur. Tidak banyak baliho.<br \/>Tidak banyak slogan.<br \/>Tidak banyak kata-kata.<br \/>Hanya bendera. Umbul-umbul.<br \/>Anak-anak. Orang tua. Dan kebersamaan.<\/p><p>Mungkin itulah nasionalisme yang paling sederhana.<br \/>Semangat seperti itu yang dahulu dimiliki para pejuang?<br \/>Mereka memberi lebih dahulu.<br \/>Mereka berkorban lebih dahulu.<br \/>Mereka tidak menunggu menjadi pejabat untuk berbuat sesuatu bagi bangsa.<\/p><p>Karena itu, kalau bulan Agustus ini kita melihat gang-gang kecil penuh warna merah putih, maka ini bukan hal remeh.<br \/>Di balik gang sempit itu ada hati yang masih mencintai negeri.<br \/>Di balik lomba sederhana itu ada ingatan tentang perjuangan.<br \/>Di balik anak-anak yang tertawa ada harapan tentang masa depan.<br \/>Dan di balik bendera yang berkibar, ada pesan dari para pejuang yang seolah-olah sedang berkata:<br \/>\u201cJangan sia-siakan kemerdekaan yang kami perjuangkan.\u201d<\/p><p>Mungkin masyarakat tidak bisa mengubah perilaku semua pejabat.<br \/>Tetapi masyarakat masih bisa menjaga semangat Indonesia.<br \/>Masyarakat masih bisa mengajarkan anak-anaknya untuk mencintai negeri.<br \/>Masih bisa menjaga kampung tetap rukun.<br \/>Masih bisa saling membantu.<br \/>Masih bisa memasang merah putih.<br \/>Dan masih bisa berkata kepada anak-anaknya:<br \/>\u201cIni bukan sekadar bendera.\u201d<br \/>\u201cIni adalah sejarah.\u201d<br \/>\u201cIni adalah pengorbanan.\u201d<br \/>\u201cIni adalah darah dan air mata orang-orang sebelum kita.\u201d<\/p><p>Maka biarlah Agustusan tetap meriah. Biar gang-gang kecil tetap penuh umbul-umbul.<br \/>Biar anak-anak tetap bermain.<br \/>Biar bapak-bapak tetap berkumpul.<br \/>Biar ibu-ibu tetap sibuk dengan konsumsi.<br \/>Sebab mungkin, di tengah berbagai kekecewaan kita kepada keadaan, Agustusan mengingatkan kita bahwa masih ada sesuatu yang lebih besar daripada para pejabat.<br \/>Yaitu Indonesia.<\/p><p>Dan ada sesuatu yang lebih penting daripada kepentingan kita hari ini.<br \/>Yaitu menghormati mereka yang telah berjuang agar kita bisa hidup bebas hari ini.<br \/>Agustusan bukan untuk pejabat.<br \/>Agustusan adalah milik rakyat.<br \/>Dan lebih dari itu, Agustusan adalah cara sederhana kita berkata kepada para pejuang:<br \/>\u201cKami belum lupa.\u201d<br \/>Merah putih bukan sekadar warna.<br \/>Ia adalah ingatan.<br \/>Ia adalah penghormatan.<br \/>Dan mudah-mudahan, ia juga menjadi pengingat bagi kita semua:<br \/>kemerdekaan tidak diwariskan untuk dinikmati sendiri, tetapi untuk dijaga dan diteruskan bersama.<\/p><p>Wallahu a&#8217;lam<br \/>\ud83d\ude4f\ud83d\ude4f\ud83d\ude4f<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Agus Mulyono Agustusan Bukan untuk Pejabat Pemerintah Setiap bulan Agustus, ada pemandangan yang selalu membuat hati terasa hangat.Masuk ke kampung, ada umbul-umbul merah putih berkibar. Masuk ke gang-gang perumahan, pagar rumah dihiasi pita merah putih. Ada bendera kecil dipasang berjajar. Ada gapura sederhana yang dicat ulang. Ada lampion merah putih. Ada anak-anak berlarian mempersiapkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[71],"tags":[],"class_list":["post-14291","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14291","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14291"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14291\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14295,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14291\/revisions\/14295"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14291"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14291"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14291"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}